Sabtu, 22 Juni 2024
31 C
Surabaya
More
    OpiniTajukCorona Jatim Bahaya! Surabaya Zona Hitam

    Corona Jatim Bahaya! Surabaya Zona Hitam

    CORONA Jatim Bahaya! Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 mengumumkan bahwa Jatim sudah pada angka 4920, atau tinggal 80 kasus positif lagi, maka sudah menembus angka 5 ribu.

    Dan itu sudah menjadi runner-up kedua nasional, dengan catatan kemungkinan sangat kecil disalip/dilewati oleh Jabar maupun Sulsel (satu-satunya Provinsi luar Jawa yang sudah menembus kasus mencapai angka 1500 lebih.

    Bahkan keadaan ini, sangat membahayakan dan memerlukan perhatian khusus, mengingat Kota Pahlawan Surabaya sudah menjadi pesaing utama, bahkan mengungguli Jakarta (dengan catatan kasus jika Jakarta dengan (7485  – 2272 – 518) dibagi menjadi 5 kota dan Kepulauan Seribu, maka Jakarta Pusat, Utara, Barat, Selatan dan Timur plus Kepulauan Seribu) rata-rata mencapai angka sekitar 1.300).

    Itu artinya hanya separoh atau setengah dari kondisi kasus terkini di Surabaya dengan catatan mencapai 2.633 dengan pasien sembuh 240 dan kasus meninggal 246.

    Data hingga tanggal 1 Juni 2020 menunjukkan bahwa Kota Surabaya mendapat predikat Zona Hitam, karena dengan kasus positif, pasien sembuh, dan korban terkena Corona wafat/meninggal dengan catatan sangat fantastis (2.633 – 240 – 246) sudah melampui  Jabar dengan catatan kasus (2294 – 619 – 144), demikian juga Sulsel dengan sebaran di Kota Makasar sangat membahayakan, dengan catatan kasus (1.586 – 625 – 75), justru masih tertinggal jauh jika mau menandingi Kota Surabaya.

    Data sementara Jatim dengan catatan kasus (4920 – 699 – 418) jika dikurangi dengan data Kota Surabaya yang begitu sangat fantastis (2.633 – 240 – 246), maka 37 kabupaten/kota se Jatim termasuk Sidoarjo dan Gresik sebagai bagian dari wilayah PSBB Surabaya Raya, hanya mencatat kasus (2.187 – 453 – 172).

    Sebab Jatim tanpa data Kota Surabaya, hanya mencatat kasus (2.187 – 453 – 172). Itupun data sementara terakhir Kabupatan Sidoarjo (644 – 29 -58) dan Kabupaten Gresik (178 – 14 – 19), masih belum signifikan menjadi penyumbang data terbesar di Jatim. Apalagi data kota besar serta kota/Kab penyanggah ibu kota provinsi seperti; Depok, Bogor, Bekasi, Tangerang, Tangasl, Makasar, Semarang, Bandung, Medan, Denpasar, Palembang, Balikpapan, Banjarmasin, dan Samarinda, masih jauh tingkat bahaya penyebarannya.

    Bahkan Kota Surabaya secara mengejutkan telah melampoi jauh Provinsi Jateng (1717 – 370 – 70), Sumsel (995 – 215 – 34), Kalsel (948 – 99 – 96), dan Banten (867 – 252 – 69), sudah ditetapkan sebagai Zona Hitam atau dengan kata lain sangat membahayakan.

    Dengan begitu keadaan ini sangat membahayakan juga bagi Provinsi Jatim, mengingat Surabaya menjadi gerbang seluruh aktifitas di Jatim juga di belahan Indoensia Timur, baik melalui transprtasi darat, laut, maupun udara.

    Kota Surabaya adalah ibu kota Provinsi Jawa Timur, sekaligus kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta. Surabaya terletak 800 km sebelah timur Jakarta, atau 435 km sebelah barat laut Denpasar, Bali. Surabaya terletak di pantai utara Pulau Jawa bagian timur dan berhadapan dengan Selat Madura serta Laut Jawa.

