Mengukur Takwa

Ramadhan 1447 H, 16 Maret 2026, hari ke 26

Mengukur Takwa
Djoko Tetuko Abdul Latief

Oleh Djoko Tetuko – Komisaris Utama Media Koran Transparansi

TUJUAN utama Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat Islam yang beriman berpuasa di bulan suci Ramadhan, sebagaimana diperintahkan kepada umat yang beriman (Agama Samawi) terdahulu, adalah usaha mencapai derajat takwa.

Agama Samawi (Agama Langit) adalah agama yang bersumber dari wahyu Tuhan yang diturunkan melalui malaikat kepada nabi atau rasul, ditandai dengan konsep tauhid (monoteisme mutlak) dan kitab suci yang otentik. Tiga agama utama dalam kategori ini adalah Yahudi, Kristen, dan Islam, yang semuanya mengajarkan keesaan Tuhan.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) pada Surat Al Baqarah 183;
ya ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumush-shiyamu kama kutiba ‘alalladzina ming qablikum la‘allakum tattaqun (artinya) Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Seperti diketahui Tafsir Wajiz dan Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa berpuasa adalah ikhtiar adalah upaya mendidik jiwa, mengendalikan syahwat, dan menyadarkan bahwa kelebihan manusia jika tidak dikendalikan melalui puasa dapat lebih berbahaya jiwa dan syahwatnya dibandingkan hewan, sehingga pendidikan menjauhkan larangan melalui puasa adalah jalan menuju derajat takwa.

Hari ini Senin (16 Maret 2026) berdasarkan perhitungan pemerintah melalui Menteri Agama, memasuki kewajiban puasa Ramadhan hari ke-26, berarti tinggal hitungan jari saja, bulan suci Ramadhan akan berpamitan kembali ke orbitnya. Dan harus sabar menunggu 12 bulan lagi ke depan, jika ingin bertemu lagi. Itu berarti berlomba-lomba ibadah wajib dan sunnah di bulan milik manusia (umat Nabi Muhammad SAW) dengan berbagai keunggulan akan segera berakhir.

Maka secara general mengukur apakah orang orang beriman, ketika berpuasa dan memanfaatkan berbagai amal ibadah wajib dan sunnah secara optimal atau maksimal atau biasa-biasa saja, apakah sudah mampu mencapai derajat takwa. Tentu saja dengan mudah jika bersama sama introspeksi dengan mengingatkan masing-masing kita, firman Allah SWT pada Surat Al Imran 133-134;

wa sari‘u ila maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘ardluhas-samawatu wal-ardlu u‘iddat lil-muttaqin (133; artinya)
Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

alladzina yunfiquna fis-sarra’i wadl-dlarra’i wal-kadhiminal-ghaidha wal-‘afina ‘anin-nas, wallahu yuhibbul-muhsinin
(134; artinya, yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Tafsir Wajiz dan Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa secara kasat mata selama bulan suci Ramadhan semua orang beriman berlomba lomba mengharapkan rahmat, ampunan, dan memohon dijauhkan dari api neraka. Sehingga perintah Surat Al Imran 133 sudah dilaksanakan, umat Islam yang diperintahkan berlomba meningkatkan kualitas ketakwaan, sudah melakukan berbagai aktifitas ibadah. Bahkan sudah bersegera dengan saling mendahului untuk mencari ampunan dari Allah SWT, dengan menyadari kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan mengerjakan amalan-amalan yang diridoi Allah untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.