Sabtu, 13 Agustus 2022
28 C
Surabaya
More
    Renungan PagiTIDAK PERLU HUTANG UNTUK HARI RAYA 

    TIDAK PERLU HUTANG UNTUK HARI RAYA 

    Khoiruddin Anas, S.Sos, ME (Dosen Ekonomi Pembangun Fakultas Ekonomi Universitas Darul’Ulum, Jombang) 

    Hari raya idul fitri identik dengan arti kembali suci. Makna Idul fitri dapat pula  diartikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang  diperoleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Puasa romadlon adalah salah “jihadun  nafsi” muslim “ perang besar” melawan diri sendiri. 

    Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari  kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia yang bertaqwa. Idul fitri berasal dari dua kata “id”  dan “al-fitri”. Id secara bahasa berasal dari kata aada – ya’uudu, yang artinya kembali. Hari raya  disebut „id karena hari raya terjadi secara berulang-ulang, dimeriahkan setiap tahun, pada waktu  yang sama. Kata id merupakan turunan kata Al-Adah, yang artinya kebiasaan.

    Hal ini karena  masyarakat telah menjadikan kegiatan ini menyatu dengan kebiasaan dan adat mereka.  Sementara kata fitri memiliki dua makna yang berbeda menurut beberapa pendapat. Kata fitri  bisa berarti “berbuka puasa” atau “suci”. Fitri juga bermakna berbuka “puasa” berdasarkan akar  kata ifthar (sighat mashdar dari aftharo – yufthiru) dan berdasar hadis Rasulullah SAW yang  artinya : 

    ”Dari Anas bin Malik: Tak sekali pun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada  hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.” Dalam Riwayat lain: “Nabi SAW.  Makan kurma dalam jumlah ganjil.” (HR Bukhari). 

    Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan  berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru dan hadis Rasulullah SAW yang artinya” 

    “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata  karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq „alayh).  Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata  karena mengharap ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq „alayh).

    Pada saat Hari Raya Idul Fitri ada sbeuah tradisi yang umumiyah diakalangan umat  islam yaitu sebuah perayaan yang berlangsung selama dua hingga tiga hari, di mana pada pagi  hari di hari pertama Idul Fitri umat Islam akan melakukan sholat Ied. Di saat yang bersamaan  umat Islam akan saling mengucapkan selamat Idul Fitri dengan berjabat tangan dan pelukan  formal. Tidak berhenti di situ, di rumah-rumah juga akan disediakan hidangan-hidangan manis  serta hadiah-hadiah yang kerap diberikan kepada anak-anak dan mereka yang  membutuhkan. Umat Islam pada hari Fitri akan saling bermaaf-maafan. Tradisi-tradisi ini akan  bervariasi dari tiap-tiap daerah dan negara. 

    Efek, dampak ekonomi yang timbul Dari tradisi “perayaan” Hari Raya Idul Fitri ini adalah melonjaknya harga karena banyaknya permintaan barang untuk keperluan perayaan,  seperti makanan jajanan/kue suguhan, minuman dan pakaian serta assesoris yang lain seperti  emas, HP dan lain sebagainya. Pakaian (dari sandal /sepatu ke atas) merupakan salah satu hal  yang sangat penting di konsumsi (pakai) saat hari raya. Karena pakaian adalah “mahkota” derajat  seseorang. 

    Pemenuhan kebutuhan hari raya untuk pribadi atau untuk lembaga tidak terasa menjadi  sebuah problem ekonomi tersendiri (karena tradisi “memberi” parcel dan THR). Masalah ekonomi dihadapi oleh semua pelaku ekonomi. Baik pribadi, keluarga, perusahaan sampai dengan pemerintah. Yang bisa mengatasinya merupakan keberhasilan, tetapi bagi yang belum, merupakan beban yang harus diselesaikan tanpa membebani pihak lain. Kenyataannya banyak  

    yang mencari “jalan pintas” dengan berhutang untuk mendapat solusi. Tapi sebenarnya justru akan menambah masalah serta beban yang dipikul kemudian hari. Mengajukan “kredit” ke “Bank” atau lembaga simpan pinjam, serta yang paling diminati “kaum milenial” yakni Pinjol  (Pinjaman Online). Dengan syarat mudah dan proses cepat sambil “rebahan” pun pencairan dana bisa langsung dilakukan. Apalagi kita dalam bulan Ramadhan menyambut Hari Raya, pastilah kemudahan ini sangat menggiurkan. 

    Dalam tradisi inilah sering kali kita temui para “kaum hawa” khusunya, berlomba – lomba untuk mempercantik dirinya di depan sanak saudara, kerabat dekat maupun jauh. Tidak  jadi masalah bila sesuai dengan pendapatannya. Yang menjadi masalah, bila berlebihan dalam berdandan hingga sampai berhutang hanya demi penampilan. Yang ujung-ujungnya hanya ingin mendapat pujian dari orang lain. Coba pikirkan lebih dalam!. Berhutang hanya demi penampilan

    luar tidak akan bertahan lama, namun beban hutangnya masih bisa dirasakan sampai hitungan bulan bahkan tahun ke depan.  

