Seminar Lingkungan Hidup di Kediri Dorong Santri Jadi Garda Depan Pelestarian Alam
Seminar ini menjadi ruang edukasi strategis bagi generasi muda pesantren untuk memahami tantangan lingkungan hidup yang kian nyata, mulai dari persoalan sampah, perubahan iklim, hingga ketahanan pangan.
Kegiatan tersebut sekaligus mendorong peran santri sebagai garda depan pelestarian alam berbasis nilai keagamaan dan kearifan lokal.
Ketua DPD LDII Kota Kediri, Agung Riyanto, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab religius. Menurutnya, kerusakan lingkungan berpotensi memicu berbagai bencana alam jika tidak diantisipasi sejak dini.
Agung berharap para santri dapat menjadi teladan di tengah masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ia menilai pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga peduli terhadap keberlanjutan alam.
Seminar lingkungan hidup ini diikuti sekitar 400 hingga 500 santri. Melalui kegiatan tersebut, LDII Kota Kediri menargetkan terbentuknya karakter santri yang berwawasan lingkungan sekaligus mendorong kemandirian pesantren melalui pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Program ini juga sejalan dengan 8 Klaster Pengabdian LDII untuk Bangsa, khususnya pada sektor lingkungan hidup dan ketahanan pangan.
Untuk memperkuat substansi materi, LDII menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri. Kolaborasi ini bertujuan memberikan pembekalan teknis terkait konsep Eco-Pesantren dan Program Kampung Iklim (Proklim).
"Jika lingkungan dijaga dengan baik, tentunya lingkungan juga akan menjaga kita. Jika manusia merusak lingkungan, maka hukum alam yang akan bicara," katanya.
Sementara itu, Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah Kota Kediri, KH Sunarto, menegaskan komitmen pesantren dalam mendukung penuh program strategis LDII, terutama di bidang lingkungan hidup dan ketahanan pangan.
“Kami bersyukur dapat memfasilitasi kegiatan Musda VII ini. Antara kami (pesantren) dengan DPD LDII adalah satu kesatuan yang mempunyai visi misi yang sama untuk saling memperkuat,” ujar KH Sunarto.
Ia menyebut keberhasilan Pondok Pesantren Wali Barokah dalam meraih berbagai prestasi lingkungan tidak terlepas dari pembinaan berkelanjutan yang dilakukan oleh DPP LDII. Menurutnya, pembinaan tersebut mendorong perubahan pola pikir pengelolaan pesantren menjadi lebih modern dan ramah lingkungan.
“Prestasi ini adalah hasil kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga internal kami. Dukungan terbesar adalah pembinaan langsung dari DPP LDII yang memfasilitasi kami untuk merubah mindset pengelolaan pondok,” tambahnya.
Ke depan, pihak pesantren berencana memperluas program lingkungan melalui pengembangan Program Kampung Iklim (Proklim) yang menyasar masyarakat di sekitar pondok. Program ini akan dikolaborasikan dengan perangkat kelurahan serta RT dan RW setempat sebagai ujung tombak pelaksanaan di lapangan.
Dari sisi pemerintah, DLHKP Kota Kediri menyambut baik langkah pesantren dalam mengembangkan konsep pesantren ramah lingkungan. Pengawas Lingkungan Hidup Ahli Muda DLHKP, Ridwan Salimin, mengatakan pihaknya memberikan materi terkait Eco-Pesantren dan Proklim untuk memperkuat peran pesantren dalam mitigasi perubahan iklim.
“Kami dari Dinas Lingkungan Hidup memberikan materi terkait masalah Eco-Pesantren dan mungkin terkait masalah Proklim,” ujar Ridwan.
Ia mengungkapkan bahwa Pondok Pesantren Wali Barokah telah menerima penghargaan Eco-Pesantren Pratama dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi. Ke depan, pemerintah mendorong pesantren tersebut untuk meningkatkan status ke tingkat Eco-Pesantren Madya.
Sementara itu, pendamping program dari Fakultas Kehutanan UGM, Atus Syahbudin, menilai keberhasilan program lingkungan di pesantren tidak lepas dari peran sentral kiai dan santri.
Ia berharap keberhasilan Pondok Pesantren Wali Barokah dapat menjadi contoh bagi pesantren lain di Indonesia dalam mengintegrasikan dakwah dengan aksi nyata pelestarian lingkungan.
“Di luar sana, keterlibatan tokoh agama mungkin dianggap biasa. Namun dalam konteks Eko-Pesantren, Kiai dan Santri adalah tiang yang sangat kuat untuk kesuksesan program ini,” kata Atus.(*)
Posting Komentar untuk "Seminar Lingkungan Hidup di Kediri Dorong Santri Jadi Garda Depan Pelestarian Alam"