Kesan Perwakilan Singapura saat Ikut Tampil Gambus dan Samar

Faiz Ba'Arfan dan Abdul Sattar San'ani : Sangat Cemburu

Kesan Perwakilan Singapura saat Ikut Tampil Gambus dan Samar
Faiz Ba'Arfan dan Abdul Sattar San'ani sama-sama baju putih saat tampil Samar

Surabaya, Wartatransparansi.com – Dua perwakilan Jamaah Singapura saat ikut tampil pada pergelaran “malam persahabatan” Nasional di Tretes Pasuruan, Jumat malam (26/3/2026) mengaku sangat cemburu, melihat persaudaraan, persatuan, dan persahabatan dalam suasana halal bihalal atau Idul Fitri.

“Terus terang saja melihat suasana persahabatan dalam acara Gambus dan Samar, generasi tua dan generasi muda bisa bergabung dalam satu arena, saya dan Satar, sangat cemburu. Luar biasa juga sangat mengesankan,” kata Faiz Ba’Arfan dan
Abdul Sattar San’ani, Minggu (28/3/2026) sebelum kembali ke Singapura.

Kesan sangat mendalam, lanjut Faiz, menyaksikan 100 lebih jamaah hadir dan saling meminta maaf juga sangat cemburu menyaksikan mereka bisa tampil satu arena di karpet dengan bebas dan saling bercengkerama,” ujarnya bersama Satar.

“Acara ini, ukhuwah erat antar jamaah di Indonesia,” kata Sattar. Ukhuwa erat berarti persaudaraan sejati yang sangat erat, sebagai jalinan ikatan hati, jiwa, dan akidah, baik sesama muslim maupun sesama manusia. “Ukhuwah erat berarti persaudaraan, solidaritas, pertemanan, dan ikatan persahabatan yang erat,” tandasnya.

Ajang Silaturrahmi

Menurut Faiz, kesan
silahturrahmi sangat kental dengan semua para hadir, bahkan jalinan persahabatan sangat tampak.

“Hal ini, mencerminkan nilai etika, adab, akhlak begitu diutamakan dan dihormati, dari pihak tuan rumah pak Riyadh Balahmar bersama Ayahanda Ami Umar Balahmar berserta kerabat terhadap para tamu yang diundang maupun yang hadir muncul sendiri tanpa undangan, demi hanya ingin melihat acara Samar Gambusan malam Hafla – Halal Bihalal,” kata Faiz dan Satar.

Seperti diketahui, lanjut Faiz dan Satar, bahwa Gambus dan Samar merupakan tradisi dan budaya Arabia di Hadramout yang dilestarikan dengan cukup baik berabad-abad lamanya, sedangkan yang asli datang dari negara asal Hadramout, hanya nenek moyang mereka saja yang sudah lama tidak ada. “Dan suasana seperti ini kurang sekali dapat terlihat di Singapura,” tandasnya.

Apalagi, katanya, semua berjalan tanpa mengurangi sedikit pun kewajiban beragama apabila tiba waktu ibadah sholat fardhu, bersama-sama melaksanakan sholat berjamaah.

Bahkan, menurut Faiz dan Satar, acara atau pertemuan persahabatan, yang jarang sekali dapat diadakan di negara Singapura kami. Di tempat yang begitu luas, ramah, tenang, rapi, alami, nyaman.

dll. *Acara pribadi atau keluarga* yang tidak mungkin dapat di adakan d secara begitu santai sekali – kalo di negara kami ini nilai acara begini tidak ada karena tdk mungkin mampu cuma satu keluarga adakan begini baik dan besar kalo bukan karena acara pesta nikahan sekala besar dan dengan biaya belanja yang fantastis karena biaya hidup mahal dan cost yang sangat tinggi di singapore.

Apalagi, kata Sattar, lokasi saperti di Tretes hanya seperti dalam mimpi, karena di Singapura tidak punya tempat, apalagi yang dimiliki pribadi saperti yang punya keluarga pak Riyadh Balahmar.

Selain itu, hidangan makanan Sate kambing, Sup, Kuah Marak, Kerengsengan dengan nasi yang sederhana tapi dengan nilai rasa dan kwalitas yang luar biasa menambah suasana semakin nikmat.

“Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mecurahkan Rahmat buat mereka yang menjaga Sirahtulrahmi dan Ukhwah bersama. Terima kasih yang sangat mendalam kami berdua ingin sampaikan kepada bapak Riyadh Umar Balahmar berserta keluarga beliau atas undangan dan kehormatan yang begitu tinggi buat kami dan para tamu,” kata Faiz dan Sattar. (*)

Penulis: Djoko Tetuko