Selasa, 9 Agustus 2022
26 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaKawasan Jurang Kuping Pantas Menjadi Destinasi Pariwisata

    Kawasan Jurang Kuping Pantas Menjadi Destinasi Pariwisata

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Lokasi yang rimbun dipenuhi pohon lontar adalah hal yang menarik untuk dinikmati. Apalagi situasi yang aman untuk anak dan keluarga.

    Kota Surabaya sisi barat tersebut terdapat ribuan pohon yang berusia ratusan tahun. Lontar sebagai pohon purbakala itu memendam sejarah masa lalu.

    Lontar, juga bisa dipergunakan untuk berbagai hal. Jika jaman dahulu daun lontar sebagai alat tulis, buahnya menjadi dawet deresan pucuk bunga lontar akan menghasilkan legen yang bisa digunakan untuk menggelontorkan batu ginjal.

    Menurut ketua Forum Warga RW 03 Rejosari Samiadji, ia mengatakan sangat senang bila Pemkot berencana membangun kawasan Jurang Kuping sebagai taman untuk wisata. Namun warga juga diberi kesempatan untuk memberi masukan , agar pembangunan itu bisa jadi pendorong warga untuk berinovatif.

    ” Kami tidak menolak perubahan jika Pemerintah Kota ingin melakukan pembangunan untuk destinasi wisata di kawasan Jurang Kuping , tapi warga diajak rembukan”, katanya usai diskusi masalah pohon lontar di Rejosari, Minggu (31-07-2022).

    Baca juga :  Agustusan di UPTD Griya Wreda Bikin Bahagia Lansia

    Samiadji yang juga pegiat lingkungan hidup itu mengatakan, pembangunan itu untuk tidak merusak ekosistem . Utamanya tanaman lontar sebagai warisan leluhur. Tanaman langkah itu menjadi ikon daerah. Di Surabaya , satu- satunya hanya ada di kawasan Jurang Kuping.

    “Disini ada pohon endemik baru, yaitu pohon lontar yang usianya ratusan tahun. Pohon tersebut terus kami jaga dan dilestarikan keberadaannya. Bahkan menjadi ikon kecamatan Pakal, ungkapnya.

    Menurut Ketua Forum warga RW 03 Rejosari Samiadji

    Permasalahan Lahan Jurang Kuping seluas 40Ha dimulai sejak munculnya

    Warga menjadi resah dan terganggu kenyamanan manakala ada rencana di area ribuan pohon purbakala berumur ratusan tahun itu disinyalir akan menjadi Prasarana, sarana dan utilitas Umum (PSU) diperuntukan tempat permakaman umum miliki investor Surabaya tersebut

    Baca juga :  Ini Pesan Sekdaprov Adhy Karyono Kepada Ketua DPW yang Baru

    Hal yang sama disampaikan Perwakilan warga, Sunardi berharap kepada eksekutif khususnya Walikota Surabaya memiliki hati nurani agar memberikan solusi terbaik bagi warganya.

    ”Sebab, tidak sepatutnya lahan yang memiliki situs sejarah ribuan pohon Siwalan ini dengan mudahnya mendukung pembangunan PSU milik investor Surabaya tersebut. Saya berharap pihak eksekutif ini lebih berpikir positif bagi warganya,” katanya.

    Di tempat terpisah Anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya H Saifuddin Zuhri menjelaskan, permasalahan harapan warga Rejosari terkait lahan Jurang Kuping seluas 40Ha dijadikan destinasi wisata akan diperjuangkan. Namun begitu masih terkendala Perwali 1996 yaitu produk Orda baru sudah milik Citraland.

    ”Itulah kesempatan saya mewakili warga Jurang Kuping, tentunya saya terus memperjuangkan harapannya untuk melakukan negosiasi-negosiasi ke pihak Citraland selaku pemilik lahan dan Pemkot sebagai pemangku kebijakan,” katanya.

    Baca juga :  Gelar BIAN di Surabaya Sasar 178.876 Anak, Masih Ada Orang Tua Khawatir

    Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya ini mengatakan, kita berharap dan optimis dengan kepemimpinan Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya selalu mendengarkan yang menjadi harapan masyarakat dan keterpihakan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) kesehariannya mengais rejeki di lokasi Jurang Kuping.

    “Inilah menjadi keyakinan saya Pak Eri akan merespon harapan warga yang menganggap wilayah Jurang Kuping yang sakral tersebut. Maka lokasi ratusan pohon Siwalan purbakala ini dirasa patut diperjuangkan menjadi Destinasi Wisata satu-satunya di Kota Surabaya,” tandasnya.

    Warga Rejosari resah manakala pembangunan di area tersebut tidak melibatkan warga. Politisi PDI Perjuangan menegaskan, mengacu pada regulasi bahwa ketentuan mencukupi dua persen dalam luasan lahan SKRK milik Citraland tersebut.

    “Sehingga menjadi harapan saya persoalan ini dapat dikaji dan saya yakin bisa dijawab walikota Surabaya melalui negosiasi manakala Citraland menyerahkan ke pemerintah dan bisa merubah peruntukan untuk memindahkan hak dua persenya dipindahkan ke tempat lain,” pungkasnya.(*)

    Reporter : Sumardji

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan