Selasa, 22 Juni 2021
25 C
Surabaya
More
    Renungan PagiMETAMORFOSIS RAMADHAN

    METAMORFOSIS RAMADHAN

    Kajian Ramadhan, Diasuh Univ. Darul Ulum Jombang (19)

    Oleh: Dr. H. Sahal Afhami, S. H., M. H.

    Metamorfosis merupakan sebuah proses yang berhubungan dengan perubahan penampilan fisik dan/atau struktur setelah penetapan perubahan fisik itu tejadi. Metamorfosis disini dimaksudkan metamorfosis diri dengan iman, takwa dan muhasabah di bulan Ramadhan, merupakan usaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri selama bulan Ramadhan agar nanti setelah keluar dari bulan Ramadhan benar-benar dapat dilihat dan dirasakan keindahannya.

    Keindahan yang bukan hanya untuk diri sendiri yang melihat dan merasakannya, tetapi juga orang-orang disekeliling dapat melihat dan merasakannya keindahan itu. Ibarat ulat bulu yang dulunya menakutkan dan menjijikkan, kemudian berpuasa dengan cara metamorfosis dalam entung beberapa waktu yang telah ditentukan kejadiannya, bila waktunya keluar menjadi kupu-kupu yang indah warna-warni dan melambai-lambai dengan perilakunya yang menarik, menarik setiap orang yang memandang dan mendekatinya.

    Begitu juga dengan manusia melalui metamorfosis diri dengan iman, takwa, dan muhasabah di bulan Ramadhan ini dapat menjadi lebih baik, indah dan menarik bagi diri sendiri dan juga bagi orang lain yang melihatnya dari pada sebelumnya.

    Kegiatan metamorfosis diri tidaklah mudah bila dilakukan dihari-hari biasa diluar bulan Ramadhan, tetapi dengan bulan Ramadhan dapat menitipkan keyakinan akan berhasil karena di bulan Ramadhan segala ketaatan diterima, segala doa di ijabah, segala kebaikan dilipatgandakan, dan segala balak dan cobaan di tolak.

    Firman Allah dalam Surat al-Hasyr ayat 18 memberikan perintah kepada orang-orang yang beriman atau orang-orang yang mengaku dirinya beriman (suatu pengertian di dalam tafsir). Pertama: agar bertakwa kepada Allah , dan bahkan dlm ayat ini kata-kata “bertakwalah” sampai disebut 2 (dua) kali.
    Kedua: agar melakukan muhasabah atau introspeksi diri atas apa-apa yang telah dilakukan sebagai bekal dikemudian hari.

    Kedua perintah Allah tersebut menurut kaedah usuliyah hukumnya adalah wajib, karena susunan kalimatnya setelah “haiatu al-amri” atau pola perintah berupa kata perintah “ittaquw” (bentuk kata perintah biasa) dan ” waltandzur” (bentuk kata perintah berupa fiil mudhori’ yang diberi lam amar, yang kekuatan hukumnya sama dengan fiil amar) dengan “maddatu al-amri” atau materi perintah berupa kata “Alloh” dan ” nafsun maa qaddamat lighaddin” tidak ada atau tidak diselat dengan kata lain sebagai “qorimah” atau alasan, maka hukum perintah tersebut adalah wajib (Ushulu Al- Sarakhsyi, juz: 2: 124).

    Iman
    Orang yg beriman dapat dilihat ciri2nya sebagai mana firman Allah dalam Surat al-Anfal ayat 2-4 yg artinya: Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah:
    1. Apabila disebut nama Allah hatinya terbakar bronto ingin cepat-cepat berbuat baik.
    2. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah atau tanda bukti kebesaran Allah maka iman mereka bertambah.
    3. Kepada Allah mereka pasrah atau berserah diri.
    4. Mereka orang-orang yang mendirikan shalat.
    5. Dan menafkahkan harrta yang diperolehnya.
    Itulah mereka sebagai orang yg benar-benar beriman. Kelima ciri tersebut merupakan satu kesatuan ciri yang harus ada secara proporsional dalam diri seseorang untuk dapat dikatakan sebagai orang yang beriman atau mukminun, bukan salah satu ciri yang ada pada diri seseorang sehingga dapat disebut sebagai orang yang beriman.

    Oleh karena itu para mufassirun memberikan definisi “alladziina Aamanu” bukan orang yang beriman, tetapi “al-ladziina aqarruu bil iimaan” yaitu orang yang mengaku dirinya beriman, karena hal tersebut tidak mudah menyandang gelar sebagai orang yang beriman.

    Orang yang dg lima ciri sebagai orang yang beriman tersebut yang diberi perintah oleh Allah. Pertama, untuk bertakwa kepada Allah. Kedua, untuk muhasabah.

    Takwa
    Takwa adalah suatu istilah yang tidak hanya mempunyai arti takut, yaitu takut kepada Allah semata, tetapi takut kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-perintah Allah, dan menjauhi semua larangan-larangan Allah, tidak hanya perintah yang sifatnya wajib dan sunah saja, tetapi juga menjauhi larang-laranganNya yang haram dan yang makruh.

    Orang yang menjalankan perintah disebut orang yang taat atau orang yg tunduk atau orang yg menuruti perintah. Begitu sebaliknya; orang yang tidak menuruti perintah disebut orang yang ma’siyat atau orang yang durhaka, dan maksiat itu bukan hanya orang laki-laki dan perempuan yang melihat lawan jenisnya yang bulan mahram, bukan hanya itu tetapi orang yang tidak dapat melakukan perintahnya Allah dan Rasulnya itu orang yang maksiat.

    Menjalankan perintah lebih mudah dari pada menjauhi larangan, misalnya perintah puasa, shalat, dan zakat, tetapi menjauhi larangan misalnya larangan bergunjing, menuduh, dan berzinah (dalam pengertian luas) adalah tidak mudah, karena sifat dasar manusia selalu ingin tau atau ingin merasakan sesuatu yang dia belum pernah merasakannya.

    Sedangkan orang yang bertakwa atau biasa disebut dengan kata jama’ “muttakin” adalah orang yang cir-cirinya sebagai mana yang digambarkan oleh Al-Qur’an Surat Al-Baqarah, ayat 2-4 yang artinya:
    Orang yang bertakwa yaitu:
    1. Orang yang percaya pada sesuatu yang ghaib;
    2. Menjalankan shalat;
    3. Menafkahkan harta yang diperolehnya;
    4. Percaya dengan apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad berupa Kitab Suci Al-Qur’an, dan;
    5. Percaya dengan apa yang telah diturukan kepada Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad
    (Nihayatu al-Muhtaj Fii Syarhi Al-Minhaj, Imam Nawawi, juz:4, hal:144. Lihat juga :Sahal Afhami: Nuzulul Qur’an).

    Muhasabah
    Muhasah adalah suatu istilah yg mempunyai makna mawas diri, atau menilik ulang apa-apa yang telah dilakukan untuk dijadikan cermin melangkah dihari esuk. Artinya apa-apa yang telah dilakukan yang jelek harus ditinggalkan dan yang baik akan dilakukan dan disempurnakan.

    Tentang muhasabah ini banyak dalil dari al-Qur’an maupun al-Hadits yangn menerangkannya. Dalil al-Qur’an salah satunya yaitu di dalam Surat Al-Hasyr ayat 18, yang artinya: “Wahai orang-prang yang (mengaku dirinya) beriman takutlah kepada Allah, dan hendaklah menilai dirinya apa-apa yang telah dilakukannya dimasa dahulu untuk bekal dikemudian hari. Takutlah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang telah kamu lakulan”.(QS: Al-Hasyr: 18).

    Sedangkan Dalil Hadits antara lain sebagai mana sabda Rosulullah Muhammad SAW yang artinya: “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin maka dia orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemaren maka dia orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari pada hari kemarin maka dia orang yang terlaknat” (Abu Nuaim Al-Asbihany, Hilyatu Al-Auliya’, juz 6: 171).

    Orang yg beruntung adalah orang yg hari ini lebih baik dari pada hari kemarin karena orang itu dapat memanfaatkan kesehatan dan kesempatannya untuk lebih baik dan lebih sempurna dalam berbuat yang bernilai ibadah. Ibarat orang berdagang dia kehilangan modalnya tetapi mendapatkan keuntungan yang melebihi modal dasarnya.

    Berbeda dengan orang yang terlaknat dia sudah kehilangan modalnya berupa waktu dan tenaganya tetapi juga tidak mendapatkan keuntungan apapun dalam berdagang. Orang yang merugi adalah orang-orang yang mendapatkan keuntungan yang sama dengan modalnya, karena dengan kehilangan waktu dan tenaga tetapi tidak mendapatkan keuntungan apapun, melainkan umurnya habis hanya untuk dapat berbuat kewajiban dasar saja, tidak ada yang lebih yang dapat dilakukannya, ibarat berdagang tidak mendapatkan laba sebagai keuntungan.

    Hal ini sesuai dengan Sabda Rosulullah Muhammad SAW yang artinya: “Orang yang sempurna akalnya adalah orang yang mengkoreksi dirinya dan bersedia beramal sebagai bekal setelah mati, dan orang yang rendah akalnya adalah orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya dan ia mengharapkan berbagai angan kepada Allah. (Muhasabah akhir tahun, Ali Fakhri Tsany).

    Dalan hitungan, sehari semalam ada 24 jam. Setiap jam manusia dapat bernafas sebanyak 180 nafas. Dalam sehari semalam ia bernafas sebanyak 4.320 nafas. Setiap bernafas manusia itu ditanya dua pertanyaan waktu menghela nafas dan waktu membuangnya, atau waktu keluar dan masuknya nafas sehinggak ia bernafas sebanyak 4.320 x 2 = 8.640 nafas. Setiap nafas masuk ditanya 4 pertanyaan, begitu juga waktu nafas keluar, sehingga dalam sehari semalam manusia itu ditanya oleh Allah sebanyak 34. 560 pertanyaan.

    Pertanyaan- pertanyaan itu sebagai mana sabda Rosulullah Muhammad SAW yg artinya:
    “Seseorang tdk akan menghadap besok dihari kiamat sampai ditanya 4 (empat) hal, yaitu:
    1. Umurnya digunakan untuk apa?
    2. Apakah dirinya dapat menerima cobaan apa tidak?
    3. Dengan ilmunya apa yg dia kerjakan?
    4. Hartanya dia peroleh dari mana dan digunakan untuk apa?
    (Ibnu Hajar, Al-Mizan, juz 3: 178)
    Keempat hal tersebut merupakan pertanyaan-pertanyan yang ditanyakan disetiap bernafas, baik ketika menghirup nafas maupun ketika keluarnya nafas.
    Untuk memberi rangsangan agar kita disetiap nafas, disetiap waktu, dan disetiap hari kita selalu berusaha untuk berbuat baik, baik, dan baik, berbuat sesuatu yang bernilai ibadah dengan tidak menyia-nyiakan umur, jasad, ilmu, dan harta yg kita punyai.

    Ada satu nasehat yang sejalan dengan hal tersebut, yaitu apa yang disampaikan oleh Nabi Isa AS. yang artinya: “Hidup di dunia ini hanya ada 3 (tiga) nafas, yaitu:
    1. Nafas yang telah lewat dimana kamu telah melakukan sesuatu dinafas itu.
    2. Nafas dimana kamu tidak tau akan ketemu dengan nafas itu apa tidak (yaitu nafas nanti).
    3. Nafas dimana kamu sekarang ini ada didalam nafas itu, dan kamu tidak memiliki nafas lain kecuali nafas yg satu itu, tidak ada hari dan tidak ada waktu, maka bergegaslah utk berbuat ketaatan sebelum kesempatan itu hilang, dan bertaubatlah sebelum datang kematian, barang kali di nafas yang kedua nanti kamu sudah meninggal dunia. (Durratu Al-Nasichin, Utsman bin Hasan: 260).

    Apa yang dikatakan Nabi Isa AS itu dapat dijadikan penggerak untuk berbuat sesuatu yang bernilai ibadah agar kita tidak terlena dengan bujuk rayunya syetan disetiap nafas kita sehingga kita bukan hanya tidak mampu berbuat tetapi tidak sempat berbuat disaat kita masih sehat.

    Rosulullah Muhammad SAW telah bersabda, yang artinya: “Ada dua nikmat, dimana banyak orang tertipu karenanya, yaitu nikmat sehat dan nikmat sempat”.(Al-Thobary, Al-Mu’jamu Al- Kabir, juz 8: 166, nmr Hadits: 7694)
    Dengan dua nikmat tersebut banyak manusia tertipu karenanya, dimana disaat sehat ia tidak sempat berbuat kebaikan, dan bahkan mungkin tidak menyempatkan diri untuk berbuat kebaikan, setidaknya perbuatan-perbuatan yang bernilai ibadah, dan ketika sempat untuk berbuat kebaikan dia sudah tidak sehat, sehingga tidak lagi dapat melakukan perbuatan baik itu, maka sesungguhnya dia sia-sia dengan kesempatan yang dia punyai tetapi sudah tidak ada kesehatan, sehingga kesempatan itu tidak dapat dia manfaatkan untuk berbuat kebaikan.

    Oleh karena itu ingat selalu setiap saat, setiap bernafas agar dapat memanfaatkan kesehatan yang ada untuk menyempatkan diri berbuat kebaikan, jangan sampai merasa merugi dengan meratapi kebodohannya disaat sehat tidak sempat berbuat, dan disaat sempat sudah tidak sehat, sehingga sampai nafas terakhirpun tidak sempat berbuat. Naudzubillah.

    Semoga hari ini, di waktu Ini, disaat kita bernafas yang sekarang ini, lebih baik dari pada hari, waktu, dan nafas yang kemarin, dan terus kedepan dihari-hari kedepan, diwaktu kedepan, dan dinafas-nafas kita kedepan akan lebih baik, baik, dan baik.

    Semoga setelah keluar dari bulan Ramadhan nanti, kita tetap dapat berbuat seperti puasa kita, tadarrus Al-Qur’an kita, baik di masjid, mushala, surau, langgar, maupun dirumah, dapat rutin membaca dan mentadabburinya, dapat istiqamah shalat dan wirid di tengah malam sebagai mana menunggu Lailatul Qadar dengan iktikaf (terutama) di masjid, dan dapat selalu bersedekah sebagai mana mengeluarkan zakat di akhir Ramadhan, dengan merasakan kenikmatan dan keikhlasan berbuat selama Ramadhan, sehingga keluar dari Ramadhan terasa perubahan dan perbedaan diri menjadi lebih baik, lebih indah, dan lebih berarti dari pada sebelum dan setelah Ramadhan.

    Semoga usaha metamorfosis diri dengan iman, takwa, dan muhasabah di bulan Ramadhan mendapatkan hasil lebih dari yang diharapkan. Aamiin….Aamiin.. Allahumma Aamiin. (*)

    *) Penulis adalsh Dosen Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum Jombang.
    *) e-mail: [email protected]

     

    Reporter :
    Penulis : Dr. H. Sahal Afhami, S.H., M.H.
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    Untukmu Para Istri…

    Wahai Para Istri…

    Rahasia Kebahagiaan

    Amanah