Selasa, 7 Februari 2023
24 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiMasa Depan Sepakbola Indonesia, Menunggu Era Profesional Sejati (6)

    Masa Depan Sepakbola Indonesia, Menunggu Era Profesional Sejati (6)

    JAKARTA (WartaTransparansi.com) – Arena Kongres Biasa Pemilihan akan menjadi penentukan masa depan sepakbola Indonesia. Tancap gas dengan percepatan pola pembinaan, jauh lebih profesional dari Instruksi Presiden yang sudah berumur 3 tahun, tetapi belum ada gereget untuk mencapai pola pembinaan yang mampu membuat warga negara penggemar olahraga paling populer ini, menjadi semangat untuk menjaga martabat.

    Masa depan sepakbola Indonesia, tentu saja harus berani mengubah sejarah dari sepakbola perjuangan, sepakbola amatir bond perserikatan, sepakbola Pancasila dengan jumlah suara seluruh kabupaten/kota se nusantara, sepakbola semi profesional, sepakbola gabungan kepentingan dan NKRI dengan model profesional FIFA.

    Cholid Ghoromah menyatakan PSSI harus mengubah model pemilihan dengan menetapkan pemilik suara adalah klub profesional Liga 1 dan Liga 2. “Sedangkan suara Asprov karena transformasi dari peraturan lama sepakbola Pancasila dengan mempersatukan seluruh nusantara, menuju sepakbola modern sesuai statuta FIFA, maka pola pembinaan dikembalikan ke amatir dengan ditangani bidang atau wakil ketua umum khusus membina klub amatir, melalui Asprov hingga Askab dan Askot,” katanya.

    Baca juga :  Dahlan Iskan dan Tulisannya (1)

    Itu berarti, lanjut dia, PSSI dari bentukan suara klub profesional, tertuang atau tertulis dalam statuta akan memberikan bagian atau prosentase dari pendapatan kepada pembinaan amatir dengan menyebutkan secara resmi sesuai ketentuan yang diatur.

    Sedangkan klub profesional Liga 1 dan Liga 2, menurut dia, walaupun sama-sama menjadi anggota dan pemilik suara. Tetapi karena beda kasta dan supaya sama-sama profesional, untuk operasional kompetisi dan lain-lain, ditangani PT sendiri-sendiri.

    Hanya saja, kata Cholid, supaya kepengurusan di PSSI ada regenerasi atau memberi kesempatan warga negara yang punya potensi mengembangkan prestasi sepakbola Indonesia, maka dibatasi hanya boleh menjabat di jabatan uang sama, misalnya Exco dua kali.

    Baca juga :  Dahlan Iskan: Saya Tidak Pernah Absen Menulis (2 habis)

    Sebagai bagian dari PSSI menuju Profesional Sejati, maka Garis Besar Program Pembinaan atau Percepatan Pembinaan dan Peraihan Prestasi, harus dirumuskan dengan baik, berlaku untuk jangka pendek dan jangka panjang. “Dan akan terus diperbaiki dengan memperhatikan dan melihat perjuangan pola pembinaan dan pencapaian prestasi negara pesaing di level internasional,” tandasnya.

    Menuju Profesional Sejati, menurut dia, untuk PSSI dan klub Liga 1 serta Liga 2. Juga pembinaan amatir melalui Asprov dan Askab/Askot sebagai kepanjangan tangan PSSI harus ada buku panduan secara khusus pula. Sekali lagi tidak mudah tetapi itu adalah keniscayaan. Federasi sepakbola profesional sejati (Djoko Tetuko/bersambung)

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan