Selasa, 19 Oktober 2021
27 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiHaji Yang Tertunda Bersama Nabi (3)

    Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (3)

    Oleh Anwar Hudijono (Penulis Wartawan Senior, tinggal di Sidoarjo)

    Sekembalinya Utsman bin Affan ke Hudaibiya, dilakukanlah perundingan antara Nabi dengan Quraisy. Dalam proses perundingan itu menunjukkan bahwa Nabi seorang diplomat, negosiator ulung. Beliau sabar, ulet, sangat cermat, visioner. Tidak hanya mengkalkulasi jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Ibarat main catur, Nabi tidak hanya menyiapkan opsi delapan langkah ke depan seperti juara dunia, tapi menyiapkan opsi 700 langkah ke depan atau lebih.

    Tim perunding Quraisy dipimpin Suhail bin Amr, seorang negosiator pilih tanding, bukan kaleng-kaleng. Quraisy menggunakan strategi pressing dengan target meraih keuntungan mutlak. Quraisy tetap menyiapkan opsi perang jika tidak menang mutlak pada perundingan.

    Nabi menggunakan strategi longgar tapi semua terkalkulasi dengan detail. Kira-kira kalau dalam perang klasik itu disebut strategi perang Cakrabyuha. Dibiarkan lawan melakukan pfressing masuk ke lingkarannya. Begitu sudah di dalam diputar dan digilas. Tentu saja strategi demikian harus dilandasi kesabaran dan kecerdasan.

    Sebagian kaum muslimin mulai ada yang tidak sabar. Maunya pilih opsi tunggal, tetap lanjut ziarah sekalipun dengan konsekuensi perang jika Quraisy tetap bersikeras menolak mereka ziarah ke Baitullah.

    Abu Bakar As Shidiq merupakan prototipe yang mendukung perundingan untuk mencapai perdamaian. Menyerahkan sepenuhnya kepada Nabi. Sedang Umar bin Khattab merupakan prototipe pihak yang ingin jalan terus dengan konsekuensi hidup mulia atau mati syahid. Di kubu prototipe Umar ini juga ada yang lebih keras lagi yaitu yang sugih kendel bondho wani (kaya keberanian modal berani) tapi kurang perhitungan.

    Baca juga :  Bahasa Indonesia di Media Pers, Perjuangan Jurnalis Tabrani

    Umar menemui Abu Bakar membahas soal perundingan.
    “Wahai Abu Bakar, bukankah kita ini muslimin,” kata Umar.
    “Ya benar,” jawab Abu Bakar.
    “Mengapa kita mau direndahkan dalam soal agama kita,” kata Umar.
    “Umar, duduklah di tempatmu. Bukankah dia Rasululullah,” jawab Abu Bakar.

    Umar tidak puas atas jabawan Abu Bakar. Maka dia pun menemui Nabi mengutarakan hal yang sama.

    “Saya hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak akan melanggar perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyesatkan saya,” jawab Nabi.

    Nabi benar-benar menjunjukkan kesabaran tingkat langit, baik menghadapi Quraisy maupun umat muslimin. Sampai pada penulisan nakah perjanjian pun Nabi tetap sabar.

    Suhail menolak kata bismillahir-rahmanir-rahim, dan kata Muhammad Rasulullah di dalam draft naskah perjanjian. Nabi dengan kalkulasinya sendiri bersedia mengganti dengan kata bismikallahumma (atas nama-Mu ya Allah). Muhammad Rasulullah diganti Muhammad bin Abdullah.

    Perundingan itu berakhir dengan disahkannya dokumen Perjanjian Hudaibiya. Nabi dan Quraisy sepakat damai.

    Baca juga :  Bahasa Indonesia di Media Pers, Perjuangan Jurnalis Tabrani

    Terpecah-pecah

    Sikap kaum muslimin terpecah-pecah. Banyak yang manut apa keputusan Nabi. Tapi juga ada yang merasa tidak puas dengan argumen masing-masing. Ya begitulah manusia. Pepatah Minang mengatakan lain lubuk lain pula ikannya. Artinya lain orang lain pula pikirannya. Petitih Jawa menyebut (maaf ini untuk 17 tahun plus): seje silit seje anggit.

    Jadi di jaman Nabi pun sudah banyak orang yang keminter. Betapa tidak seolah merasa lebih pintar dari Nabi. Maka tidak perlu heran jika sekarang tambah nemen. Sampai disebut jaman sawo dipangan uler alias wong bodo rumangso pinter. Bahkan ditambah uler mangan sawo: wong pinter pilih dadi bodo.

    Contohnya menyandang gelar akademis tertinggi malah pilih dadi buzzer. Wis ta angel .. angel ..

    Contoh lagi, orang akademis tapi model berdebatnya model debat kusir. Adu kencang-kencangan urat leher. Banter-banteran ngomong. Kencang-kencangan nyemburkan ludah. Tajam-tajaman mendelik. Konyolnya lagi mau ditanggap untuk eyel-eyelan. Bukan mencari kebenaran ilmiah tapi mencari tepuk sorak.

    Di jaman sawo dipangan uler dan uler mangan sawo, umat Islam sudah diingatkan di Al Quran surah Al Hujurat ayat 1-2 . Yang intinya jangan mendului Allah dan Rasul-Nya. Jangan bersuara lebih keras – merasa lebih pintar – dari Nabi.

    Baca juga :  Bahasa Indonesia di Media Pers, Perjuangan Jurnalis Tabrani

    (Monggo dipelajari secara seksama. Bahkan keseluruan surah itu mengandung pengajaran tentang komunikasi publik di akhir jaman seperti ayat 6 dan 7, 10-12. Daripada sibuk ngemedsos melulu, coba sisihkan waktu untuk mempelajari Quran. Sikik-sikik gak apa-apa. Insya Allah barokah).

    Pertanda Umrah

    Kita masih Hudaibiya. Ada kegelisahan yang menyeruak di kalangan kaum muslimin. Kita juga sedikit gelisah.

    Kita melihat Nabi shalat dua rakaat. Beliau mulai menyembelih hewan kurbannya. Nabi mencukur rambutnya sebagai pertanda umrah sudah dimulai. Kaum muslimin mengikuti. Tapi banyak yang hanya menggunting rambutnya (sedikit).

    Lantas Nabi berdoa, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut.”

    Yang hanya menggunting sedikit rambutnya gelisah. Mengapa yang disebut hanya yang mencukur rambut.

    “Ya Rasulullah mengapa yang disebut dalam doa hanya yang mencukur rambut.”

    “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut,” kata Nabi lagi.

    Yang menggunting rambut semakin gelisah. Akhirnya Rasulullah juga menyebut “Juga yang menggunting rambut.”

    “Mengapa yang doa yang diucapkan hanya untuk yang mencukur rambut?” tanya kaum muslimin.

    “Karena mereka sudah tidak ragu-ragu,” jawab Nabi.

    Kita bersama seluruh kafilah Nabi akhirnya meninggalkan Hudaibiya. Sebagian kaum muslimin masih diliput tanda tanya tentang Perjanjian Hudaibiya. Apa untungnya bagi kaum muslimin? Mengapa kita menyerahkan harga diri dinistakan kaum Quraisy? (Bersambung)

    Referensi:
    Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
    Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

    Reporter :
    Penulis : Anwar Hudijono
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan