Senin, 21 Juni 2021
28 C
Surabaya
More
    Jawa TimurBangkalanKasus Covid-19 di Bangkalan Meningkat, Layanan IGD Tutup 4 Hari

    Kasus Covid-19 di Bangkalan Meningkat, Layanan IGD Tutup 4 Hari

    BANGKALAN (WartaTransparani.com) – Kekhawatiran melonjaknya kasus Covid-19 pasca libur panjang lebaran, mulai terbukti. Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat, terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Kabupaten Bangkalan, Madura. Akibatnya, manajemen RSUD Bangkalan menutup layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) mulai Sabtu (5/6/2021) hingga Selasa (8/6/2021).

    “Iya kelihatannya sudah mulai terjadi peningkatan kasus ini setelah liburan panjang, itu yang kami khawatirkan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Herlin Ferliana, dikutip, Minggu (6/6/2021).

    Herlin mengatakan, bahwa RSUD di Bangkalan menutup sementara layanan IGD-nya, dengan terus meningkatnya kasus Covid-19 dan ada sejumlah tenaga kesehatannya yang bertugas menangani pasien covid-19 dinyatakan positif corona.

    “Di Bangkalan, terjadi peningkatan kasus, dan benar, direktur RS-nya (mengatakan) karena ada yang dokter spesialis radiologi yang meninggal. Lalu, ada beberapa nakes juga terkonfirmasi positif, sehingga mereka mulai hari ini menutup IGD-nya,” terangnya.

    Meski demikian, Herlin mengaku pihaknya belum bisa merinci berapa jumlah pasti tenaga kesehatan di Bangkalan, yang terkonfirmasi positif covid-19.

    Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, per 5 Juni 2021, kasus kumulatif positif covid-19 di Jatim mencapai 156.050, bertambah 244 kasus pada hari ini. Sebanyak 142.727 dinyatakan sembuh, 1.793 masih dirawat dan 11.530 meninggal dunia.

    Sedangkan kasus kumulatif covid-19 di Bangkalan, tercatat ada sebanyak 1.754 kasus. 1.520 dinyatakan sembuh, 178 meninggal dunia dan sebanyak 56 pasien masih dirawat. Bangkalan dalam peta risiko merupakan daerah berstatus kuning, atau zona risiko rendah.

    Meningkatnya kasus covid-19 di Bangkalan ini, kata Herlin, ditengarai karena tingginya mobilitas warga saat momen mudik Lebaran Idul fitri beberapa waktu lalu. Selain itu, tingkat kepatuhan masyarakat Bangkalan terhadap protokol kesehatan juga rendah.

    “Kalau kami lacak, kedatangan mudik ini, kelihatannya mudik dari provinsi lain yang masuk ini berarti ada yang tidak terdeteksi. (Saat tiba) nggak ada gejala, lalu belum bisa terdeteksi karena masih (inkubasi), tapi karena lama di daerah itu berapa hari, tidak disiplin prokes, itu yang menyebabkan,” ucapnya.

    Karena itu, Herlin pun tengah berkoordinasi dengan sejumlah kepala rumah sakit di Surabaya, untuk bersiap menjadi tempat rujukan pasien dari Bangkalan.

    Surabaya dipilih karena selain jaraknya yang dekat dengan Bangkalan, kapasitas RS di Kota Pahlawan ini juga dinilai masih rendah sehingga bisa menampung pasien dari luar daerah. ***

    Reporter :
    Penulis :
    Editor : Wetly Aljufri
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan