Jumat, 26 Juli 2024
26 C
Surabaya
More
    OpiniPojok TransparansiAcep Zamzam Noor Nilai Kesederhaan dan Kejujuran Begitu Kuat (bag. 6)

    Acep Zamzam Noor Nilai Kesederhaan dan Kejujuran Begitu Kuat (bag. 6)

    Oleh : DjokobTetuko (Pemimpin Redaksi WartaTransparansi)

    (Sehimpun Puisi “Bicaralah yang Baik-Baik” Dirut RRI-6”)

    Setiap karya selalu mengandung pesan atau harapan, jadi bukan sekedar menata “huruf berserakan dalam berbagai makna”, tetapi karena “kata dan kalimat itu ada diksi ada bisikan juga ada teriakan begitu kuat”, tetapi di balik itu “dzikir dari sang penyair penyiar, ada komunikasi sangat kuat pula”.

    Jadilah kesederhanaan, kejujuran, kepolosan, berteriak apa adanya, berbicara yang baik-baik saja, berbisik dengan kata dan kalimat agung, seperti bisikan adzan dan iqomah pada sang jabang bayi, atau bisikan rayuan menjual tiket menuju surga.

    Acep Zamzam Noor seperti sedang mengaji kitab kuning, seperti duduk bersila di surau tua melantunkan perdebatan, seperti sedang meniupkan genderang senandung sholawat, seperti beristighotsah, menyapa publik
    bahwa karya M. Rohanudin, sebagian besar mengandung nilai-nilai kesederhanaan dan kejujuran dalam antologi puisinya, sehingga mampu menggelitik jahil “merobek robek” sentuhan perasaan sebagai pembaca.

    Acep Zamzam Noor, sekedar berbagi pengalaman bahwa
    memasuki bulan Agustus, lebih-lebih mendekati tanggal keramat, sering membayangkan betapa panjang dan berlikunya proses mencapai kemerdekaan. Dalam bayangan lahirnya Indonesia sebagai bangsa tak bisa dilepaskan dari karya sastra, khususnya puisi. Pada tanggal 28 Oktober 1928 misalnya, sejumlah anak muda yang mempunyai naluri kepenyairan berkumpul dan secara kolektif berimajinasi tentang sebuah bangsa. Secara kolektif pula mereka menulis sebuah puisi yang indah, yang sekarang kita kenal sebagai “Sumpah Pemuda”. Sebuah puisi yang mengimajinasikan sesuatu yang waktu itu belum ada, bahkan mungkin belum terbayangkan di pikiran banyak orang: bangsa, tanah air dan bahasa.

    Sutardji Calzoum Bachri pernah menyebut “Sumpah Pemuda” sebagai puisi besar yang dihasilkan anak-anak muda zaman dulu. Selain karena memenuhi kaidah untuk disebut puisi, di mana unsur-unsur puisi seperti bunyi, repetisi dan diksi terdapat di dalamnya, isinya pun sangat kreatif, impresif dan imajinatif.
    Mengungkapkan sesuatu yang secara realitas belum ada. Sesuatu yang masih berupa utopia.

    M. Rohanudin memang tidak sedang merintis kemerdekaan bangsa terjajah, walaupun sedang terkapar dan terpuruk karena virus Corona, juga tidak sedang persiapan memproklamirkan sebuah kemerdekaan negara, tetapi dalam mencatat peringatan kemerdekaan RI ke-75 tahun, menghimpun sebuah karya puisi dan sajak sebagai bagian dari pengabdian anak bangsa dalam beraneka ragam rupa, juga kandungan derajat dan timbangan berbeda pula.

    “Bicara yang Baik-baik”, Sehimpun Puisi menyeruak tahun 1948 Belanda kembali menyerbu Indonesia
    Radio Rimba Raya Bener Meriah
    di baliknya bukit-bukit berdiri tegak, di subuh sebasah embun, secara mengejutkan mengumumkan kepada dunia eksistesi keberanian dan siasat rakyat Indonesia:
    dari sini Indonesia masih ada
    dari sini Indonesia masih ada
    dari sini Indonesia Masih ada

    Terhimpun pula begitu kuat, sekuat untaian kata dan gemuruh gemercik suara, “Soekarno bapakku”.
    Soekarno bapakku,
    bangunlah kau dari istirahat panjangmu
    perhatikanlah tanah airmu
    yang sekarang menjadi tanah airku
    tanah air yang pernah engkau menderita,
    karena engkau telah memperjuangkan kemerdekaannya

    Soekarno bapakku,
    engkau memang telah lama wafat
    tapi detak detik jantungmu terus melantunkan irama dan meyakinkan kami
    bahwa perjuanganmu tidak sia-sia
    ….

    Acep Zamzam Noor mengutip secara utuh salah satu puisinya yang berjudul “Robek-robeklah Dadaku” di bawah ini:
    robek-robeklah dadaku
    robek-robeklah dadaku
    robek-robeklah jiwaku
    asal jangan robek-robek merah putihku robek-robeklah dadaku
    robek-robeklah jiwaku
    asal jangan robek bendera merah putihku Indonesia kita semua bisa berbeda selera
    lebih pelangi dari semua cahaya di langit
    kita semua bisa berbeda suku
    lebih sempurna dari semua perbedaan
    tapi justru dengan perbedaan itu,
    …….
    Dan “hitam putih puisi” adalah batas di antara cahaya pelangi jingga hingga menjelang maghrib. Samar-samar warna merah menyapa dunia, suara Nusantara dalam aneka cita rasa, Radio Republik Indonesia sebagai bagian kampanye jujur dan sederhana walau hanya sebait karya

    Ketika M. Rohanudin meneruskan karirnya di RRI banyak sekali acara sastra yang diselenggarakan di lingkungan RRI, begitu juga setelah memegang jabatan penting sejumlah event yang bertarap nasional diselenggarakannya di berbagai wilayah di Indonesia, dan dia tidak pernah melupakan sastra di dalamnya.

    Sejak masih mahasiswa penyair penyiar ini, banyak juga menulis puisi di koran-koran namun kemudian ia lebih memilih media audio (juga video) untuk memublikasikan puisi-puisinya. Ia juga kerap tampil membaca puisi di panggung dan televisi. Dalam rangka merayakan kemerdekan RI tahun ini menerbitkan antologi puisi karyanya sendiri dengan judul Bicaralah Baik-baik.

    Seperti penyair lain pasti akan membuat panggung milik sendiri untuk bangsa dan negara, ketika sedang merayakan kemerdekaan sedemikian rupa. Kemerdekaan dalam “Bicaralah yang Baik-baik”. (Djoko Tetuko)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan