Sejarah Blambangan

Sejarah Blambangan
Galintang di Gintangan

Dari keterangan itu dapat disimpulkan bahwa pada masa Prabu Tawangalun II itulah Balambangan mencapai zaman kemakmuran dan rakyat bisa hidup sejahtera, makan kenyang dan tidur nyenyak. Maka dapat diperkirakan saat itulah tokoh Sulung Agung melakukan babat hutan dan mendirikan desa Galintang/Gelintang/Gelinting(an).

Lalu, siapakah nama asli dari tokoh Sulung Agung?, Secara bahasa, Sulung berarti yang tua atau yang pertama (anak pertama/tertua) yang bermakna pengarep (pemuka/pemimpin. Dan kata Agung tentu adalah karakternya sebagai Pemimpin Besar. Dengan demikian, Sulung Agung tentu bukan nama asli melainkan julukan dari seorang pemimpin besar kala itu yang memerintahkan pembangunan desa di hutan tersebut (kemungkinan juga desa-desa lainnya).

Kita boleh saja menebak-nebak siapa nama asli tokoh tersebut, yang jelas keturunannya tetap menjadi pemuka desa di masa-masa selanjutnya. Terbukti 98 tahun kemudian, dari masa Sulung Agung 1674-1676 hingga ke masa Ki Mahisa Gethuk 1771-1774, pada masa terjadinya perang Bayu Ki Mahisa Gethuk juga berpihak pada Mas Rempeg Jagapati di Bayu.

Sebagai catatan, nama Mahisa atau Kebo atau Lembu menunjukkan bahwa dia masih trah bangsawan kerajaan, maka dapat dipastikan bahwa Mahisa Gethuk yang hidup sampai tahun 1774 masih keturunan (dua atau tiga generasi) dari tokoh Sulung Agung yang hidup sekitar tahun 1676.

Dari tulisan singkat ini, sementara kita dapat mengambil kesimpulan bahwa; pertama, Desa Gintangan berasal dari kata Galintang/Gelintang yang kemudian mendapat akhiran ‘an’ menjadi Galintangan dan berubah untuk memudahkan penyebutan menjadi Glintangan dan kemudian Gintangan.

Hal yang sama juga terjadi pada nama desa Pagambiran menjadi Gambiran, Gagenting menjadi Genteng, Mamelik menjadi Melik (di Srono), Caluring menjadi Cluring, atau Paparanan menjadi Perangan (di Kradenan).

Kedua, Desa Galintang (Gelintang) sudah ada 98 Tahun sebelum perang Bayu dan diperkirakan sudah ada sejak jaman keemasan kerajaan Balambangan tahun 1655-1691.

Desa Gintangan diperkirakan telah berdiri pada tahun 1655 bersamaaan dengan dibukanya Alas Sudimara menjadi desa Macanputih, atau pada tahun 1674-1676 saat Balambangan mencapai puncak kemakmurannya.

Ketiga, Pendiri desa Gintangan (Galintang/Gelintang) adalah tokoh bergelar Sulung Agung yang tidak diketahui nama aslinya. Dan keturunannya, Ki Mahesa Gethuk tetap berperan dalam perang membela kemerdekaan Kerajaan Balambangan di Bayu tahun 1771-1774.

Spirit menyejahterakan rakyat seperti Sulung Agung dan semangat menjaga kedaulatan negara seperti yang dilakukan Ki Mahisa Gethuk itulah merupakan karakter asli masyarakat Desa Gintangan (Galintang/Gelintang) dahulu dan akan terus menurun pada generasi sesudahnya hingga di masa yang akan datang.

Oleh : M Hidayat Aji Wirabhumi, pemerhati sejarah Blambangan.

Tulisan ini telah disepakati dalam ‘Sarasehan Sejarah, Adat, dan Cagar Budaya Desa Gintangan, pada 24 Agustus 2018.