Jadi, materi tes fisik yang didapatkan oleh masing-masing cabang olahraga akan berbeda. Sebab masing-masing memiliki fokus dan kebutuhannya sendiri-sendiri. “Materi tesnya disesuaikan dengan cabor dan disiplin masing-masing. Jadi, ada perbedaan terkait item dan target fisiknya,” ungkap Alfian.
Sementara Kabid Binpres KONI Jatim Dudi Harjantoro mengatakan bahwa ini adalah tes fisik kedua. Tes pertama dilaksanakan pada Januari lalu. Menurut Dudi, tes fisik ini untuk melihat seberapa jauh perkembangan fisik atlet setelah menjalani Puslatda sejak Oktober tahun lalu.
“Karena anggarannya terbatas, kami tak mau berspekulasi. Semua akan dan harus terukur. Jadi tidak ada kata trial and error di Kejurnas maupun pra-PON,” tegas Dudi. (guh)