    Bagi para pelaku usaha mampu mendapatkan keuntungan besar, yang artinya pemberi pinjaman mendapatkan keuntungan terus mengalir sampai batas waktu pinjaman berakhir. Belum lagi bila para “konsumen” yang tidak melunasi hutangnya akan mendapat beban “bunga”  yang bertambah dari hari kehari. Ini merupakan strategi pelaku ekonomi untuk bisa mengembangkan usahanya. Tapi, kerugian besar sebagai pembeli yang harus membayar pinjaman yang manfaatnya hanya sebentar. Belum lagi kalau perilaku “konsumtif” tanpa memperhatikan aturan agama “Islam” terus dibiasakan. Pasti berujung seperti peribahasa “gali lubang tutup lubang”. Ingatlah bahwa hutang akan tetap tercatat bila belum lunas, bahkan sampai meninggal akan tetap dianggap berhutang bila sang pemberihutang tidak mengikhlaskan hutangnya. 

    “ Barangsiapa mati dan masih berhutang satu dinar atau dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak adalagi dinar  dan dirham.” (HR IbnuMajah ~ shahih) 

    Dalam hutang piutang terdapat kepercayaan orang lain didalamnya. Bila ingin dipercaya  orang hendaknya tidak mengingkarinya. Lebih baik lagi ,jika kita berusaha untuk mengindari hutang bagaimanapun caranya. Dengan pandai “bersyukur” atas segala nikmat yang diberikan Tuhan, bersikap jujur / apa adanya. Selalu melihat kebawah (banyak orang lain yang ternyata lebih kekurangan), membiasakan bersedekah, serta selaluberfikir “positif” atas segala sesuatu  yang menimpa kepadakita. Jadi berlebih – lebihan dalam menyambut “Idul Fitri” hendaknya dihindari. Karena kita sebagai “hamba Allah” sudah dijamin “rezeki” nya oleh Sang Pencipta. 

    Ada sebuah kisah kedua cucu rasulullah ketika lebaran tidak punya baju lebaran. Al  Hasan dan Al Husain tak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi  akan datang, mereka bertanya pada ibunya Sayyidah Fatimah Az-Zahra. “Wahai umma anak  anak di madinah telah dihiasi dengan pakaian pakaian baru kecuali kami mengapa umi tidak  menghiasi kami?” 

    Sayyidah Fatimah menjawab: “sesungguhnya baju kalian masih berada di tukang jahit”

    Ketika malam takbir tiba mereka mengulang pertanyaan yang sama, Sayyidah Fatimah  menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu. 

    Setelah kedua anak²nya tertidur ada orang mengetuk pintu rumah beliau, Sayyidah  Fatimah bertanya “Siapa diluar?” Orang itu menjawab. 

    “Wahai putri Rasulullah aku adalan tukang jahit, membawa hadiah pakaian untuk  putra²mu” maka Sayyidah Fatimah pun membuka pintu dan tampak seseorang membawa sebuah  bungkusan dan menyerahkan nya pada Sayyidah Fatimah, setelah mengucap terimakasih  Sayyidah Fatimah menutup pintu rumahnya dan membuka bingkisan itu, terdapat 2 gamis,  2celana, 2mantel, 2 sorban serta 2 pasang sepatu hitam yang sangat indah. 

    Kemudia Sayyidah Fatimah membangunkan kedua putra kesayangannya serta  memakaikan pakaian tersebut yang sangat pas di badan mereka. 

    Menjelang subuh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam datang dan melihat kedua  cucunya sudah di hiasi dengan pakaian dari bingkisan tersebut, kemudia Rasulullah  menggendong kedua cucunya dan mencium mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang. 

    Rasulullah bertanya “wahai putriku apakah engkau melihat tukang jahit tersebut?” Sayyidah Fatimah Az-Zahra menjawab “iya aku melihatnya” 

    “Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan malaikat Ridwan penjaga syurga” “Penghuni langit dan bumi akan bersedih jika kedua cucuku bersedih” 

    Riwayat yang memilukan ini dinarasikan oleh Ibnu Syahr Asyub dari Al-Ridha dan  dinukil oleh Hakim al-Naisaburi dalam kitabnya al-Amali. 

    Untuk meneladani kisah di atas para ahli bijak menciptakan sebuah lagu yang sering kita dengarkan di masa kecil : (mari kita nyanyikan bersama) 

    Baju baru Alhamdulillah 

    Tuk dipakai di hari raya 

    Tak punya pun tak apa-apa 

    Masih ada baju yang lama

    Sepatu baru Alhamdulillah 

    Tuk dipakai di hari raya 

    Tak punya pun tak apa-apa 

    Masih ada sepatu yang lama 

    Potong ayam Alhamdulillah 

    Tuk dimakan di hari raya 

    Tak ada pun tak apa-apa 

    Masih ada telur ayamnya 

    Bikin kue Alhamdulillah 

    Tuk dimakan di hari raya 

    Tak bikin pun tak apa-apa 

    Masih ada singkong gorengnya 

    Hari raya idul fitri 

    Bukan untuk berpesta-pesta 

    Yang penting maafnya lahir batinnya 

    Untuk apa berpesta-pesta 

    Kalau kalah puasanya 

    Malu kita kepada Allah yang esa 

    Kupat sayur Alhamdulillah 

    Tuk dimakan di hari raya 

    Tak ada pun tak apa-apa 

    Masih ada nasi uduknya 

    Semoga hari raya idul fitri kita tahun ini; kita benar-benar menjadi orang yang fitri; bersih hati, bersih pikiran, bersih jiwa dari dosa dan kesalahan kepada sesama, kepada lembaga,  kepada Allah dan dapat memaafkan orang lain: teman, saudara, orang tua, pimpinan, bawahan  dan terutama memaafkan diri sendiri agar lebih bisa taat, tekun, jujur, sabar dan ikhlas. (*)

    Reporter :

    Penulis :

    Editor:

    Redaktur :

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan