“Kami akan terus memberikan fasilitasi dan bantuan untuk melestarikan budaya ini. Budaya adalah identitas kita sebagai bangsa. Jika kita tidak menjaga budaya kita, maka kita akan kehilangan jati diri kita,” tegasnya.
Ritual Kebo-keboan Alas Malang menyedot ribuan masyarakat untuk menyaksikannya. Suasana meriah dan penuh kegembiraan terlihat di wajah para penonton maupun peserta ritual.
Salah satu pengunjung, Cece Ayu (18) juga ikut larut dalam prosesi dan terkena lumuran jelaga.
“Tradisi Kebo-keboan ini selalu saya ikuti sejak kecil. Senang saja ikut meramaikan dan menjadi bagian dari tradisi ini,” ujar remaja asal Rogojampi itu.
Sementara, Dhika Saiful Bahri (32) sengaja mengajak keluarganya untuk ikut menyaksikan ritual kebo-keboan.
“Saya sedang berlibur bersama keluarga. Pas juga ada festival kebo-keboan jadi saya ajak keluarga ke sini. Ternyata selain wisata, kearifan lokal juga dimiliki Banyuwangi,” ujar Dhika, warga asal Tasikmalaya.
Tradisi Kebo-keboan sudah ada sejak abad ke-18 Masehi dan berasal dari kisah Buyut Karti, yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan cara menjelma menjadi kerbau. Sebelumnya tradisi serupa juga dilaksanakan di Desa Aliyan. (*)