Opini  

Gegap Gempita Piala Dunia U-17 dan Piala Soeratin

Gegap Gempita Piala Dunia U-17 dan Piala Soeratin

Oleh Syarifuddin – Wartawan Wartatransparansi.com

Belum genap 10 hari perhelatan akbar Piala Dunia U-17 di tanah air, suara tersisa seakan akan hanya tinggal pernik pernik baliho atau sejenis, selebihnya hilang bersama angin serta kepulangan tim dari sejumlah negara peserta. Apalagi di Indonesia, nuansa perpolitikan sedang semarak menuju pesta demokrasi pada tanggal 14 Februari 2024.

Gegap gempita Piala Dunia U-17 seperti tertutup suasana persaingan politik, cerita cerita tentang kedigdayaan Timnas Mali sebagai juara tiga sekaligus tampil seperti kuda Afrika, tanpa kenal lelah juga bermain begitu nikmat tanpa sambat (mengeluh). Sudah tidak ada lagi di warung warung kopi.

Sejarah baru Jerman juara kali pertama Piala Dunia U-17, usai menundukkan Francis begitu dramatis, juga sudah tidak terdengar lagi dalam penayangan televisi atau feature tentang tim-tim masa depan dunia. Walaupun Jerman, Francis, Mali dan Argentina menampikan permainan menawan sepanjang perhelatan Akbar itu. Bahkan sejumlah pemain mereka sudah menandatangani kontrak di klub-klub kesohor.

Piala Dunia U-17 di Surabaya hanya menyisakan baliho dan sejumlah spanduk juga pemasangan bener Piala Dunia itu di pojok pojok jalan atau di tempat-tempat keramaian.

Bahkan, lebih mengherankan lagi Timnas U-17 walaupun hanya sekali kalah ketika mengakhiri pertandingan melawan Maroko, juga tidak ada catatan kecil memberi kado atau hadiah dari para petinggi PSSI, sebagai bagian dari sejarah anak bangsa ini, yang resmi tampil di Piala Dunia.

Ketua Asprov PSSI Jawa Timur, Ahmad Riyadh UB PhD, mengatakan bahwa
Piala Dunia U-17 2023 telah memberi dampak positif bagi banyak pihak. Bahkan banyak anak-anak yang terinspirasi bermain sepak bola dengan baik. Dan hal itu tentu baik bagi pengembangan sepak bola usia muda.

Apalagi, lanjut Riyadh, pada saat bermain Piala Dunia juga digelar Piala Soeratin U-17 dengan mempertandingkan 48 tim melalui kompetisi begitu hebat. Tidak kalah dnegan persaingan tim-tim di Piala Dunia U-17.

“Piala Dunia U-17 2023 jadi berkah penting untuk masyarakat Jatim dan Surabaya khususnya. Maklum, Kota Surabaya jadi salah satu tuan rumah Piala Dunia U-17. Bahkan, pembukaanya turnamen internasional edisi kali ini di Gelora Bung Tomo, Surabaya,” kata Ahmad Riyadh, usai menyaksikan pertandingan di stadion kebanggaan Arek Arek Suroboyo.

Menurut Riyadh, permainan sepakbola U-17, ternyata sudah begitu hebat dan martabat. Karena sudah mampu menyajikan permainan kelas dunia dengan gol gol tidak kalah kualitas. Tetapi tentu Indonesia belum tahu kapan dapat mendapat kepercayaan kembali menjadi tuna rumah.

“Ini kebanggaan bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Acara ini mungkin dalam 10-20 tahun lagi belum tentu ada lagi di Surabaya. Teman-teman kita dari luar negeri bisa tahu Indonesia dan Surabaya,” kata Riyadh, Jumat (24/11) saat konferensi pers bersama wartawan olahraga di Swiss belhotel Darmo Surabaya.

Riyadh menjelaskan, Kota Surabaya sendiri telah merampungkan status sebagai tuan rumah Piala Dunia U-17 2023 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT). Sebanyak empat hari pertandingan digelar, yakni tiga hari fase grup dan satu hari babak 16 besar.
Piala Dunia U-17 2023 sendiri dimulai dari Grup A yang dibuka pada 10 November 2023 lalu. Empat tim bersaing di Grup A, yakni Timnas Indonesia U-17, Maroko, Ekuador, dan Panama.

Terakhir, babak 16 besar digelar pada 21 November dengan menggelar dua laga, yakni Mali kontra Meksiko dan Maroko melawan Iran.

“Luar biasa kita rasakan atmosfernya. Dulu orang membawa keluarganya, anaknya, ke stadion itu hampir tidak ada di Indonesia. Tapi, kita lihat di Piala Dunia U-17 ini sudah biasa terjadi seperti itu,” imbuh Riyadh.

Bahkan, lanjut dia, Piala Dunia U-17 telah membuat banyak masyarakat datang ke Surabaya. “Dari situ, sektor ekonomi bisa bergerak lebih besar. Mulai dari hotel, tempat wisata, hingga penggunaan transportasi jadi lebih meningkat,” ujarnya.