Ia menyebut kondisi ini sebagai efek berganda atau multiplier effect yang kerap luput dari perhatian para pengkritik kebijakan.
Meski demikian, Mahbuba mengakui Program MBG tidak lepas dari berbagai kekurangan. Ia menyoroti persoalan kualitas gizi, variasi menu, serta kesesuaian antara anggaran dan standar sajian yang perlu mendapat perhatian serius.
Menurut dia, kekurangan tersebut seharusnya dijawab melalui pengawasan negara yang ketat dan transparan, bukan dengan menghentikan program. Ia menilai perbaikan tata kelola, pengawasan distribusi, dan pemenuhan standar gizi merupakan solusi yang lebih tepat.
“Menghentikan program hanya karena adanya kekurangan sama artinya mematikan peluang yang sedang tumbuh,” kata Mahbuba.
Ia menilai MBG berpotensi menjadi instrumen strategis yang menjembatani kebijakan sosial dan pembangunan ekonomi yang inklusif.
Mahbuba menegaskan Program MBG merupakan langkah yang tepat dan visioner. Program tersebut, menurut dia, tidak hanya menjawab persoalan gizi generasi muda, tetapi juga mempercepat perputaran ekonomi dan melahirkan pelaku usaha baru yang lebih mandiri.
“Yang dibutuhkan saat ini bukan penolakan, melainkan komitmen bersama untuk mengawal agar program ini berjalan jujur, efektif, dan benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat,” tutupnya.(*)





