Lebih lanjut Doni menegaskan, karena tidak semua desa mempunyai alat peringatan dari alarm atau sirene, sehingga apabila ada kejadian gempa besar yang dirasakan oleh masyarakat (penduduk) sekitar 30 detik, maka kurang dari 3 menit tanpa harus menunggu ada peringatan dari alarm atau sirene, masyarakat harus segera meninggalkan daerah yang rendah menuju tempat yang lebih tinggi sekitar 30 meter.
“ Ajarkan pada masyarakat dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami, ketika merasakan ada getaran gempa besar berturut – turut selama 30 detik, maka dari waktu kurang 3 menit harus segera menuju ke tempat yang lebih aman dengan ketinggian 30 meter. Jadi sederhananya hanya mengingat angka 3 kita bisa meninggalkan bibir pantai sebelum tsunami terjadi.” Pungkas Doni.
Sebelum acara berakhir ada penyerahan secara simbolis Rompi Desa tangguh bencana dan bola ketangguhan kepada empat perwakilan kepala Desa, yaitu kepada Mubindin ( Desa Blimbingsari ), Joko Handoko ( Kelurahan Kertosari ), Joko Saptono ( Kelurahan Sobo ), dan Purwono ( Desa Sumberkencono ) dilanjutkan foto bersama dan ditutup dengan Doa.
Kepala Barkowil V Cahyo Widodo memberikan apresiasi terhadap BNPB serta gabungan komunitas relawan ekspedisi Destana 2019 se Jawa Timur atas partisipasinya.
“ Bahwa Banyuwangi merupakan tempat yang strategis untuk melaksanakan pembukaan Expedisi Destana Tsunami mengingat Banyuwangi adalah salah satu Kabupaten maju dan berkembang pesat yang masuk dalam kategori daerah rawan tsunami.” terangnya. (yin )





