PMI, BPBD dan DFAT Australia Perkuat Renkon Banjir Bengawan Solo, Dorong Aksi Antisipatif di Jatim

PMI, BPBD dan DFAT Australia Perkuat Renkon Banjir Bengawan Solo, Dorong Aksi Antisipatif di Jatim
Ketua Bidang Penangulangan Bencana (PMI) Jawa Timur Edi Purwinarto

Program Manager DFAT Australia, Henry pirade menambahkan Jawa Timur menjadi salah satu dari empat provinsi prioritas selain Bali, NTT dan NTB. Sejak 2009, Australia dan Indonesia telah bekerja sama dalam penguatan sistem kebencanaan, termasuk dua program Siap Siaga yang dikelola Palladium dan PMI.

“Kami melihat pendekatan antisipatif ini strategis di tengah meningkatnya risiko hidrometeorologi akibat perubahan iklim. Ini tidak hanya menyelamatkan jiwa, tetapi juga mengurangi kerugian ekonomi,” ujarnya. DFAT juga menekankan pentingnya pendekatan inklusif dengan memastikan perempuan, anak, lansia dan penyandang disabilitas menjadi pusat perencanaan.

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Dadang Ichwandi, menjelaskan renkon Bengawan Solo terakhir disusun pada 2018 dan kini diperbarui. Lima kabupaten terdampak yakni Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan dan Gresik.

Renkon disusun berbasis skenario terburuk, asumsi dampak terpilah, pemetaan kebutuhan delapan klaster, serta ketersediaan sumber daya lintas lembaga. “Renkon adalah kesepakatan bersama agar saat tanggap darurat semua sudah tahu siapa berbuat apa,” tegasnya.

Melalui forum ini, seluruh pihak berkomitmen memperkuat sinergi agar dokumen renkon benar-benar menjadi rencana operasi yang siap dijalankan demi mewujudkan Jawa Timur yang semakin tangguh menghadapi bencana. (*)