Curah Hujan Deras jadi Momok Surabaya, Masih Ada 250 Titik Rawan Banjir

Curah Hujan Deras jadi Momok Surabaya, Masih Ada 250 Titik Rawan Banjir
Curah hujan dengan intensitas yang tinggi, menjadi momok tersendiri bagi Kota Surabaya. Saat hujan deras seperti yang terjadi pada Minggu (5/1/2026) sore hingga malam, sejumlah kawasan menjadi banjir.

SURABAYA (Wartatransparansi.com) – Curah hujan dengan intensitas yang tinggi, menjadi momok tersendiri bagi Kota Surabaya. Saat hujan deras seperti yang terjadi pada Minggu (5/1/2026) sore hingga malam, sejumlah kawasan menjadi banjir. Endingnya, sejumlah titik rawan banjir langsung menjadi prioritas penanganan oleh Pemkot, dan sekaligus masuk dalam rencana penanganan bertahap sepanjang tahun 2026.

Wali Kota Eri mengatakan, bahwa banjir di kawasan Simo merupakan persoalan menahun yang membutuhkan penanganan menyeluruh. Dia mengakui, wilayah Simo Kalangan dan Simo Hilir selama bertahun-tahun memang belum tersentuh penanganan komprehensif.

Untuk itu, langkah darurat dilakukan saat ini, yakni dengan mengerahkan kendaraan berkemampuan khusus untuk penyedotan genangan milik Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP), didukung armada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya.

“Banjir di kawasan Simo ini memang sudah lama terjadi. Untuk sementara masih kita tangani dengan mobil pompa PMK dan penanganan Simo Kalangan baru akan kita mulai secara bertahap pada tahun 2026,” jelas Wali Kota Eri, Senin (5/1/2026).

Sementara itu, genangan di Jalan Mayjen Sungkono, kata Eri, hanya berada di satu sisi jalan, tepatnya di sisi selatan atau sisi sungai. Kondisi tersebut terjadi karena pintu air sengaja ditutup menyusul curah hujan yang sangat deras. Aliran air yang terlalu kuat menyebabkan saluran lama di kawasan Pakis, khususnya Pakis 1B, ambrol.

“Kalau pintu air tidak kita tutup, wilayah Pakis bisa tenggelam. Maka kita alihkan sementara genangan ke badan jalan di Mayjen Sungkono, itu pun hanya satu sisi. Sisi lainnya aman, dan ketika hujan reda, air cepat surut,” alasan dia.

Dia menambahkan, langkah penutupan pintu air tersebut merupakan upaya darurat agar kawasan permukiman tidak terdampak lebih parah.

Saat hujan ekstrem di wilayah barat Surabaya, masih kata Eri, aliran air yang sangat deras juga menyebabkan plengsengan lama di kawasan Pakis jebol dan tidak mampu menahan debit air.

“Kerena itu, Pemkot Surabaya merencanakan pembangunan rumah pompa baru yang mengalirkan air ke arah Gunungsari dan Ronggolawe, dengan penganggaran pada tahun 2026,” tuturnya.

Berdasarkan informasi dari BMKG, fenomena siklon tropis turut memengaruhi Surabaya sehingga intensitas hujan menjadi jauh lebih tinggi dari biasanya. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.

“Ke depan, Pemkot Surabaya memfokuskan penanganan banjir tahun 2026 di sejumlah kawasan, antara lain Simo Kalangan, Simo Hilir, Simo Rejo A, Simo Rejo 1A dan 1B, serta Tanjungsari,” imbuhnya.

Ia mencontohkan, penanganan banjir di kawasan Simo Kalangan memerlukan waktu panjang karena sifatnya menahun, serupa dengan kondisi yang dulu terjadi di Dukuh Kupang dan kini sudah berhasil ditangani.

Editor: Wetly