Diburu Corona, Hari Buruh tanpa Demo

Diburu Corona, Hari Buruh tanpa Demo
Djoko Tetuko Abdul Latief

Hari ini tanggal 1 Mei 2020, seluruh dunia memperingati hari buruh internasional, dan dalam suasana virus Corona atau Covid-19 melanda hampir se antero dunia, maka baru kali ini dalam sejarah hari buruh se dunia, tanpa demo, tanpa tuntutan apa-apa, tanpa mengosongkan pabrik dan mengajak hampir seluruh buruh berdemo .

Hari ini tanggal 1 Mei 2020, seluruh dunia memperingati hari buruh internasional, dan dalam suasana virus Corona atau Covid-19 melanda hampir se antero dunia,  tidak ada yel-yel buruh internasional memohon perbaikan kesejahteraan buruh, memohon profesional pabrik, memohon menyesuaikan upah minimum buruh, permohonan tidak ada kekerasan terhadap buruh, permohonan tidak ada lagi perlakuan tidak adil pada buruh. Semua diam dan diam.

Hari ini tanggal 1 Mei 2020, seluruh dunia memperingati hari buruh internasional, dan dalam suasana virus Corona atau Covid-19 melanda hampir se antero dunia,  seluruh buruh tanpa demo bahkan diam di rumah, dan itu seluruh buruh se dunia baru kali pertama dalam 2 abad terakhir, tidak ada tuntutan apa-apa secara sporadis, tidak ada demo menuntut pemogokan massal, apalagi merusak fasilitas umum karena kebablasan. Hari ini ketika tradisi setiap memperingati dengan demo, bahkan kekerasan dan kadang sampai mogok makan menuntut secara politik ke pemerintah dan parlemen. Dan itulah catatan sejarah dunia hari buruh tahun ini, buruh tanpa demo.

Hari ini tanggal 1 Mei 2020, seluruh dunia memperingati hari buruh internasional, dan dalam suasana virus Corona atau Covid-19 melanda hampir se antero dunia,  baru dalam sejarah buruh tunduk merunduk patuh dan siap apa saja, baru dalam sejarah buruh se dunia hanya mampu berteriak dari rumah dan kamar masing-masing, tidak ada demo daring atau demo jarak jauh dengan digital, lokal maupun internasional. Semua diam dalam rumah, semua diam ketika pabrik juga tidak operasional. Ya akibat diburu Corona oh … Corona.

Hari ini tanggal 1 Mei 2020, seluruh dunia memperingati hari buruh internasional, dan dalam suasana virus Corona atau Covid-19 melanda hampir se antero dunia,  baru dalam sejarah buruh se dunia tidak mampu berbuat apa-apa, tidak mampu membela kepentingan buruh, kecuali hanya pasrah atau wafat karena Corona atau berhenti pekerja karena Corona, juga buruh dirumahkan atau dinonjobkan karena Corona.

Hari ini tanggal 1 Mei 2020, seluruh dunia memperingati hari buruh internasional, dan dalam suasana virus Corona atau Covid-19 melanda hampir se antero dunia,  buruh belum pernah dalam sejarah perjuangannya menyerah tanpa berbuat apa-apa. Menyerah walau harus menerima apa adanya. Menyerah dalam pasrah tanpa mampu meminta pejabat bersumpah.

Sekedar tahu, di Indonesia biasanya hari buruh 1 Mei, maka hampir seluruh Indonesia, bahkan setiap provinsi dan kabupaten atau kota yang jadi tempat pusat industri, semua bergerak rapat serempak kompak, membela dan memperjuangkan buruh. Baik politik maupun show of force, semua berjalan secara massal internasional.

Sekedar tahu, setiap peringatan hari buruh 1 Mei, maka seluruh dunia punya agenda perjuangan untuk buruh, punya perjuangan untuk upah buruh, punya perjuangan untuk kesejahteraan buruh. Hari ini ketika hari buruh bersama Hari Corona, semua pasrah dan menyerah. Bahkan tanpa demo sebagai tradisi lama.

Sekedar tahu bahwa Hari Buruh lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Tradisi mogok buruh pertama kali ketika kelas pekerja Amerika Serikat terjadi pada tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pada masa itu pekerja bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan “pengganggu ketenangan masyarakat”.

Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari “United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America”. Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.