Konsep Tourism Pulau Santen Banyuwangi Bukan Arabisasi

Konsep Tourism Pulau Santen Banyuwangi Bukan Arabisasi

Bramuda menerangkan, Pantai tersebut bertempat di tanah milik TNI AD, saat ini sedang ditata ulang bareng TNI AD.

Pengelolaannya ke depan akan tetap melibatkan pokmas setempat, dan menjadi pantai yang halal friendly tourism.

Sebelum sempat dikembangkan, Bramuda menambahkan, kawasan tersebut relatif kumuh. Akses jembatan menuju ke sana juga belum bagus.

Kemudian Pemkab Banyuwangi melakukan penataan, termasuk melatih kelompok masyarakat setempat. Kemudian perlahan mulai ramai dikunjungi orang.

“Tapi, sekali lagi, kita bicara mekanisme pasar. Bahwa kemudian sekarang pasar kurang meminati, itu adalah mekanisme pasar. Jadi sekali lagi, ini urusan segmentasi pasar, bukan soal ideologi yang dipelintir sampai akan melakukan arabisasi,” ujarnya.

Banyuwangi, sambung Bramuda, sebagai destinasi wisata selama ini dikenal dengan berbagai atraksi seni-budaya berbasis kearifan lokal khas Suku Osing yang merupakan kelompok masyarakat asli setempat. Dari 99 festival wisata setiap tahun di Banyuwangi, sekitar 75 persen mengangkat kebudayaan, mulai Tari Gandrung, ritual adat kebo-keboan, hingga ritual adat Tari Seblang, Barong Ider Bumi.

“Bahkan, setiap hari ada event budaya di alun-alun Banyuwangi yang dimainkan para seniman cilik sebagai peristiwa pariwisata sekaligus regenerasi para pelaku seni,” papar Bramuda. (jam)