“Ke depan, pengembangan tidak hanya bertumpu pada ASN sebagai pasar utama, tetapi juga menyasar masyarakat umum. Dari 17 subsektor ekonomi kreatif, empat yang paling menonjol di Surabaya adalah kuliner, fesyen, kriya, dan seni pertunjukan yang menjadi motor penggerak ekonomi kreatif daerah,” terangnya.
Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinkopumdag Surabaya, Tatik Lely Juwita, menyatakan bahwa kegiatan review ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya masukan, saran, dan kritik sebagai kunci agar program pendampingan tetap relevan dan tepat sasaran. Tujuan utama dari pendampingan tersebut adalah mendorong usaha mikro agar semakin mandiri dan memiliki daya saing.
“Selanjutnya untuk proses pendampingan UMKM mencakup aspek legalitas, kelembagaan usaha, sumber daya manusia, hingga pemasaran. Legalitas dibagi menjadi dua, yakni legalitas usaha berupa NIB dan legalitas produk yang meliputi sertifikat halal, pendaftaran merek, PIRT melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan, serta pendampingan izin edar produk. Pemkot tidak menerbitkan izin, tetapi memfasilitasi proses agar UMKM lebih mudah mengurusnya,” kata Tatik.
Sepanjang 2025, sekitar 4.409 UMKM difasilitasi memperoleh sertifikat halal dan 1.141 di antaranya telah memiliki sertifikat merek. Seluruh layanan ini diberikan secara gratis dan ditanggung Pemkot Surabaya. Setelah legalitas terpenuhi, pendampingan berlanjut pada diversifikasi produk, peningkatan kualitas, serta inovasi melalui pelatihan, konsultasi, dan pendampingan langsung.
Dinkopumdag juga memfasilitasi kemitraan dan pemasaran melalui toko UMKM Surabaya, hotel dan restoran, pemasaran daring lewat e-PEKEN, Surabaya Griya Galeri (SKG), serta berbagai event kolaborasi bersama BUMN, dan BUMD.
“Untuk 2026, ditargetkan 500 UMKM difasilitasi legalitas usaha, 10 dari 52 sentra wisata kuliner memperoleh pelatihan pemasaran, 136 UMKM mendapatkan akses kemitraan, serta peningkatan kapasitas pemasaran bagi 5.220 UMKM,” jelasnya.
Pendampingan juga diarahkan pada promosi melalui pameran lokal hingga nasional seperti Inacraft di Jakarta. Selain menjadi sarana penjualan, pameran menjadi media pembelajaran agar UMKM bisa membandingkan kualitas produk, kemasan, dan strategi pemasaran. Kolaborasi antarpelaku UMKM pun didorong, misalnya perajin batik Surabaya berkolaborasi dengan pengrajin bordir sehingga menghasilkan produk bernilai tambah.
“Dalam berbagai event kota hingga kunjungan kapal pesiar di Pelabuhan Tanjung Perak, UMKM selalu dilibatkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi daerah. Beberapa BUMN dan BUMD bahkan memfasilitasi sertifikasi halal gratis bagi UMKM binaannya,” terangnya.
Sementara itu, Program Manager Koso Nippon, Taki Kitada, menyampaikan bahwa kerja sama ini telah terjalin sejak lama. Enam tahun lalu, Surabaya menjadi salah satu daerah uji coba program review di Indonesia. Menurutnya, Surabaya sebagai kota besar dengan tantangan besar dapat menjadi benchmark bagi daerah lain jika program ini berhasil.
“Inisiatif pendampingan UMKM tahun ini sepenuhnya berasal dari Pemkot Surabaya, kami membantu proses review dan monitoring,” jelas Kitada.
Kitada menambahkan, Koso Nippon menjalin kerja sama dengan berbagai pemerintah daerah, Kementerian Dalam Negeri, serta melibatkan Bappenas. Dengan jangkauan yang luas, pihaknya terus mengoptimalkan sistem monitoring agar setiap hasil review dapat tetap terpantau dan ditindaklanjuti secara berkelanjutan.
“Surabaya memiliki banyak praktik baik yang bisa dibagikan ke Jepang, seperti kebijakan sekolah gratis, program permakanan, hingga digitalisasi layanan publik yang tergolong maju. Pengalaman Surabaya bisa menjadi referensi inovasi bagi pembuat kebijakan di Jepang,” tukasnya. (*)





