Selasa, 3 Agustus 2021
29 C
Surabaya
More
    Politik PemerintahanRencana PTM Awal Juli, Ketua FPG Kodrat Sunyoto : Diknas Sebaiknya Mempertimbangkan

    Rencana PTM Awal Juli, Ketua FPG Kodrat Sunyoto : Diknas Sebaiknya Mempertimbangkan

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Dinas Pendidikan Jatim kekeuh Pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bagi SMA/SMK akan dimulai pada awal Juli 2021. Diknas menyatakan infrastruktur telah disiapkan.

    Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Jatim Kodrat

    Sunyoto mengkawatirkan PTM akan mempercepat proses penyebaran Covid-19. Apalagi di Jatim ditemukan banyak varian baru seperti B16172 asal India.

    Merujuk dari Ketua Tim Kuratif Satgas Covid-19 Pemprov Jatim dr. Jony Wahyuhadi, temuan baru dari hasil genome sequencing ITD Unair menghasilkan 11 sampel yang dites terkonfirmasi varian delta. Semula ada 8,lalu bertambah 11 totalnya menjadi 19 kasus varian Delta.

    Menurut Kodrat Sunyoto, untuk mencegak penularan Covid-19, harus dilakukan pencegahan cepat dengan memperketat prokes dan PPKM. Nah kalau PTM dipaksakan, akan sangat berbahaya. “Kami berharap Diknas Jatim betul betul mempertimbangkan bahaya Covid. Jangan sampai maksutnya ingin menambah imun karena siswa bisa bertemu dengan teman temannya, tapi dampaknya malah tidak baik, tandas anggota Komisi E DPRD Jatim.

    Baca juga :  PMK 94 Dorong Percepatan Pelaksanaan Anggaran Daerah Guna Penanganan Covid

    Diakuinya bahwa PTM memang sudah direncanakan pemerintah pada Juli 2021 mendatang. Namun melihat kondisi akhir akhir ini, kasus Covid menggeliat lagi, sebaiknya dipertimbangkan lagi.

    “Saat ini bergantung pada kondisi daerah masing-masing. Jika daerahnya sebelumnya sudah siap, namun tiba-tiba berubah menjadi zona merah. Ya harus menunda dulu. Karena untuk berlangsungnya pembelajaran tatap muka harus memenuhi kriteria yang ditentukan,” ujar Kodrat.

    Menurutnya, selain wilayah sudah tidak zona merah lagi, guru yang mengajar harus sudah divaksin dan ada izin dari orang tua atau wali murid. “Intinya ada aturan yang sudah ditetapkan. Ada wilayah yang diperbolehkan tatap muka, namun tidak boleh semuanya masuk. Ada yang boleh hanya 25 persen saja sampai 50 persen saja. Namun jika terjadi peningkatan Covid, tentunya rencana PTM ini harus dipikirkan lagi dampaknya,” tambahnya.

    Baca juga :  Inovasi Samsat 4.0 Jatim Sabet Top 5 Inovasi Terpuji di KIPP 2021

    Sebenarnya, diakui Kodrat intinya adanya PTM merupakan salah satu cara proses belajar untuk mengurangi rasa jenuh siswa selama pandemi covid.  Menurutnya, siswa jika ketemu temannya akan menimbulkan motivasi juga. Sehingga timbul imun karena adanya semangat.

    Sebenarnya pemerintah memprediksikan PTM bisa berlangsung pada Juli mendatang. Karena ada kecenderungan pandemi Covid-19 mulai mereda. Namun, adanya varian baru yang diketahui lebih cepat menyebar, hal itu ternyata tidak terpikirkan. Sehingga harus mempertimbangkan lagi menggelar PTM. Jangan ingin memenuhi  target, namun risikonya justru semakin memperbanyak daerah zona merah.

    Belajar Tatap Muka itu jangan hanya melihat subjek dan objeknya yakni guru dan muridnya. Tetapi juga harus melihat kondisinya. Seperti gedung yang masih banyak yang rusak, karena lama tidak terpakai. Sehingga perlu dilakukan penyemprotan, ada prokes hingga guru yang harus divaksin. “Kan masih ada juga guru yang nggak mau divaksin,” keluh Kodrat yang juga Ketua DPD Ormas MKGR Jatim ini.

    Baca juga :  Pengurusan Layanan Adminduk Tidak Perlu Sertakan Sertifikat Vaksinasi Covid

    Jangan hanya melaksanakan program kementerian saja, tetapi harus melihat kondisi daerah masing-masing. Memenuhi syarat atau tidak atau membahayakan bagi siswa itu. Inilah yang harus dipikirkan lagi.

    Saat ini di Jatim ada tiga daerah masuk zona merah yakni Ngawi, Ponorogo dan bangkalan, zonan oranye ada 35 kabupaten/kota(*)

    Reporter : Samuel Ruung
    Penulis :
    Editor : Amin Istighfarin
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Editor's Choice

    Jangan Lewatkan