Sabtu, 15 Juni 2024
29 C
Surabaya
More
    OpiniRefleksi Harkitnas 2024 Kebangkitan Berbudi Luhur

    Refleksi Harkitnas 2024 Kebangkitan Berbudi Luhur

    Tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, juga dikenal dengan Harkitnas. Peringatan Harkitnas setiap tanggal 20 Mei, bertepatan dengan lahirnya Organisasi Boedi Oetomo yang berdiri pada tahun 1908.

    Harkitnas baru ditetapkan Presiden Soekarno pada tahun 1948, tiga tahun setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

    Sang proklamator Bung Karno menetapan Hari Kebangkitan Nasional dengan harapan menjadi pemantik bangsa Indonesia untuk terus menerus menjalin persatuan dan kesatuan anak bangsa dalam berbangsa dan bernegara.

    Momentum menetapkan Harkitnas pada awal kemerdekaan, dengan sejumlah negara Sekutu dan Balanda, masih (belum rela Indonesia merdeka), Bung Karno menilai berdirinya organisasi Boedi Oetomo sebagai awal dari kebangkitan bangsa Indonesia melawan para penjajah, dan terus teguh kokoh menjaga kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Sehingga Harkitnas dijadikan moment untuk merajut semangat perjuangan menuju cita cita mulia sebagai pada pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

    Bahwa
    sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

    Dan
    perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

    Atas
    berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

    Kemudian
    dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat dengan berdasarkan kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Jika Harkitnas tahun ini, menguatkan menuju “Indonesia Emas” pada 2045, maka tidak berlebihan maka bangsa Indonesia, harus dengan tulus ikhlas memantik kebangkitan dengan memfokuskan pada “Kebangkitan Menguatkan Berbudi Luhur”. Mengingat bahwa dengan berbagai semboyan menjaga NKRI dan bebas KKN ternyata, kasus korupsi semakin menggila, kasus nepotisme semakin merajalela, kasus kolusi semakin menjadi jadi. Bahkan sudah mengkhianati kolusi dengan negara asing untuk kembali memberi peluang “menjajah” bumi Ibu Pertiwi.

    Sekedar mengingatkan bahwa organisasi Boedi Oetomo, walaupun bersifat kedaerahan, tetapi untuk kemaslahatan bangsa dan negara Indonesia. Dengan berbagai sentuhan bekal menjaga marwah anak bangsa dengan pendidikan dan moral.

    Pada awal berdirinya, organisasi Boedi Oetomo yang digagas oleh Wahidin Soedirohoesodo ini hanya bergerak pada bidang sosial dan budaya. Sejumlah sekolah bernama Boedi Oetomo didirikan untuk memajukan kebudayaan Jawa. Anggota Boedi Oetomo pun terdiri atas kalangan yang berasal dari suku Jawa dan Madura.

    Organisasi ini mulai bergerak di bidang politik pada tahun 1915. Hal ini dipicu oleh Perang Dunia I. Pada tahun 1920, organisasi Boedi Oetomo mulai menerima anggota dari kalangan masyarakat biasa. Hal ini menandakan organisasi Boedi Oetomo telah menjadi organisasi pergerakan rakyat. Organisasi Boedi Oetomo pun mulai membuka keanggotaannya untuk seluruh rakyat Indonesia pada tahun 1930.
    Dalam perjalanannya, organisasi Boedi Oetomo memiliki tujuan nasionalisme yaitu mendorong kemerdekaan Indonesia.

    Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat atas berbagai keberhasilan dalam pembangunan maupun peningkatan kualitas dan mutu penataan ekonomi, baik mikro maupun makro. Bahkan dalam skala besar dalam perdagangan internasional. Tetapi jauh lebih bermartabat dalam menjaga bangsa dan negara semua “Berbudi Luhur”, jika Harkitnas memantik kebangkitan seluruh anak bangsa, melawan kembali benih benih penjajahan dengan mendompleng investasi atau bentuk lain dengan cara kolusi para pejabat negara.

    Inilah momentum kebangkitan anak bangsa (sebelum terlambat), agar kebangkitan nasional fokus pada “Kebangkitan Berbudi Luhur”.

    Salah satu perintis kemerdekaan dengan pendidikan dan pengajaran mengedepankan Budi luhur ialah
    Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Pejuang ini lahir di Winongo, Kota Madiun, Jawa Timur, Tahun 1883 Masehi dan meninggal pada 13 April 1952 pada usia 69 Tahun. Dimakamkan dengan predikat sebagai pahlawan nasional di Desa Pilangbango Madiun.

    Hardjo Oetomo adalah salah satu Pahlawan Perintis Kemerdekaan RI dari Madiun, Jawa Timur. Ketika berjuang dalam perintisan kemerdekaan RI, ia bergabung dengan Organisasi Boedi Oetomo, Syarekat Islam, dan Taman Siswa. Selain begabung dengan organisasi tersebut, Ki Hadjar Hardjo Oetomo juga mendirikan organisasi pencak silat SH Pemuda Sport Club (SH-PSC) yang kemudian menjelma menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate. Di bidang ekonomi untuk membantu masyarakat lepas dari penindasan ‘lintah darat’, ia mendirikan perkumpulan Harta Djaja semacam koperasi sekarang.

    Berbudi luhur populer dimaknai sebagai menyiratkan keunggulan moral dalam perilaku. Menunjung tinggi kebenaran atau benar dengan menjauhkan dari berbuat salah (penyelewengan, penyimpangan, pungli, korupsi, atau kesengajaan merugikan bangsa dan negara). Sebagai cerminan sikap menjaga marwah dengan bebas dari berbagai upaya kriminal atau kejahatan.

    Sebagaimana sebagai penguatan dalam
    berbudi pekerti yang luhur (baik). Dimana dicerminkan dengan tingkah laku yang didasari oleh niat, kehendak, pikiran yang baik dan dilakukan dengan cara yang baik pula.

    Ki Hadjar Hardjo Oetomo pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate, mengajarkan dalam pondasi
    organisasi persaudaraan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga persaudaraan dan saling menghormati serta bisa mengamalkan pendidikan Budi luhur, dengan menjaga dan mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat juga beragama dengan jujur, ikhlas, adil, saling membantu guna mewujudkan kehidupan sejahtera, dan menjaga mertabat negara guna menuju kehidupan makmur berkadilan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Hal itu sebagai kuatkan dalam mars PSHT begitu sederhana dan menyentuh,

    “Setia Hati Terate Pembina Persaudaraan

    Semboyan Kami Bersama Bersatu Teguh Jaya

    Mengabdi Nusa dan Bangsa Dengan Tulus Ikhlas

    Menjunjung Tinggi Pancasila Demi Indonesia Raya

    Jayalah Setia Hati Terate Sepanjanglah Masa

    Jayalah Setia Hati Terate Sepanjanglah Masa”.

    Ki Hadjar Hardjo Oetomo meletakkan dasar organisasi persaudaraan sebagai simbol menjaga martabat anak bangsa dengan mengajar berbagai penguatan sikap “Berbudi Luhur”, menjunjung tinggi Pancasila dan mengabdi nusa bangsa dengan tulus ikhlas.

    Kebangkitan Indonesia ke depan menuju “Indonesia Emas” membutuhkan anak bangsa dengan tulus ikhlas mengabdi kepada pemerintahan dan negara. Tentu saja bukan mengebiri anak bangsa.

    Mengabdi berarti sejengkal tanah dan setetes sumber daya alam di Negara Kesatuan Republik Indonesia, harus diperjuangkan untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Bukan disalahgunakan untuk menumpuk kekayaan dan memperkuat kekuasaan, guna menyengsarakan anak bangsa dan menjadikan warga negara Indonesia (pribumi) semakin terpuruk hidup di negeri sendiri. PSHT sebagai persaudaraan melanjutkan perjuangan Pahlawan Perintis Kemerdekaan terus menggaungkan sepanjang masa. Semoga memantik persaudaraan nasional untuk bangkit lebih baik dengan Berbudi Luhur (*)

    Penulis : Djoko Tetuko (Dirut Media Koran Transparansi

    COPYRIGHT © 2024 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan