Kamis, 23 September 2021
28 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaSimulasi Mitigasi Bencana Kebakaran, Juru Padam Sebenarnya adalah Warga

    Simulasi Mitigasi Bencana Kebakaran, Juru Padam Sebenarnya adalah Warga

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Demi mencegah terjadinya kebakaran saat memasuki musim kemarau, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) menggelar Simulasi dan Mitigasi Pencegahan Pengendalian Kebakaran pada Pemukiman Padat Penduduk. Simulasi tersebut, berlangsung secara virtual dari Taman Surya Balai Kota Surabaya, Sabtu (5/6/2021).

    Pada kesempatan itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan bahwa tujuan pelaksanaan Simulasi Pencegahan Pengendalian Kebakaran pada Pemukiman Padat Penduduk ini, agar warga selalu siap siaga. Sebab, menurutnya, ketika sebuah pemukiman terjadi kebakaran, maka penanganan pertama itu, adalah warga setempat.

    “Saya sampaikan bahwa kekuatan kita untuk mengatasi kebakaran itu adalah saat penanganan pertama kali, di tiga menit pertama. Dan itu adalah warga setempat,” kata Eri di sela acara.

    Ia memastikan, dalam setiap RT/RW sudah dibentuk relawan. Melalui relawan itu, dia berharap ketika terjadi musbah kebakaran maka, relawan dengan sigap dan cepat mengendalikan si jago merah. Oleh sebab itu, Wali Kota Eri pun memastikan, setiap relawan per RW harus ada satu orang Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK). Relawan tersebut, nantinya akan dibekali kendaraan motor lengkap yang dapat menampung air.

    Baca juga :  Ketua PMI Jatim H. Imam Utomo S, Permintaan Plasma Konvalesen Nol Persen

    “Sehingga ketika ada kebakaran bisa langsung action, bisa langsung menghentikan kebakaran. Tidak semua kelurahan memang, tapi wilayah kampung padat penduduk yang paling penting,” ungkapmya.

    Dengan adanya persiapan itu, orang nomor satu di Kota Pahlawan ini berharap, ketika terjadi kebakaran di pemukiman penduduk, maka warga diharapkan menjadi juru padam yang sebenarnya. Sebab hal ini dinilai sangat penting karena respon time PMK maksimal tujuh menit. Sedangkan, diharapkan sebelum petugas tiba di lokasi, warga telah bertindak tepat untuk api agar semakin tidak melebar.

    “Tetapi diusahakan bisa kurang dari tujuh menit sudah tiba di TKK (Tempat Kejadikan Kebakaran). Karena ketika warga berhasil memadamkan, maka dampak dari kebakaran ini bisa semakin diminimalisasi,” paparnya.

    Baca juga :  Munjidah Wahab-Habib Salim Quraisy Pimpin PPP Jatim 2021-2926

    Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya Dedik Irianto menambahkan, sebenarnya pelaksanaan sosialisasi ini memang rutin digelar di perkampungan padat penduduk, terutama memasuki musim kemarau. Melalui simulasi tersebut diharapkan warga tidak panik dan mengerti apa yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran di lingkungannya.

    “Alhamdulillah karena kami gencar sosialisasi ke RT/RW sebelum pandemi Covid-19. Alhasil kami sering tiba di TKK ternyata api sudah berhasil dipadamkan oleh warga. Artinya,masyarakat menjadi juru padam yang sebenarnya,” kata Dedik.

    Dedik pun menghitung kenaikan tingkat pemahaman masyarakat terhadap pengendalian kebakaran dinilai sangat terasa dampaknya. Sebab, ia menghitung berdasarkan data tahun 2020 lalu mengalami kenaikan yang cukup signifikan mencapai 25 persen.

    Baca juga :  Ketua PMI Jatim H. Imam Utomo S, Permintaan Plasma Konvalesen Nol Persen

    “Jadi pada saat kejadian kabakaran, kemudian petuas tiba di lokasi sudah tinggal pembasahan bara-baranya. Kemudian memastikan suhu thermal apakah berpotensi terjadinya perambatan atau tidak. Karena sudah bisa dipadamkan oleh warga,” urainya.

    Tidak hanya itu, Dedik memastikan, pihaknya juga membuat pemetaan Wilayah Menejemen Kebakaran (WMK). Bagi dia, WMK itu merupakan salah satu penentu dimana wilayah mana yang wajib dibangunkan pos dan perkampungan mana yang dinilai padat penduduk.

    “Antisipasinya selain motor telah membuat dua titik lokasi hydrant kering untuk menjangkau TKK yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda dua. Karena ada pemukiman warga yang tidak dapat dilalui oleh motor. Jadi antisipasinya adalah hydrant kering,” ujarnya. ***

    Reporter :
    Penulis :
    Editor : Wetly Aljufri
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan