JAKARTA, WartaTransparansi.com – Kementerian Agama (Kemenag) melepas 2.199 dai untuk bertugas di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) serta kawasan perbatasan di seluruh Indonesia selama Ramadan hingga Idulfitri 1447 H/2026 M.
Program ini bertujuan memperkuat kehidupan beragama sekaligus menjaga ketahanan sosial dan ideologi bangsa.
Pelepasan dilakukan secara hybrid dan dipusatkan di Jakarta, Senin (16/2/2026). Sejumlah pejabat hadir secara luring, di antaranya Sekretaris Ditjen Bimas Islam Lubenah, para Kepala Bidang Penerangan Agama Islam Kanwil Kemenag se-Indonesia, Asisten Deputi Infrastruktur Fisik BNPP Amrullah, pimpinan BAZNAS KH Ahmad Sudrajat beserta jajaran, Kepala BPJS Kanwil Sumbar, Riau, dan Kepri Hengki Rosyidin, pimpinan LAZ, serta ormas mitra dakwah.
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag RI, Muchlis M. Hanafi, menegaskan program Dai 3T merupakan kebijakan nasional dalam penguatan kehidupan beragama. Negara, kata dia, tidak hanya hadir melalui pembangunan fisik, tetapi juga pembinaan ruhani dan moral masyarakat.
“Wilayah 3T dan perbatasan adalah beranda depan bangsa. Di sana ketahanan ideologi dan nasionalisme diuji. Pengiriman dai menjadi bagian penting dalam menjaga NKRI dari sisi sosial-keagamaan serta mencegah radikalisme dan konflik sosial,” ujarnya.
Program yang telah berjalan lima tahun ini merupakan kerja kolektif Kemenag bersama BAZNAS, LAZ, dan ormas mitra. Para dai tidak hanya berdakwah, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial, penguat literasi Al-Qur’an, pendidik karakter, dan penjaga harmoni antarumat.
Selama 32 hari penugasan, para dai mendapat pendampingan, koordinasi dengan pemerintah daerah, serta dukungan logistik. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pembinaan keagamaan hingga ke wilayah terluar Indonesia melalui pendekatan moderat, inklusif, dan berkelanjutan. (*)