    Surabaya memiliki luas sekitar ±326,81 km², dengan lebih dari 3 juta penduduk pada tahun 2018. Daerah metropolitan Surabaya yaitu Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, dan Lamongan), dimana daerah penyanggah di luar Surabaya sudah mencapai jumlah penduduk sekitar 10 juta jiwa, kawasan ini menjadi daerah metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jabodetabek.

    Surabaya dan wilayah Gerbangkertosusila dilayani oleh sebuah bandar udara, yakni Bandar Udara Internasional Juanda yang berada 20 km di sebelah selatan kota, serta dua pelabuhan, yakni Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Ujung.

    Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan Arek-Arek Suroboyo (Pemuda-pemuda Surabaya) dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari serangan penjajah.

    Surabaya juga sempat menjadi kota terbesar di Hindia Belanda dan menjadi pusat niaga di Nusantara yang sejajar dengan Hong Kong dan Shanghai pada masanya. Menurut Bappenas, Surabaya adalah salah satu dari empat pusat pertumbuhan utama di Indonesia, bersama dengan Medan, Jakarta, dan Makassar.

    Kondisi Kota Surabaya dengan serangan infeksi Corona mencapai data tertinggi kedua setelah Jakarta, dengan kasus sangat fantastis, maka keadaan ini sangat membahayakan, bahkan bisa terjadi lebih dahsyat lagi terhadap Surabaya dan Jatim.

    Hal itu jika Surabaya tidak terkendali dan terus mencatat angka kasus positif naik sangat signifikan, maka akan menjadi keadaan darurat di Surabaya. Dan itu berarti juga membahayakan Provinsi Jatim.

    Oleh karena itu, sepahit apapun kondisi Surabaya, maka harus segera dilakukan komunikasi lebih efektif antara Gubernur Khofifah Indar Parawansa beserta Forum Komuniksi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Jatim dengan Walikota Tri Rismaharini dengan Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya, dengan melakukan langkah-langkah strategis guna segera menyelesaikan masalah Corona, karena Jatim sudah masuk kondisi sangat bahaya!. Dan Surabaya tercatat sebagai kota Zona Hitam (lebih membahayakan bahkan lebih dahsyat) jika terus menerus tidak tertangani dengan profesional dan proporsional.

    Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jatim dan Kota Surabaya, wajib melakukan kerjasama dengan komunikasi lebih efektif, sekaligus melakukan penanganan skala prioritas, memeta Zona Hitam, Zona Merah, dan Zona Kuning, kemudian memberlakukan dalam kurun waktu 14 hari kerja sampai 30 hari kerja, upaya mencegah penyebaran Corona sekaligus meningkatkan pasien sembuh, juga melakukan memeriksakan secara massal sekaligus mengumumkan secara periodik setiap hari seluruh proses penanganan dan percepatan secara gotong royong melawan Corona.

    Data  Kasus “7 Besar Provinsi”.

    1. DKI Jakarta 7485 – 2272 – 518)
    2. Jatim (4920 – 699 – 418)
    3. Jabar (2294 – 619 – 144).
    4. Jateng (1717 – 370 – 70).
    5. Sumsel (995 – 215 – 34).
    6. Kalsel (948 – 99 – 96)
    7. Banten (867 – 252 – 69)

     

    Data  Kasus “7 Besar Provinsi”.

    1. DKI Jakarta 7485 – 2272 – 518)

    2.1 Kota Surabaya (2.633 – 240 – 246)

    2.2 Jatim (tanpa Surabaya) (2.187 – 453 – 172).

    1. Jabar (2294 – 619 – 144).
    2. Jateng (1717 – 370 – 70).
    3. Sumsel (995 – 215 – 34).
    4. Kalsel (948 – 99 – 96)
    5. Banten (867 – 252 – 69) (Djoko Tetuko)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan