Kamis, 2 Desember 2021
25 C
Surabaya
More
    Jawa TimurBanyuwangiTak Ada Solusi, Warga Desa Tembokrejo Gugat Ahli Waris Pemilik Tanah

    Tak Ada Solusi, Warga Desa Tembokrejo Gugat Ahli Waris Pemilik Tanah

    BANYUWANGI (WartaTransparansi.com) – Dugaan ketidakjelasan atas kepemilikan tanah yang di beli dan belum bisa di sertifikat, warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, menggugat ahli waris di Pengadilan Negeri Banyuwangi. Selasa (23/11/2021) Siang.

    Kejadian tersebut bermula dari berapa warga masyarakat yang membeli sebidang tanah kepada Mujaini dari mulai tahun 2008 sampai sekarang nasib tanah tersebut masih terkatung katung, mengingat tanah yang mereka beli sampai hari ini masih belum bisa disertifikat.

    Menurut sholihin (40) Dusun krajan RT. 03 RW.19 Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi ini mengaku telah membeli sebidang tanah kepada Darmi yang masih hubungan saudara (red. budenya) sendiri dengan harga Rp. 8.000,000,- ( delapan juta rupiah) dilengkapi dengan jual beli tanah tertanggal 26 maret tahun 2008. Pada saat itu darmi juga memberi tahu jika Darmi membeli tanah itu kepada Mujaìni dan lengkap bukti pembelian termasuk kwitansinya.

    Baca juga :  Resmi Dilantik, Aditya Ruli Delianto Ketua DPC LAKUMHAM Kabupaten Banyuwangi

    “Masyarakat yang sudah membeli tanah ke Mujaini sebanyak 50 KK dengan dilengkapi bukti seperti surat segel, kwitansi,kami mempertanyakan soal pengurusan sertifikat kepada pemilik tanah Mujaini hanya janji – janji saja kepada kami sampai akhirnya pemilik tanah Mujaini meninggal tahun 2008,” terang Sholihin.

    Tak Ada Solusi, Warga Desa Tembokrejo Gugat Ahli Waris Pemilik Tanah
    Ket Foto : Warga desa Tembokrejo di halaman PN Banyuwangi

    Sholihin juga mengatakan, Mujaini kan punya ahli waris maka kami meminta kepada ahli waris tuk bertanggung jawab.

    “Sekarang ini ahli waris mengatakan kepada kami jika ingin memiliki rumah yang hanya mempunyai bukti segel harus bayar 20 ribu meternya. Sedang yang tidak mempunyai bukti segel harus bayar 60 ribu per meternya,” imbuhnya.

    Baca juga :  Pelatihan Jurnalistik dan Kehumasan Bagi Guru SMP

    Sementara ahli waris dari Mujaini mempertegas permasalahan tersebut selaku pemegang Surat Hak Milik (SHM). Saya menyikapi permasalahan ini karena saya memegang SHM yang sah, sertifikat aslinya ditangan saya untuk itu selaku ahli waris saya pertanyakan karena saya sebagai putra (almarhum) Mujaini bisa dilihat ke absahannya sertifikat itu. Kok ini malah dibawa ke pengadilan, mereka punya bukti otentik apa,” ucap Didik Saikhu Afandi selaku putra almarhum Mujaini. Selasa (23/11/2021).

    Didik juga mengatakan, menurut saya yang namanya membeli tanah kan harus prosedural setidaknya melalui Notaris. Kenapa pada saat pembelian tanah ini tidak dipertanyakan kepada abah saya sewaktu masih hidup, orang sudah meninggal baru dipersoalkan, dan ini sudah pernah di mediasi dua kali di kantor Desa setempat yang pertama tanggal 13 september dan tanggal 4 agustus 2021 sesuai amanah abah saya waktu itu abah mengatakan jika yang beli tanahnya hanya 12 orang dan ketika saya crosscek ada 52 KK ini kan aneh,” pungkasnya. (Yin).

    Reporter : Nuriyah Muzayyin
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan