Kamis, 13 Juni 2024
31 C
Surabaya
More
    OpiniTajukSimalakama Antara Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi

    Simalakama Antara Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi

    Oleh Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi Wartatransparansi.com

    Memasuki bulan Desember atau bulan ke-10 Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) mulai menebar di Indonesia, pada 3 Maret 2020 lalu, maka sejak itu berbagai kebijakan dan keputusan sebagai kondisi darurat terus dilakukan pemerintah.

    Pemerintahan Presiden Joko Widodo sudah melakukan langkah-langkah luar biasa, menembus berbagai protokol ketat anggaran menjadi kelonggaran tanpa syarat. Bahkan berbekal Perppu No 1/2020, pemerintah merombak postur dan alokasi APBN 2020 secara signifikan hanya dengan perpres. Untuk menyelamatkan perekonomian nasional dan stabilitas sistem keuangan dari dampak Covid-19.

    Melalui Perpres No 54/2020, defisit anggaran melonjak drastis dari Rp 307 triliun (1,76 persen dari PDB) menjadi Rp 853 triliun (5,07 persen dari PDB), dengan pembiayaan utang menembus Rp 1.000 triliun.

    Kini, ketika virus Corona masih terus bersemi di berbagi daerah, dan masih menjadi ancaman permanen walaupun bersifat sporadis.

    Presiden Joko Widodo
    saat memimpin rapat terbatas untuk membahas laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, (30/11/2020),
    mengingatkan jajarannya di daerah mulai dari gubernur, bupati, hingga wali kota.

    Baca juga :  Menjaga Marwah Bulan Besar (Dzulhijjah)

    Presiden Jokowi mengingatkan dan memerintahkan kepada kepala daerah, untuk memegang penuh kendali mereka di wilayah masing-masing mengenai penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi daerah.

    Para kepala daerah dalam hal ini bertugas untuk memberi perlindungan kepada warganya. Mengingat tugas kepala daerah adalah melindungi keselamatan warganya. “Dan juga sudah saya sampaikan, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi,” ujar Presiden Jokowi.

    Berdasarkan data terkini dan melihat angka-angka kasus aktif, kesembuhan, kematian, dan beragam indikator lainnya, Presiden menginstruksikan jajarannya untuk memberi perhatian ekstra bagi upaya penanganan di dua wilayah, yakni Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Kedua wilayah tersebut mengalami peningkatan kasus pada beberapa waktu belakangan ini.

    Data yang diterima Presiden pada 29 November kemarin, kasus aktif di Indonesia kini berada di angka 13,41 persen. Meskipun angka tersebut masih lebih baik dari angka rata-rata dunia, Presiden tetap meminta jajarannya untuk waspada mengingat angka indikator yang sama pada minggu lalu masih lebih baik di angka 12,78 persen.

    Baca juga :  Menjaga Marwah Bulan Besar (Dzulhijjah)

    Demikian halnya dengan tingkat kesembuhan pasien yang pada minggu lalu berada di angka 84,03 persen, kini sedikit menurut di angka 83,44 persen. Penurunan tersebut disinyalir karena adanya peningkatan kasus-kasus di beberapa waktu belakangan.

    Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara juga meminta kepada jajarannya mengenai perkembangan persiapan pelaksanaan vaksinasi dan pemulihan ekonomi secara nasional.

    Memang dalam situasi dan kondisi seperti saat ini, merupakan buahsimalakama bagi pemerintah. Betapa tidak? Antara Covid-19 dengan pemulihan ekonomi nasional sama-sama penting dalam usaha menjaga kestabilan berbangsa dan bernegara.

    Diketahui, Ketua Umum Partai Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra,
    pada Jumat (20/3/2020) menegaskan pemerintah wajib memprioritaskan nyawa rakyat dibanding yang lainnya untuk saat ini.

    Pemerintah tidak punya pilihan lain, kecuali menyelamatkan nyawa rakyat. Apa pun pilihan yang dilakukan pemerintah, apakah melakukan pembatasan keramaian umum bahkan melakukan lockdown, tujuan utamanya harus satu menyelamatkan nyawa rakyat.

    Itu ketika awal Covid-19 merebak dan belum diketahui sampai kapan? Tetapi sekarang ketika memasuki bulan ke-10, mau tidak mau harus sama-sama dijalankan dengan baik. Inilah simalakama antara Covid-19 dan pemulihan ekonomi Naisonal juga daerah. Karena keduanya merupakan program penyelamatan nyawa rakyat.

    Baca juga :  Menjaga Marwah Bulan Besar (Dzulhijjah)

    Dalam kurun waktu belum jelas sampai kapan Covid-19 berakhir? termasuk kapan vaksinasi sudah mulai dilaksanakan. Maka berbudaya baru 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan air mengalir dan pakai sabun) juga menjaga protokol kesehatan dengan menjaga kebersihan di rumah, lingkungan dan tempat bekerja merupakan pilihan utama sebagai ikhtiyar menjaga keselamatan.

    Mengingat pemulihan ekonomi nasional dan daerah juga penting, dalam menjaga kelangsungan hidup masyarakat supaya tetap selamat, sejahtera, dan berkontribusi untuk menjaga keseimbangan ekonomi dengan perdagangan mikro. Dimana kelas ini selama sebagai penguatan ekonomi daerah dan nasional.

    Dalam menjalankan kedua-duanya, penanganan Covid-19 tetap patuh protokol kesehatan dengan ketat, menjalankan roda ekonomi perdagangan mikro hingga makro sebagai keseimbangan perekonomian nasional. Pemerintah bersama masyarakat dan sejumlah pihak terkait wajib menjaga keberlangsungan ketidakwajaran ini menjadi kekuatan, sekaligus menyelamatkan kepentingan yang lebih besar. Guna menjaga keberlamgsungam berbangsa dan bernegara dengan berkeadilan. (*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan