Selasa, 7 Februari 2023
24 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiMasa Depan Sepakbola Indonesia, Ubah Budaya Suporter (3)

    Masa Depan Sepakbola Indonesia, Ubah Budaya Suporter (3)

    JAKARTA (WartaTransoaransi.com) – Tidak dapat dipungkiri “Tsunami Kanjuruhan” paling muda adalah dengan menuding sebagai biang kesalahan dari semuanya. Sebab dengan bahasa keamanan, siapa pun petugas ketika menembakkan gas air mata pasti akan berdalih bahwa demi keamanan.

    Petugas dengan alasan bahwa suporter turun ke lapangan hijau, dianggap mengancam keselamatan dan keamanan suporter yang tidak bersalah, lalu menggunakan gas air mata. Walaupun manual pertandingan dan regulasi keamanan stadion tidak pernah memberikan latihan atau gladi bersih menembakkan gas air mata.

    “Dalam regulasi keamanan stadion, hanya mengatur jika ada gempa bumi dan kebakaran bagaimana cara mengatasi dan mengevakuasi. Tidak dilatih menembakkan gas air mata. Dan itu sudah disampaikan pada saat rapat koordinasi dengan pihak keamanan,” kata Ahmad Riyadh UB Ph.D.

    Baca juga :  Dahlan Iskan dan Tulisannya (1)

    Semua Tim Investigasi juga sudah memfokuskan bahwa kematian 137 suporter Aremania murni disebabkan karena gas air mata. Bukan kerusuhan antarsuporter, bukan konflik suporter, bukan akibat tawuran antarsuporter.

    Tetapi asal muasal gas air mata, karena perintah mengamankan stadion dari kemungkinan amuk suporter yang turun ke lapangan hijau dan Steward tidak melakukan teguran. Juga panitia pelaksana tidak mengumumkan bahaya dan pelanggaran masuk lapangan hijau, atau larangan suporter turun ke lapangan hijau.

    Oleh karena itu, TTF pasti akan membuat regulasi keamanan dan suporter lebih baik juga sesuai dengan Statuta FIFA. Sehingga tidak tertutup kemungkinan jika suporter masih tidak berubah atau berperilaku sama, hanya mengandalkan dukungan kacamata kuda. Dukungan hanya membela tim kesayangan, bukan memberikan dukungan untuk kenikmatan sebuah pertandingan dan sebuah tontonan berkelas, maka pasti sepakbola Indonesia tinggal memilih tanpa suporter tetapi kompetisi tetap jalan, atau dengan suporter tetapi terus memakan korban suporter atau korban pihak lain.

    Baca juga :  Dahlan Iskan: Saya Tidak Pernah Absen Menulis (2 habis)

    Bagi PSSI siapa pun kepengurusan akan datang, maka mengubah budaya suporter dari sangat tradisional ke budaya profesional bertanggung jawab serta berwawasan sepakbola modern sebagai amanat industri sepakbola modern dengan kekuatan baru. Maka itulah sebuah pilihan, mau tidak mau suporter harus menjadi roh bagi semua klub, menghidupkan semua klub. Bukan suporter yang membabi buta.

    Menjadikan suporter profesional dengan mengubah budaya menjadi roh semua klub, menjadi penonton sejati dengan penuh heroik dan emosi terkendali, dengan gaya dan budaya sangat bersahaja, dengan fair play mendukung klub kesayangan juga klub lawan. Maka ke depan sepakbola Indonesia tinggal menunggu untuk meraih prestasi tertinggi dari potensi di semua lini. (Djoko Tetuko/bersambung)

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan