SORE itu, Stadion Gelora Delta Sidoarjo tidak hanya menjadi saksi latihan biasa. Di pinggir lapangan, seorang pria berdiri dengan sorot mata tajam, sesekali memberi instruksi, lebih sering mengamati. Dialah Nurul Huda—sosok yang selama ini ada, tapi jarang menjadi pusat perhatian.
Namanya mungkin tak selalu disebut pertama. Namun, dalam perjalanan Deltras FC, ia adalah bagian yang tak pernah benar-benar hilang.
Lima musim bukan waktu yang singkat. Dalam dunia sepak bola yang serba cepat dan penuh perubahan, bertahan selama itu di satu klub adalah cerita langka. Tapi Huda melakukannya—tanpa banyak sorotan, tanpa gemerlap, hanya dengan kerja dan kesetiaan.
Ia bukan nama besar yang datang dengan reputasi mentereng. Ia adalah putra daerah, lahir dan besar di Desa Klagen, Sukodono, Sidoarjo. Tanah yang sama dengan klub yang kini ia pegang kendalinya.
Perjalanan itu tidak instan
Ketika Deltras masih berjuang di Liga 3, Huda sudah ada di sana. Bukan sebagai pelatih utama, melainkan asisten—posisi yang sering luput dari pujian. Ia bekerja di balik layar, menyusun latihan, mendampingi pemain, dan menjadi penghubung antara ruang ganti dan pelatih kepala.
Saat itu, bersama tim pelatih yang dipimpin M. Zein Alhadad, ia ikut merasakan bagaimana kerasnya perjuangan membawa Deltras kembali naik kasta. Promosi ke Liga 2 bukan sekadar pencapaian tim, tapi juga bagian dari perjalanan panjang yang ia bangun sedikit demi sedikit.
Dan sejak saat itu, ia tak pernah benar-benar pergi
Musim berganti, pelatih datang dan pergi. Huda tetap di sana. Ia pernah mendampingi Ibnu Grahan, lalu bekerja bersama Widodo Cahyono Putro. Ia belajar, menyerap, dan memahami banyak hal—bukan hanya soal taktik, tapi juga tentang bagaimana memimpin sebuah tim.
Kadang, perannya berubah. Pernah ia menjadi caretaker, menggantikan Bejo Sugiantoro dalam situasi sulit. Bukan posisi yang nyaman, tapi ia jalani tanpa banyak bicara.
Seolah, setiap musim adalah latihan panjang untuk sesuatu yang lebih besar.
Kesempatan itu akhirnya datang—di saat yang tidak mudah
Di tengah tekanan kompetisi Liga 2, manajemen Deltras mengambil keputusan besar. Widodo Cahyono Putro dilepas. Dan untuk pertama kalinya, Huda tidak lagi berdiri di belakang.
Ia maju ke depan
Statusnya memang masih caretaker. Tapi bagi tim, bagi pemain, dan mungkin juga bagi dirinya sendiri—ini lebih dari sekadar jabatan sementara. Ini adalah kepercayaan.
Dan kepercayaan itu tidak datang tiba-tiba.
Ia dibangun dari hari-hari panjang di lapangan latihan. Dari musim-musim tanpa sorotan. Dari kesediaan untuk tetap tinggal, ketika yang lain memilih pergi.
Kini, di enam pertandingan sisa musim ini, Huda memikul harapan besar. Tidak hanya untuk meraih hasil terbaik, tetapi juga untuk membuktikan bahwa kesetiaan dan kerja keras masih punya tempat dalam sepak bola modern.
Jauh sebelum berdiri di pinggir lapangan sebagai pelatih, Huda adalah seorang pemain. Ia pernah menjelajah berbagai klub—dari Persebaya Surabaya hingga PSIS Semarang, dari PSIM Yogyakarta hingga Persijap Jepara.
Lapangan demi lapangan telah ia lewati. Atmosfer stadion, tekanan pertandingan, hingga dinamika ruang ganti—semua telah menjadi bagian dari hidupnya.
Mungkin itu sebabnya, ia terlihat begitu tenang kini.
Ia tahu betul, sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah. Tapi tentang perjalanan. Tentang bagaimana seseorang bertahan, belajar, dan akhirnya menemukan tempatnya.
Karena bagi Huda, Deltras bukan sekadar klub. Ini adalah rumah.
Dan di rumah itulah, setelah lima musim panjang, ia akhirnya berdiri di garis depan—bukan lagi sebagai bayangan, tapi sebagai pemimpin.
Perjalanan mungkin belum selesai. Bahkan, mungkin ini baru permulaan.
Namun satu hal yang pasti, Nurul Huda tidak datang dari jauh. Ia tumbuh bersama Deltras. Dan kini, ia dipercaya untuk membawa mimpi itu melangkah lebih jauh. (*)





