Jumat, 19 Juli 2024
31 C
Surabaya
More
    OpiniPojok TransparansiEddy Rumpoko, Diawali Dengan Jagongan Dan Udut

    Eddy Rumpoko, Diawali Dengan Jagongan Dan Udut

    SAAT memulai langkah, dulu, kira-kira lima belas tahun yang lalu, saya merasa tidak ada hal yang membebani diri saya. Karena semuanya diawali dengan jagongan, bertemu dengan warga petani penuh gembira, ceria dan jujur.

    Dalam jagongan, rakyat berdemokrasi tanpa sangu, tanpa janji, semua dilakukan ikhlas, saling silaturahmi dan jabat tangan, kemudian ngobrol ringan sambil ngopi, ngudut, sarungan dengan jaket tebal, peci item, masing-masing bawa lampu senter.

    Ilmu jagongan itulah yang meresap dalam tubuh selama 10 tahun, bahkan mungkin 15 tahun bersama masyarakat petani. Saya ingat, saat itu gak ada yang perlu berbelit-belit, tanpa ada paksaan bahkan dalam bentuk verbal berupa perintah.

    Sebuah wilayah kota yang sebelumnya berstatus kecamatan, dilahirkan pada tahun 2001. Atau tepat berusia 21 tahun pada bulan Oktober lalu. Sesungguhnya rakyat memiliki hak untuk menilai, apa yang sudah dicapai bekas kecamatan itu, selama lima belas tahun belakangan ini.

    Alon-alon Kota Wisata Batu misalnya, sekarang bukan sekadar alon-alon tempat bermain anak-anak desa, tetapi tempat bermain anak-anak dari seluruh negeri. Tidak ada sekat antara penduduk desa dengan masyarakat yang datang dari berbagai kota.

    Mereka datang tetap untuk jagongan, sambil menikmati kulineran, kemudian sebagian menuju ke Masjid Agung An Nur untuk beribadah. Ada kuliner yang mempunyai dampak ekonomi luar biasa bagi peningkatan ekonomi warga, tapi juga soal urusan dengan Sang Khalik.

    Baca juga :  Asyura, Judi Online & Pornografi

    Saya tentu tidak akan melupakan, saat saya nyambangi warga di desa-desa, berkumpul di balai desa, atau sering juga berkumpul di rumah warga. Jagongan. Sambil ngopi, celetukan, menyampaikan keluhan dengan guyonan, melakukan kritik dengan banyolan.

    Berbicara tentang banyak persoalan, yang tiba-tiba menjadi ilmu sesungguhnya seperti irigasi, pupuk, bibit, sekolah, lapangan kerja, warga yang sakit, mushola atau tempat ibadah lain, yang semuanya itu sebenarnya termasuk jadi bahan program nyata pada pemerintahan.

    Ijinkan saya bercerita, saat akan berdiri wisata malam di Desa Oro-Ombo pada tahun 2008, muncul persoalan. Rencana proyek itu menggunakan tanah desa, sehingga pemerintahan di tingkat desa terlibat dan berkomunikasi langsung dengan pihak swata tanpa melibatkan Pemkot.

    Gagasannya adalah, karena desa tersebut belum berkembang, maka harus ada yang dijadikan pengait ekonomi agar desa menjadi maju sebagaimana desa-desa lain, yang melibatkan langsung masyarakat.

    Hal yang nampaknya sangat sepele juga muncul pada saat itu, yaitu untuk memberi nama tempat wisata itu saja harus melalui diskusi alot. Hampir tiga puluh nama yang diusulkan. Malam itu warga berkumpul di Balai Desa Oro-Ombo. Yang hadir lebih dari seratus orang, malah tidak sedikit yang datang membawa putra-putri mereka, sehingga banyak sempat kaget.

    Baca juga :  Asyura, Judi Online & Pornografi

    Lho kok malam-malam bawa bayi lengkap? “Nggih, Pak Wali mboten gadah rewang.” Iya, Pak Wali Tidak punya teman. Alhamdulillah, ilmu sesungguhnya terkandung dalam celetukan itu.

    Pada lain kesempatan, saat melihat langsung apa saja fasilitas pendidikan yang ada di suatu desa, muncul istilah yang baru pertama kali saya dengar, yaitu sekolah satu atap. Saat itu juga saya bertanya, ternyata di desa-desa ada beberapa sekolah satu atap. Hal terjadi karena sedikitnya siswa, akibat masih banyaknya anak-anak usia sekolah yang ikut membantu orang tua mereka di lahan pertanian.

    Penyebab lainnya adalah sulitnya biaya, serta infrastruktur yang minim untuk warga yang tinggal di ketinggian. Jalan naik dan menuruni perbukitan, belum beraspal. Banyak penyebab, mengapa muncul istillah sekolah satu atap.

    Kemudian dalam pertemuan dengan tenaga pendidik, juga saat silahturami ke warga, saya tawarkan sebuiah gerakan, yaitu “anak’e kudu pinter meskipun wong tuwone ora pinter.” Semua pasti ingin sekali keluarga petani sejahtera dengan penguatan sumber daya manusia. Kalau bertemu dengan anak sekolah, “Ojo kalah ambe arek metropolitan, Arek Mbatu kudu iso mbangun dewe.”

    Baca juga :  Asyura, Judi Online & Pornografi

    Ungkapan ini sering saya sampaikan di mana saja, termasuk saat berkunjung di sekolah dan masuk ke kelas.

    Seperti saat obrolan di ruang tamu degan Bude hanya berdua malam hari tahun 2016, Bude saya itu nyeletuk. “Opo pantes, gak enak ambe warga nek dicalonno,” kata Bude saya, mengagetkan. Tidak ada kehendak atau pikiran berpolitik secara praktis dalam perjalanan hidup, tetapi akhirnya harus saya lakoni, seperti angin berhembus.

    Kini, lima belas tahun terasa seperti sebuah ikatan jagongan tanpa ada atas dan bawah, seakan pikiran, obrolan, ide, ilmu, semuanya menyatu ke dalam gagasan yang cantik . Iya, Kota Wisata Batu sekarang jadi jadi sexy, diminati banyak sekali orang, siapa saja, termasuk orang-orang yang sebenarnya tidak berhak memiliki.

    Bagi warga, biarkan celetukan Pak Wali dan Bu Wali selama lima belas tahun adalah celetukan kemarin. Biarkan jadi bagian dari keluarga, biarkan warga masyarakat berdampingan.

    Dikutip dari Ameg.id, Eddy Rumpoko, menyatakan dengan rasa hormat, saya menyampaikan matur nuwun di beri ruang waktu Limolas Taon mencari ilmu kehidupan di kota yang indah, keren dan sexy ini! (*)

     

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2022 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan