Meskipun, Banyuwangi bukan lokus stunting di Jawa Timur, yang standardnya telah ditetapkan adalah 28 persen.
“Walaupun begitu, kita tetap harus waspada. Sebab di 2030 kita akan mendapatkan puncak bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding usia non produktif. Harapannya anak-anak yang berusia produktif pada saat itu adalah anak-anak yang sehat,” kata Juwana.
Juwana menyebutkan, kasus stunting biasanya ditemukan di daerah dataran tinggi. Di kawasan tersebut, biasanya konsumsi yodium, air yang tidak sehat, banyaknya zat-zat yang menghambat penyerapan gizi (blocking agent), dan konsumsi ikan laut tergolong rendah. Di mana kekurangan zat-zat tersebut mengakibatkan stunting.
“Karena itu kita banyak fokus ke kawasan dataran tinggi. Salah satunya dengan menggerakkan tukang sayur (wlijo) di daerah tersebut. Wlijo ini akan membantu distribusi ikan laut atau garam beryodium yang cukup bagi penduduk di kawasan yang rawan stunting,” kata Juwana.
Juwana lalu menjelaskan sejumlah upaya pencegahan yang dilakukan Dinas Kesehatan terkait stunting. Yakni, memastikan asupan nutrisi pada ibu hamil, saat bayi lahir dan disusui dan pemberian makanan tambahan hingga 1.000 hari pertama kehidupan bayi.(yin/jam)





