Minggu, 2 Oktober 2022
27 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSidoarjoKupas Tuntas Aswaja, Abuya Arrazy Hipnotis Jamaah Masjid Agung Sidoarjo

    Kupas Tuntas Aswaja, Abuya Arrazy Hipnotis Jamaah Masjid Agung Sidoarjo

    SIDOARJO (WartaTranspaeansi.com)  — Mengawali tahun 2022, Takmir Masjid Agung Sidoarjo mendatangkan Abuya Dr KH Arrazy Hasjim LC MA. Hum mengupas tuntas masalah amaliyah Aswaja (Ahlussunah wal Jamaah) di masjid Agung, Ahad (2/1/2022).

    Dengan bahasa sangat linier, santun, dan disertai hujjah serta pemahaman yang gampang dipahami, ulama muda kharismatik asal Sumatera Barat ini, mampu menghipnotis, ribuan jamaah yang memenuhi ruang utama masjid Agung Sidoarjo, di barat alun-alun Sidoarjo.

    “Semua harus mampu menjaga dan membedakan dalam beramaliyah dengan terus belajar secara standar yang bisa dibertanggung jawabkan. Mulai dari guru, kitab yang dipelajari harus bersanad, sehingga tidak melenceng dari tatanan Ahlu sunnah wal jamaah. Nabi Musa khalamullah yang derajatnya sebagai Rasul masih harus berguru kepada nabi Khidir, khususnya berkaitan dengan ilmu hikmah” tandas Abuya Arrazy.

    Baca juga :  Pemerintah Harus Dengarkan Aspirasi Sarbumusi

    Lanjut Abuya Arrazy, tudingan Syiah mirip tasawuf dan propaganda untuk mengadu domba dan membenturkan ajaran yang bersumber dari AlQuran, hadits, ijma’ qiyas, harus diantisipasi. Jadi, tasawuf sendiri merupakan ajaran dari Baginda Rasulullah SAW. Ada bagian yang harus dipahami dan dimengerti, dalam amaliyah syariat, thoriqoh, tasawuf, dan marifat hingga jalur sufi.

    Seperti yang dilakukan Hadratus Syech Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, saat mencari jati diri dan mengali ilmu dalam menempa hikmah kehidupan untuk memberikan manfaat bagi umat. Saat berguru ke Mbah Cholil Bangkalan, bukan diajari kitab, tapi diminta untuk bercocok tanam. Artinya, ada hikmah yang dipancarkan sebagai bentuk tawaddu’ untuk menghilangkan ego dengan bimbingan seorang guru yang bersanad hingga ke Rasulullah.
    “Mengamati dan sekedar belajar instan (cepat) tanpa mau belajar hikmah, bagaimana bisa memberikan manfaat bagi umat.

    Baca juga :  Pemerintah Harus Dengarkan Aspirasi Sarbumusi

    Kalau di kalangan sufi, ijazah itu untuk dirinya sendiri. Kalau riwayah beda, harus semua melalui proses yang begitu panjang. Pengenalan terhadap nama-nama asma Allah SWT,” ulasnya.

    Fenomena, menjamurnya rumah tahfidz (penghafal AlQur’an) secara instan, tanpa mampu menyelami makna dari menuntut ilmu, menurut Abuya Arrazy, sudah disampaikan oleh Baginda Rasulullah SAW. Untuk itu, diperlukan kepedulian dan upaya preventif dengan melakukan verifikasi terhadap keberadaan rumah tahfidz tersebut.

    “Contoh nyata hasil sarung tenunan tangan, tentu membutuhkan ketelitian, ketekunan, dan ilmu menenun yang bisa dilakukan oleh ahli. Walaupun butuh waktu lama, hasilnya pasti istimewa dan harganya bernilai. Lain, kalau kain hasil modikasi mesin, bisa diproduk massal, nilai jelas beda. Mari kita renungkan bersama,” pungkas Abuya Arrazy.

    Baca juga :  Pemerintah Harus Dengarkan Aspirasi Sarbumusi

    Inisiator Pengajian Dzuha, direktur LPPQ (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Al-Quran) Al Karim Jatim, Dr. KH. Sholeh Qosim, MSi, mengatakan, kehadiran Abuya Arrazy di tengah umat, khususnya yang konsen dengan al-Quran, akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat untuk punya kepedulian mencari ilmu, berguru, dan amaliyah yang bersanad.

    “Penjelasan dan paparan beliau (Abuya Arazy) bukan sekedar berdasar, namun bahan dan kajian yang begitu runut dan runtut bisa memotivasi kita untuk tidak gampang memilih jalan pintas. Apa artinya, jangan gampang tertarik bisa hafal Al-Quran 40 hari atau waktu sesingkat mungkin, kalau belum mampu mendalami, mengkaji dan menjadikan alQuran sebagai pedoman hidup. Jadi, semua harus melalui proses panjang dan bisa dipertanggung jawabkan.

    Inilah, tantangan bersama yang harus ditemukan solusi terbaik,” paparnya. (mat)

    Reporter : Makin Rahmat

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan