Tradisi Tadarus al-Qur’an
Oleh : Dr. Abdul Roup, M.Ag.,– Dosen Universitas Darul Ulum -UNDAR- Jombang
Malam terawih pertama setiap bulan ramadhan, akan selalu diiringi dengan permulaan kegiatan ‘darus’ (bahasa jawa) atau tadarus al-Qur’an di setiap Musholla atau Masjid. Darus berasal dari bahasa Arab, yang sudah terserap ke dalam bahasa Jawa, yang berasal kata al-tadaarus, akar katanya berasal dari kata darasa-yadrusu- darsan yang berarti belajar (pelajaran) lalu ditambah huruf ta’ dan alif yang mempunyai makna saling (musyaarakah) menjadi tadaarasa-yatadaarasu-tadaarusan : saling belajar. Sehingga makda tadaarus al-Qur’an : saling belajar dan mengaji al-Qur’an.
Sebagaimana tradisi tadarus al-Qur’an yang dilakukan oleh masyarakat kita adalah, mereka berada di Musholla atau masjid, duduk membentuk segi empat, berhadapan-hadapan dengan memegang al-Qur’an yang diletakkan diatas dampar (meja belajar al-Qur’an atau mengaji kitab). Mereka membaca secara bergiliran, mendengarkan bacaan yang baik dan benar untuk ditiru, dan ketika ada yang salah tajwidnya, mereka saling mengingatkan.
Tadarus al-Qur’an pada bulan ramadhan adalan kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh jama’ah Musholla atau masjid, karena kegiatan ini merupakan kesempatan untuk mentashih dan membenarkan bacaan al-Qur’an mereka. Tadaarus al-Qur’an juga bisa bermakna belajar, mengkaji dan mendalami al-Qur’an untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya untuk memperbanyak jumlah khatam al-Qur’an dan fadhilahnya
Tadarus al-Qur’an Pada masa Rasulullah SAW
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh barokah, bulan diturunkannya al-Qur’an kepada nabi Muhammad saw melalui Malaikat Jibril di Gua Hira’
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Q.S. : Surah al-Baqarah [02] : 185.
Proses turunnya al-Qur’an melalui dua tahapan, yaitu turunnya al-Qur’an dari langit-langit dunia (al-sama’u al-Dunya) ke Baitul’Izzah dan proses yang kedua adalah turunya al-Qur’an dari Baitul’Izzah kepada Nabi Muhammad dengan perantara Malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun. Proses turunnya yang kedua membutuhkan waktu yang panjang, ayat yang diturunkan oleh Alloh swt tidak sekaligus satu surah atau juz sekaligus, namun berangsur-angsur dan sangat variatif, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Kanjeng Nabi Muhammaad saw dan umatnya.
Pada setiap bulan Ramadhan Kanjeng Nabi Muhammad SAW selalu bertadarus Al-Qur’an kepada malaikat Jibril. Beliau belajar tentang urutan surah, dan ayat dan berbagai hal yang berkaitan dengan al-Qur’an.
Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah SAW adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril AS menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah SAW orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus. (HR Bukhari)
Hikmah Tadaarus al-Qur’an
Dari peristiwa yang dialami Rasulullah dalam proses penerimaan wahyu yang pertama dari Allah swt, proses menjaga dan belajar bersama Malaikat Jibril, hingga sempurnanya al-Quran, kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran bahwa :
Belajar al-Quran membutuhkan waktu yang lama.
Nabi Muhammad saw membutuhkan 23 tahun untuk menerima al-Quran seperti yang kita baca saat ini. Jika kita ingin mengaji dan mengkaji al-Qur’an, maka membutuhkan yang waktu yang lama, karena mempelajari al-Qur’an tidak hanya sekedar membaca lafadznya, namun mengkaji ilmu bacaan al-Qur’an, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan pemahaman al-Quran, ilmu tafsir dan lainnya
Belajar al-Qur’an tidak mengenal usia tua.
Kanjeng Nabi Muhammad saw menerima wahyu yang pertama dari Alloh swt pada usia 40 tahun. Setelah menerima wahyu tersebut, beliau selalu belajar dan bersama malaikat Jibril di bulan Ramadhan hingga wafat pada usia 63 tahun. Jika ada seseorang yang ingin memulai belajar al-Qur’an, maka usia berapapun diperbolehkan dan diajak untuk semangat belajar mengajinya
Belajar al-Qur’an kepada guru al-Qur’an (yang mumpuni dibidang al-Quran) dengan tidak memandang status usia, ekonomi dan latar belakang sosial.
Nabi Muhammad belajar kepada Malaikat jibril pada setiap bulan Ramadhan. Jika kita melihat setatus penciptaan Malaikat dan Kanjeng nabi Muhammad saw, maka kedudukan nabi lebih mulia dari Malaikat, namun Kanjeng Nabi Muhammad saw tidak malu dan gengsi untuk selalu dan semangat belajar al-Qur’an (tadaarus al-Quran) bersamanya . (*)




