Ke depan, Pemkot dan IDI akan kembali menggelar pertemuan untuk menyusun timeline program, termasuk pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di puskesmas dan puskesmas pembantu (pustu).
“Selama ini pustu umumnya hanya diisi bidan dan perawat. Dengan kerja sama ini, kami berharap kebutuhan dokter di pustu juga bisa terpenuhi, sehingga warga tidak ragu untuk berobat,” ungkapnya.
Selain itu, pemetaan klaster kesehatan di tingkat RW juga akan berdampak pada perencanaan anggaran. Wali Kota Eri menyebut, anggaran kesehatan setiap RW nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, lalu disinergikan menjadi anggaran kota.
“Setiap RW pasti berbeda kebutuhannya. Dengan pendekatan ini, anggaran tidak lagi bersifat umum, tetapi benar-benar berbasis kebutuhan nyata. Ini yang sejak lama saya impikan,” ujarnya.
Dia optimistis, melalui MoU ini derajat kesehatan warga Surabaya akan semakin meningkat, angka stunting serta angka kematian ibu dan anak dapat ditekan, dan usia harapan hidup masyarakat menjadi lebih panjang.
“Nanti setelah pertemuan penyusunan timeline program, beberapa RW juga akan ditetapkan sebagai percontohan mulai Mei 2026 sebelum program ini diterapkan secara menyeluruh di seluruh RW di Surabaya,” terangnya.
Sementara itu, Ketua IDI Cabang Surabaya dr. Muhammad Shoifi menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menilai, keterbukaan dan visi besar Wali Kota Eri menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Alhamdulillah, kami bersyukur memiliki pemimpin yang sangat terbuka dan memiliki visi jauh ke depan. Kami diajak berkolaborasi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Surabaya berbasis data dan sains,” ujarnya.
Ia menjelaskan, IDI Cabang Surabaya memiliki sekitar 7.600 anggota, mulai dari guru besar, dokter spesialis, hingga mahasiswa kedokteran. Potensi besar tersebut siap dikerahkan untuk mendukung program kesehatan Pemkot Surabaya secara terstruktur dan berkelanjutan.
“Mulai dari identifikasi masalah kesehatan, analisis solusi, intervensi bersama seluruh pemangku kepentingan, hingga evaluasi, semuanya dilakukan berbasis data dan sains sampai ke tingkat RW. Kami yakin hasilnya akan sangat baik bagi kesehatan masyarakat Surabaya,” pungkasnya. (*)





