197 Buku Santri IBS PKMKK Raih Apresiasi Kemenag Jatim Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar
Surabaya, WartaTransparansi.com – Apresiasi yang disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar, terhadap para santri IBS PKMKK yang menghasilkan 197 judul buku ber-ISBN selama 4 tahun berdiri dan diserahkan langsung oleh Direktur Utama IBS PKMKK di lobi gedung utama lantai 1, bukan sekadar peristiwa seremonial kelembagaan. Peristiwa tersebut merupakan simbol pengakuan negara terhadap kebangkitan tradisi intelektual pesantren sebagai kekuatan peradaban yang hidup, dinamis, dan relevan dengan zaman.
Apresiasi dari otoritas negara memiliki makna yang melampaui penghargaan formal, ia membentuk legitimasi sosial terhadap sebuah praktik budaya, dalam hal ini budaya literasi pesantren. Legitimasi semacam ini penting karena masyarakat modern sering menilai keberhasilan pendidikan melalui indikator-indikator formal seperti publikasi, pengakuan akademik, dan kontribusi keilmuan. Ketika seorang pejabat negara memberikan apresiasi secara langsung di ruang publik lembaga pendidikan, maka yang terjadi bukan hanya pengakuan terhadap individu santri, tetapi juga penguatan posisi pesantren dalam peta ekosistem pendidikan nasional.
Penyerahan buku di lobi gedung utama lantai 1 memiliki dimensi simbolik yang menarik. Lobi merupakan ruang pertemuan antara dunia luar dan dunia dalam sebuah institusi, ia adalah ruang transisi, ruang publik sekaligus ruang representasi identitas. Ketika karya santri diserahkan di ruang tersebut, maka pesan simboliknya jelas, literasi santri bukan lagi aktivitas privat di ruang kelas atau kamar asrama, melainkan identitas publik lembaga yang ingin ditampilkan kepada dunia. Buku-buku tersebut menjadi wajah intelektual pesantren yang menyapa masyarakat luas.
Apresiasi yang diberikan juga mencerminkan pergeseran paradigma tentang santri. Secara historis, santri sering dipersepsikan sebagai penjaga tradisi keagamaan yang hidup dalam ruang-ruang terbatas. Namun dalam peristiwa ini, santri tampil sebagai produsen pengetahuan yang berkontribusi pada peradaban literasi. Mereka bukan hanya pembaca kitab, tetapi penulis buku, bukan hanya penerima ilmu, tetapi pencipta pengetahuan. Apresiasi negara menegaskan perubahan citra tersebut secara simbolik dan sosial.
Apresiasi terhadap karya santri memiliki dimensi yang lebih dalam. Dalam tradisi Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Aktivitas menulis bukan sekadar kerja intelektual, tetapi juga bentuk ibadah. Ketika seorang santri menulis buku, ia sedang menunaikan amanah keilmuan, menyampaikan pengetahuan agar dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Apresiasi terhadap karya tersebut berarti mengakui bahwa proses belajar, menulis, dan menyebarkan ilmu adalah bagian dari jalan pengabdian kepada Allah.
Penghargaan yang diberikan secara langsung oleh seorang pemimpin juga memiliki makna pedagogis. Dalam teori keteladanan sosial, pengakuan dari figur otoritas dapat membentuk motivasi kolektif yang kuat. Santri yang menyaksikan langsung apresiasi tersebut merasakan bahwa usaha intelektual mereka memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Pengalaman emosional ini membentuk memori kolektif yang akan mendorong generasi berikutnya untuk melanjutkan tradisi menulis.
Secara kultural, peristiwa ini menunjukkan bahwa pesantren sedang memasuki fase baru dalam sejarahnya, fase literasi produktif. Tradisi membaca kitab klasik tetap dipertahankan, tetapi kini dilengkapi dengan tradisi menulis buku kontemporer. Integrasi antara tradisi lama dan inovasi baru menciptakan identitas pesantren yang berakar sekaligus berkembang.
Apresiasi tersebut juga mengandung pesan tentang hubungan harmonis antara negara dan lembaga pendidikan keagamaan. Negara tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi juga sebagai mitra yang mengakui dan mendorong inovasi pendidikan berbasis nilai-nilai spiritual. Hubungan ini memperlihatkan bahwa pembangunan peradaban membutuhkan sinergi antara kebijakan publik dan gerakan kultural masyarakat.
Peristiwa apresiasi ini dapat dipahami sebagai pengakuan terhadap kekuatan kata-kata. Buku adalah simbol bahwa gagasan memiliki daya hidup yang panjang. Ketika negara menghargai buku karya santri, negara sedang menghargai masa depan. Ia mengakui bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh infrastruktur fisik, tetapi juga oleh infrastruktur intelektual dan spiritual.
Apresiasi tersebut menjadi penanda bahwa tradisi keilmuan pesantren tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dan diakui. Di lobi gedung utama itu, bukan hanya buku yang diserahkan, tetapi harapan, identitas, dan masa depan literasi pesantren yang diteguhkan. (*)





