Selasa, 21 September 2021
26 C
Surabaya
More
    OpiniTajukUsia 14 Tahun Aktif di Organisasi Pergerakan
    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Usia 14 Tahun Aktif di Organisasi Pergerakan

    Kontemplasi Bung Karno 120 Tahun Silam

    6 Juni 120 tahun silam Sukarno (Soekarno) dengan nama ketika lahir Koesno Sastrodihardjo, lahir di Paneleh Surabaya 120 silam (6 Juni 1901). Presiden RI pertama itu wafat ketika berusia 69 tahun 15 hari (21 Juni 1970).

    Sekedar mengingatkan dunia pendidikan sebagai kawah Candradimuka seluruh anak bangsa mengalami kemunduran, sekedar mengingatkan kebiasaan “jahat”anak-anak dan remaja, pada usia keemasan (7-18 tahun) sudah “terampok” permainan teknologi digital dari bangun tidur sampai tidur lagi.

    Padahal tahun keemasan itulah memulai menanamkan ilmu dan mematangkan dengan sistem belajar kontinyu, konsisten, dan punya komitmen kuat terus memperdalam keilmuan.

    Tentu saja membekali dengan berbagai keilmuan dan kegiatan positif. Organisasi ekstra kurikuler jika dalam sekolah dengan berbagai ilmu kemasyarakatan sebagai persiapan berbangsa, beragama, dan bernegara.

    Kini masa begitu indah untuk menenun ilmu itu, tergeser dan tergerus perkembangan kemajuan teknologi. anak-anak dan remaja hampir seluruh kehidupan anak bangsa sudah terampas dengan berbagai suguhan teknologi digital.

    Coba simak perjalanan hidup
    Soekarno (Bung Karno) Sang Presiden, ketika masih berusia 14 tahun sudah aktif di organisasi pergerakan. Bahkan pidato Bung Karno
    menggemparkan pada rapat tahunan Jong Java Cabang Surabaya, 1915.

    Baca juga :  Tiga Fokus PMI Jatim Perkuat Kehidupan Normal Baru

    Soekarno berpidato dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar). Kemudian mencetuskan ide
    menghilangkan “Java Sentris” dengan mengusulkan
    surat kabar Jong Java diterbitkan dalam bahasa Melayu saja, dan bukan dalam bahasa Belanda.

    Pada usia 25 tahun,
    pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927.

    Pergerakan Bung Karno di PNI hingga ditangkap Belanda pada tanggal 29 Desember 1929 di Yogyakarta, kemudian dipindahkan ke Bandung, untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy.

    Satu tahun kemudian (pada tahun 1930) Bung Karno dipindahkan ke Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 Desember 1930, Bung Karno membacakan pleidoinya yang fenomenal “Indonesia Menggugat”.
    hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

    Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Bung Karno, hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.

    Baca juga :  Soekano, Megawati, Puan dalam Keajaiban dan Kalkulasi Politik

    Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu, kemudian kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

    Masa penjajahan Jepang

    Pada awal masa penjajahan Jepang (1942–1945),
    pemerintah Jepang sempat melupakan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk “mengamankan” keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.

    Tidak terlalu pemerintahan pendudukan Jepang
    memanfaatkan tokoh-tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H. Mas Mansyur, aktif dalam organisasi persiapan kemerdekaan ini.

    Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, Bung Karno diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.

    Baca juga :  Waspadalah! Kekuatan Kontingen PON Buram dan Performance Atlet Turun

    Dalam pergulatan politik Bung Karno, Sang Presiden, ternyata memiliki keghaiban tinggi, yaitu menetapkan momen tepat untuk kemerdekaan Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan bulan turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

    Sekedar mengenang dengan kontemplasi (perenungan) bahwa hingga usia 44 tahun ketika menjadi Presiden, selama 30 tahun Bung Karno terus melakukan pergerakan, walaupun dalam tawanan, dalam pembuangan.

    Anak-anak, remaja, dan pemuda masa kini patut diberikan pelajaran sekaligus doktrin tentang perjuangan dan pergerakan dalam setiap kehidupan.
    “Man Jadda wajada (siapa bersungguh-sungguh akan mendapatkan keberhasilan)”.

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan