Djoko Tetuko

Oleh : Djoko Tetuko (Pemimpin Redaksi Transparansi)

(7 Amal Ibadah Berpahala Haji)

Hari ini, 9 Dzulhijjah 1441 H, jamaah haji dengan quota terbatas melaksanakan wukuf di Arafah, dengan perkiraan maksimal sekitar 10 ribu, walaupun diupayakan tidak sampai 1.000, tanpa berdesakan. Juga selalu menjaga protokol kesehatan.

Suasana masa pandemi Corona juga sudah nampak ketika para jamaah haji tawaf. Mengutip dati Arabnews.com, aktifitas berlangsung begitu tertib, dengan menjaga jarak dan lebih dahulu melakukan pemeriksaan standar protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19.

Tawaf merupakan rukun kedua dari haji. Yaitu mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali dengan niat ibadah karena Allah SWT. Hal ini diperintahkan dalam Al-Quran: “Dan hendaklah mereka mengelilingi rumah tua (Kakbah) itu”.

Walaupun cara melakukannya sama semua, sebenarnya ada beberapa macam tawaf. Perbedaannya ditentukan oleh tujuan atau niat melakukannya.

Ada yang disebut Tawaf Qudum atau Tawaf Selamat Datang bagi yang melakukan Haji Ifrad. Tawaf yang dilakukan pertama kali memasuki Masjidil Haram. Bukan untuk tujuan umrah. Bukan pula untuk haji. Tapi sekedar Tawaf Selamat Datang ke tanah haram

Tidak hanya itu, suasana padang Arafah jika setiap musim haji jutaan jamaah haji dari berbagai penjuru dunia memenuhi, bahkan puluhan ambulance menderu-deru membunyikan sirine membawa jamaah haji yang sakit keras maupun sakit tidak mampu wukuf tanpa bantuan ambulance juga memenuhi Arafah, dan itu berbeda dengan tahun ini hanya jamaah haji bermukim di Saudi Arabia, sehat dan tidak bermasalah dengan Covid-19, boleh melakukan wukuf.

Wukuf di padang Arafah merupakan salah satu rukun haji, untuk mengingat Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi dari surga karena mengingkari perintah Allah Swt dan terbawa oleh tipu daya Iblis. Mereka dipisahkan di dunia ini selama 40 tahun untuk bertemu kembali. Padang Arafah merupakan lokasi Adam dan Hawa bertemu, dan menjadi lokasi yang sakral bagi umat Islam.

Aktifitas ibadah haji setelah wukuf ialah lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari ibadah haji tahunan ke kota suci Mekkah, Arab Saudi. Para jemaah haji melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang yang berada dalam satu tempat bernama kompleks Jembatan Jumrah, di kota Mina.

Tahun 2020, pelaksanaan ibadah haji hanya dikhususkan bagi umat Islam yang bermukim di Saudi Arabia. Tentu banyak hikmah dapat diambil sebagai pelajaran, salah satu di antara bagi yang tertunda melaksanakan haji masih bisa melakukan amal ibadah dengan mendapatkan pahala seperti berhaji.

Tujuh ibadah dengan pahala seperti berhaji, yaitu:

(1). Shalat lima waktu berjama’ah di masj

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;
“Barangsiapa berjalan menuju masjid untuk shalat wajib secara berjamaah, maka itu setara dengan haji. Dan barangsiapa berjalan (menuju masjid) untuk shalat sunnah, maka itu setara dengan umrah sunnah” (HR. Ath-Thabrani dan Ahmad, hadits dari Abu Umamah, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 5665)

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya menuju masjid dalam keadaan bersuci untuk melakukan shalat fardhu (berjamaah), maka pahalanya seperti pahala orang yang melaksanakan haji yang berihram” (HR. Abu Dawud no. 554 dan Ahmad V/268, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 6228)

(2). Melakukan shalat isyra

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;
“Barangsiapa shalat shubuh berjama’ah, setelah itu ia duduk berdzikir kepada Allah Ta’ala sampai terbit matahari (setinggi tombak), lalu shalat dua raka’at, maka pahalanya sama dengan pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, sempurna” (HR. At-Tirmidzi no. 583 dan ath-Thabrani no. 7649, 7663, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 468 dan Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 6346)

(3). Menghadiri majelis ilmu di masji

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ;
“Barangsiapa pergi pagi-pagi ke masjid, dia tidak ingin kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya maka dia meraih pahala seperti orang yang berhaji, di mana hajinya sempurna” (HR. Ath-Thabrani, hadits dari Abu Umamah, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 86)

(4). Membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat masing-masing 33 kali

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata ; “Ada orang-orang miskin datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, orang-orang kaya itu pergi membawa derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka puasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa berhaji, berumrah, berjihad serta bersedekah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda ; “Maukah kalian aku ajarkan suatu amalan yang dengan amalan tersebut kalian akan mengejar orang yang mendahului kalian dan dengannya dapat terdepan dari orang yang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama daripada kalian, kecuali orang yang melakukan hal yang sama seperti yang kalian lakukan. Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali” (HR. Bukhari no. 843)

(5). Umrah di bulan Ramadhan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang wanita Anshar : “Apa yang menghalangimu untuk ikut berhaji bersama kami ?”. Ia menjawab : “Kami tidak memiliki kendaraan kecuali dua ekor unta yang dipakai untuk mengairi tanaman. Bapak dan anaknya berangkat haji dengan satu ekor unta dan meninggalkan satu ekor lagi untuk kami yang digunakan untuk mengairi tanaman”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila datang Ramadhan, berumrahlah. Karena sesungguhnya umrah di dalamnya menyamai ibadah haji” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256)

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan ;
“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863)

(6). Berbakti kepada orang tua

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata ;
“Ada seseorang yang mendatangi Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia sangat ingin pergi berjihad namun tidak mampu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padanya apakah salah satu dari kedua orang tuanya masih hidup. Ia jawab, ibunya masih hidup. Rasul pun berkata padanya : “Bertakwalah pada Allah dengan berbuat baik pada ibumu. Jika engkau berbuat baik padanya, maka statusnya adalah seperti berhaji, berumrah dan berjihad” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath V/234/4463 dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman VI/179/7835, hadits dianggap jayyid oleh Imam al-Mundziri, al-Utsaimin dll dan dianggap hasan oleh Imam al-Iraqi)

(7) Menyiapkan bekal untuk orang yang akan berjihad, beribadah haji atau mencukupi keluarga yang ditinggalkan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Siapa yang menyiapkan bekal untuk orang yang akan berjihad, menyiapkan bekal untuk orang yang akan menunaikan ibadah haji, menafkahi keluarga yang ditinggalkan atau memberi makan orang yang berbuka puasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala mereka, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun” (HR. Ibnu Khuzaimah, hadits dari Zaid bin Khalid, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1078).

Sekedar menyampaikan sebuah hikmah, bahwa di antara 7 amal ibadah di atas, paling tidak menjadi pengingat bagi umat Islam, ternyata ajaran Islam begitu mulia dan indah. Tinggal bagaimana menata diri memohon keridloan ILAHI ROBBI mampu menjalankan dengan sungguh-sungguh karena Allah SWT semata. (JT/bbs)