Senin, 26 September 2022
25 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSidoarjoMenghormati Leluhur Gelar Wayang Setiap Suro

    Menghormati Leluhur Gelar Wayang Setiap Suro

    SIDOARJO  (WartaTransparansi.com) – Haji Buadji asli kelahiran Pang Kemiri Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo, sudah 7 kali menggelar wayang kulit setiap bulan Suro (Jawa, red) dengan lakon “Babat Tanah Jawa”. Pergelaran wayang semalam suntuk ini atas usul isteri Hajjah Sri Mulia Ningsi, pada Sabtu (6/8/2022) . Berikut ini wawancara dengan WartaTransparansi.com.

    WT : Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    H Buadji : Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    WT : Apa latar belakang menggelar wayang?

    HB : Saya ini tidak bisa apa-apa, saya hanya menghormati leluhur, karena waktu diminta sowan ke alas Purwo di Gua Istana, diberi amanat.

    WT : Amanat apa?

    HB : Diminta menuruti keinginan isteri yang ingin menggelar wayang kulit.

    WT : Tahun berapa?

    HB : Tahun 2015 ya sekitar itu, dengan amanat untuk menceritakan Eyang Wisnu dan Eyang Ismoyo.

    Baca juga :  Bantuan Program Perlindungan Sosial di Sidoarjo

    WT : Selain itu?

    HB : Waktu itu juga diminta menceritakan sejarah Eyang Ismoyo, Syech Subakir, salah satu ulama pembabat alas tanah Jawa dari Gunung Tidar di Magelang.

    WT : Kok mengambil waktu setiap bulan Suro ?

    HB : Kan bulan Suro awal penanggalan tahun Jawa, kalau tahun Hijriyah kan bulan Muharam. Karena babat alas atau memulai kehidupan, maka ditepatkan bulan pertama.

    WT : Mengapa corak wayangan Ki Dalang H Sugilar dari Pungging Mojokerto sangat Islami.

    HB : Waktu di Gua Istana diberi gambaran cerita Eyang Wisnu dan Eyang Ismoyo, juga turunnya Wahyu di Tanah Jawa yang populer melalui Syech Subakir. Kemudian didoakan seperti ulama atau Habib dengan bahasa Arab.

    Baca juga :  Bantuan Program Perlindungan Sosial di Sidoarjo

    Menghormati Leluhur Gelar Wayang Setiap Suro
    Djoko Tetuko, wartawan WartaTransparansi.com melakukan peliputan pagelaran wayang kulit semalam suntuk, di Sidoarjo, Sabtu (6/8/2022)

    WT : Jadi karena petunjuk atau amanat?

    HB : Ya kira-kira seperti itu, tetapi saya tidak bisa apa-apa. Saya tidak mengerti apa-apa. Saya hanya menggelar pertunjukkan wayang. Wayangan didahului doa-doa, kemudian dilanjutkan dengan doa secara Islami.

    WT : Apa juga untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ?

    HB : Alhamdulillah karena bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sekalian mensyukuri kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-77, juga tahun baru Hijriyah 1444.

    WT : Kalau berbagai selamat untuk apa saja?

    HB : Selamatan itu untuk mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, mensyukuri peninggalan leluhur. Dan tidak kalah penting menyenangkan masyarakat dan membangkit ekonomi masyarakat, karena mereka sudah gembira dan senang. Dan perlu diikutkan dalam syukuran atau mensyukuri nikmat ini.

    Baca juga :  Bantuan Program Perlindungan Sosial di Sidoarjo

    WT : Untuk kehidupan masyarakat maknanya apa?

    HB : Masyarakat dengan pergelaran dan pertunjukan wayang ini, diharapkan meningkatkan kerukunan dan gotong royong, meningkatkan kegiatan sosial, supaya hidup sejahtera lahir dan bathin. Mencontoh tokoh pewayangan Eyang Wisnu dan Eyang Ismoyo, atau dengan bahasa lain meneladani perjuangan Syech Subakir. (JT)

    Reporter : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan