Merawat Cinta

Ramadhan 1447/2026 M, hari ke 16

Merawat Cinta
Rubait Dasururi, SE., M.Si

Oleh : Rubait Dasururi, SE., M.Si – Dosen Univ. Darul Ulum Jombang

Kita sering merasakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat indah dan penuh cahaya. Masjid penuh guna melaksanakan ibadah solat wajib apalagi disaat solat tarawih. Majelis ilmu ramai dan terasa lembut dihati. Lisan mudah berdzikir dan Air mata mudah jatuh ketika mendengar ayat-ayat Allah.

Namun setelah Ramadhan berlalu, suasana itu perlahan berubah. Masjid mulai renggang. Majelis tak seramai dulu. Kesibukan dunia kembali menyita waktu dan perhatian kita. Tidak ada semangat kolektif yang mendorong kita untuk beribadah lebih, 

Padahal sesungguhnya, ukuran cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya bukan hanya terlihat di bulan Ramadhan. Justru yang paling berat adalah menjaga ruh Ramadhan itu di bulan-bulan biasa. Disinilah keikhlasan dan keistiqamahan kita diuji.

Apakah kita beribadah karena suasana?
Ataukah karena cinta?

Apakah kita mendatangi majelis ilmu hanya karena momentum Ramadhan?
Ataukah karena kita sadar bahwa hati ini selalu membutuhkan cahaya?

Dalam hal ini kita perlu merenungkan sabda Nabi  yang diriwayatkan dalam Lubabul Hadis:

مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا زَارَنِيْ وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا صَافَحَنِيْ وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا جَالَسَنِيْ فِي الدُّنْيَا وَمَنْ جَالَسَنِيْ فِي الدُّنْيَا اَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mengunjungi orang alim, maka seolah-olah dia mengunjungiku. Barang siapa bersalaman dengan orang alim, maka seolah-olah dia bersalaman denganku. Barang siapa duduk bersama orang alim, maka seolah-olah dia duduk bersamaku di dunia. Dan barang siapa yang duduk bersamaku di dunia, maka aku akan mendudukkannya bersamaku pada hari kiamat.”

Coba kita bayangkan.

Siapa di antara kita yang tidak rindu kepada Rasulullah ?
Siapa yang tidak ingin bertemu beliau?
Siapa yang tidak ingin duduk di dekat beliau di hari kiamat?

Namun kita sadar, kita hidup jauh dari zaman beliau. Kita tidak pernah melihat wajah beliau. Tidak pernah mendengar suara beliau secara langsung, akan tetapi kenapa kita bisa menaruh rasa cinta kepadanya?

Lalu bagaimana caranya agar kita tetap dekat dengan Nabi?

Hadis ini memberi jawaban yang sangat lembut:
Dekatilah orang-orang alim.

Karena ulama adalah pewaris para nabi. Mereka mewarisi ilmu, akhlak, dan perjuangan. Ketika kita duduk di majelis mereka, sesungguhnya kita sedang duduk di taman warisan kenabian.