Selasa, 22 Juni 2021
25 C
Surabaya
More
    TajukPidato Bung Karno dan Hari Kelahiran Pancasila

    Pidato Bung Karno dan Hari Kelahiran Pancasila

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Hari ini 1 Juni 2021 peringatan Hari Kelahiran Pancasila. Penguatan Ideologi negara dalam berbangsa, bernegara, dan beragama. Membutuhkan perwujudan dalam kehidupan sehari-hari.

    Pancasila sebagai ideologi merupakan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan beragama sehari-hari, sehingga semua mencerminkan 5 sila pada Pancasila.

    Sesuai kamus besar bahasa Indonesia bahwa ideologi
    (1). kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; (2). cara berpikir seseorang atau suatu golongan: hal itu menjadi makanan empuk bagi — asing yang ingin menginfiltrasi; (3) paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik: —misal, komunis menjadi pegangan bagi negara-negara yang selama ini disebut Blok Timur.

    Ideologi secara fungsional diartikan seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama atau tentang masyarakat dan negara yang dianggap paling baik.

    Ideologi secara fungsional ini digolongkan menjadi dua tipe, yaitu Ideologi yang doktriner dan Ideologi yang pragmatis.

    Ideologi rakyat Indonesia ialah; Pertama, pedoman hidup adalah bentuk tradisi dan budaya kehidupan warga sesuai dengan komunitas.

    Kedua, realitas kehidupan dalam sanubari rakyat Indonesia. Ketiga, digali dari kekayaan rohanim moral dan budaya masyarakat indonesia.

    Keempat, mengandung
    nilai- nilai sangat penting bagi perjuangan bangsa indonesia.

    Sesungguhnya inti dari pedoman ideologi ialah perilaku yang baik dan yang bermanfaat.

    Rasulullah saw bersabda; “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”. Secara global bahwa ideologi hidup itu jika ingin baik, sabda Nabi Muhammad saw, “Manusia yang baik yang bermanfaat bagi manusia lain”.

    Diakui atau tidak diakui bahwa Pancasila, akhir-akhir ini mulai kurang diamalkan dalam kehidupan sshari-hari dalam berbangsa dan beragama. Hal itu terbukti semakin banyak warga saling mencederai dalam kehidupan sosial, serta memghujat dalam kehidupan beragama.

    Politikus dan eksekutif saling berebut kekuasaan, bukan berebut mensejahterahkan dan memakmurkan masyarakat secara berkeadilan.

    Diketahui, Pancasila lahir ketika Soekarno (Bung Karno) pidato pada sidang Dokuritsu Junbi Chosa-kai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada tanggal 1 Juni 1945.

    Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal “Pancasila” pertama kali dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

    Pidato ini pada awalnya disampaikan oleh Soekarno secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPKI. Sejak tahun 2017, tanggal 1 Juni resmi menjadi hari libur nasional untuk memperingati hari “Lahirnya Pancasila” .

    Sidang BPUPK
    pertama dari tanggal 29 Mei (yang nantinya selesai tanggal 1 Juni 1945). Rapat dibuka pada tanggal 28 Mei 1945 dan pembahasan dimulai keesokan harinya (29 Mei 1945) dengan tema dasar negara. Rapat pertama ini diadakan di gedung Chuo Sangi In di Jalan Pejambon 6 Jakarta yang kini dikenal dengan sebutan Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad (bahasa Indonesia: “Perwakilan Rakyat”).

    Setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia merdeka, yang dinamakannya “Pancasila”. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Junbi Cosakai.

    Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

    Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945.

    Dalam kata pengantar atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit pada tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyebut pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”.

    ”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang.

    Memang jiwa yang berhasrat merdeka, tak mungkin dikekang-kekang! Selama Fascisme Jepang berkuasa dinegeri kita, Demokratisch Idee tersebut tak pernah dilepaskan oleh Bung Karno, selalu dipegangnya teguh-teguh dan senantiasa dicarikannya jalan untuk mewujudkannya.

    Mudah-mudahan ”Lahirnya Pancasila” ini dapat dijadikan pedoman oleh seluruh anak bangsa dalam kesungguhan.

    Pidato Bung Karno memang sangat monumental. Tetapi sayang 76 tahun kemerdekaan Negara Indonesia, diwarnai penyimpangan Pancasila dalam kehidupan berbangsa, beragama, dan bernegara sehari-hari.

    Korupsi menjadi tradisi memperkaya diri sendiri, kolusi dan nepotisme jadi penguatan suap menyuap dan pungli, kehidupan Pancasila begitu suci hanya sebagai penghias sumpah dan janji. (*)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan