Selasa, 18 Juni 2024
29 C
Surabaya
More

    MAAFKAN CORONA

    Oleh : Khoiruddin Anas (Staf Pengajar Ekonomi Pembangunan Universitas Darul ‘Ulum Jombang)

    Tahun ini adalah tahun yang sangat berbeda dalam perlakuan Hari Raya Idul Fitri. Banyak jiwa yang merasa kurang fitri di hari yang fitri ini.

    Semua orang sepakat untuk memaafkan orang tua, saudara, teman bahkan kawan yang bermusuhan, semua nama yang dikenang atau yang terlupakan semua dimaafkan dengan cara bermacam, dengan tag mohon maaf lahir batin, yang di pasang di instagram, Facebook, status WA dan lainnya. Tapi semua sepakat untuk tidak memaafkan satu nama yaitu Corono.

    Corona telah menyebabkan banyak kerugian; material dan imaterial. Mungkin ituyang menyebabkan dia tidak termaafkan.

    Banyak ayah yang kehilangan pekerjaan, tidak dapat bertemu dengan keluarga dan terdampar di kota asing. Banyak kekasih yang tertunda untuk menikah. Banyak guru dan murid yang rindu untuk nyecep ilmu secara langsung dan banyak sekali kekecewaan yang belum terwakilkan untuk mengungkapkan rasa mangkel yang terpendam.

    Saya lihat, saya dengar semua ingin melawan Corona, mengalahkan corona dan sampai sekarang belum bisa mengalahkan dan bahkan mengidentifikasinya saja masih simpang siur. Satuan pemerintah melalui peraturan dan undang-undang mencoba mengatasi corona. Ternyata puss tidak ada hasil bahkan menciptakan koruptor-koruptor baru daerah karena penyalah gunaan anggaran

    BLT DD (Bantuan Langsung Tunai Dana Desa)

    Alokasi pemberian BLT selama pandemi corona terbagi dalam tiga tingkatan dengan merujuk pada besaran dana desa yaitu desa yang memiliki anggaran kurang dari Rp800 juta BLT dialokasikan sebesar 25 persen. Desa dengan anggaran Rp. 800 juta hingga Rp1,2 miliar mengalokasikan BLT sebesar 30 persen.

    Sementara desa dengan anggaran diatas Rp1,2 miliar BLT mengalokasikan 35 persen. Dana desa akan fokus ke tiga hal yaitu Penanganan virus corona, Program Padat Karya Tunai Desa dan BLT. BLT Dana desa tersalurkan sesuai peruntukkannya adalah menjadi harapan besar.

    Di lapangan banyak kesimpang siuran dan ketidakjelasan siapa penerima BLT. Banyak pengaduan tapi sudah terlambat. Uang sudah terlanjur diacairkan dan kupon penerima sudah tersebar.

    Jombang merupakan kabupaten kedua setelah Madiun yang menerima BLT DD. Alokasi Dana Desa Jawa Timur tahun 2020 sendiri untuk penanganan Covid-19 semula sebesar Rp 7,654 triliun berkurang menjadi Rp 7,570 triliun. Potensi maksimal unt BLT DD bisa mencapai Rp 2,285 triliun untuk 1.265.845 keluarga miskin dan terdampak Covid-19 di 7.724 Desa. Penyerahan BLT DD kepada 224 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari 2 desa, yaitu Desa Bawangan dan Desa Kebonangung, Kecamatan Ploso. (Tribun 27/04/2020).

    Akan tetapi Jombang pada realitanya pada perkembangan corona tiap hari terus meningkat. Pada hari raya idul fitri ini, saya rasa tidak salah jika kita memaafkan corona dari hati yang palingdalam. Maafkan corona ya…..

    Memaafkan Corona

    Memaafkan atau meminta maaf dalam istilah ilmiahnya adalah forgiviness telah di teliti banyak pakar psikologi sosial seperti McCullough dkk., Enright, Ulrirch. Forgiviness menarik diteliti karena, memaafkan sering diasumsikan memiliki efek intrapersonal positif pada penyesuaian psikologis individu yang memaafkan dan banyak manfaat untuk kesehatan untuk persoanal yang minta maaf.

    Baca juga :  Kurban, Pembersihan, dan Kebersamaan

    Seperti yang terungkap dalam penelitian di University of Massachusetts, yakni memaafkan bisa menurunkan tekanan darah dengan lebih cepat. Efek percepatan itu bisa mencapai 20 persen pada wanita, sementara pada pria efeknya lebih kecil.

    Tekanan darah, denyut jantung dan kontraksi otot biasanya meningkat ketika seseorang terlibat konflik atau tegang, sehingga risiko serangan jantung dan stroke menjadi lebih tinggi dan imun seseorang akan menurun.

    Gejala tersebut akan mereda ketika konflik berakhir, atau akan lebih cepat jika kedua pihak yang berkonflik saling bermaafan. Menurut sebuah penelitian di University of Valencia, permintaan maaf lebih efektif jika disampaikan melalui telinga kanan.

    Karena sensor pendengaran di sebelah kanan terhubung dengan belahan otak kiri, bagian yang berhubungan dengan logika, hal itu akan menyebabkan permintaan maaf ditangkap dan diproses dengan lebih rasional. (detik.healt 10/09/2010).

    Dikutip dari Mayo Clinic, Jumat (10/9/2010), memaafkan adalah sebuah proses perdamaian dengan diri sendiri. Diawali dengan pengakuan akan adanya rasa sakit, seseorang yang memberi maaf justru akan merasa lebih rileks untuk menerima kondisinya.

    Definisi lain dari “forgiveness” adalah sebagai satu set perubahan-perubahan motivasi dimana suatu organisme menjadi (a) semakin menurun motivasi untuk membalas terhadap suatu hubungan mitra; (b) semakin menurun motivasi untuk menghindari pelaku; dan (c) semakin termotivasi oleh niat baik, dan keinginan untuk berdamai dengan pelanggar, meskipun pelanggaran termasuk tindakan berbahaya (McCullough, tanpa tahun).

    Dalam Al-Quran, ayat minta maaf hampir tidak di temakan tapi ANJURAN meminta maaf banyak ditemukan seperti pada ayat: Q.S Al-Baqarah: 109, Q.S Ali Imran: 133-134 , Q.S Ali Imran: 159 dan lain sebagainya. Sumber permintaan maaf adalah kesadaran hati dan jiwa. Dalam islam ada yang disebut trikotomi manusia, yakni hati, akal dan shudur (dada).

    Hati (qalb) berarti bolak-balik, yang mengisyaratkan bahwa hati mudah terpengaruh. Karena itu hati dapat dipengaruhi baik oleh jiwa maupun roh, dengan segala konsekuensinya.

    Ketika hati mendapat pengaruh dari roh, dia akan tercerahkan karena roh berasal dari Tuhan yang Esa dan menjadi prinsip kesatuan, roh akan membimbingnya kepada tauhid. Jika sudah begitu, maka hati akan menjadi jiwa rasional (al nafs al nathiqiyyah), atau dengan kata lain jiwa menjadi akal.

    Tapi ketika hati mendapat pengaruh dari jiwa, maka ia akan terkuburkan dengan jiwa yang bersentuhan dengan materi yang merupakan sumber keanekaan, maka hati akan terpecah jauh dari ketauhidan, bisa jadi hati manusia akan menyekutukan Tuhan, karena pemujaannya kepada selain diri-Nya, sehingga dia akan menodai keikhlasan dan ketauhidannya. Jiwa yang seperti ini yang disebut dalam Al Qur’an sebagai shudur (dada), tempat setan membisik-bisikkan rayuannya (Kartanegara dalam D.Septeria 2012).

    Cara memaafkan corona

    Konsep memafkan yang akan saya kemukakan mungkin tidak umum bagi pembaca, konsep ini bersumber pada paduan konsep kepondokan, kethoriqohan dan keilmuwan yaitu konsep ajaran trisula Universitas Darul ‘Ulum Jombang.

    Baca juga :  Kurban, Pembersihan, dan Kebersamaan

    Memaafkan corona dan siapapun itu mahluk Allah setidaknya dapat melakukan 5 hal yaitu dengan mlekaukan konsep taat, konsep tekun, konsep sabar dan konsep ikhlas.

    1. Konsep taat

    Taat pada umumnya di artikan sebagai sendiko dawuh, manut, nurut, sam’an wa thoatan pada dawuh, omongan, yang menjadi aturan atau yang jadi aturan oleh guru atau pemerintah.

    Dalam hal pandemi corona atau Covid-19 telah dikeluarkan aturan-aturan baik dalam bentuk peraturan presiden (perpres), peraturan pemerintah (PP) hingga keputusan presiden (keppres).

    Berikut sejumlah aturan yang diterbitkan pemerintahan Jokowi untuk menangani virus Corona di

    Tanah Air :

    1) Keppres Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19

    2) Perpres Nomor 52 tahun 2020 tentang Pembangunan Fasilitas Observasi dan Penampungan dalam Penanggulangan COVID-19 atau Penyakit Infeksi Emerging di Pulau Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

    3) Inpres Nomor 4 tahun 2020 tentang Refocussing Kegiatan, Realokasi Anggaran, serta Pengadaan Barang dan Jasa Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19

    4) PP Nomor 21 tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19, aturan mengenai PSBB kemudian dijelaskan lebih rinci melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 tahun 2020 tentang Pedoman

    PSBB.

    5) Keppres Nomor 11 tahun 2020 tentang Penetapan Status Kedaruratan Kesehatan Masyarakat

    6) Perppu Nomor 1 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Covid-19. Melalui peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) ini, Jokowi mengumumkan tambahan anggaran penanganan Virus Crona Rp 405,1 triliun. Dengan rincian, sebesar Rp 75 triliun untuk bidang kesehatan, Rp 110 triliun untuk social safety net atau jaring pengaman sosial.

    Kemudian Rp 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR. Serta Rp 150 triliun dialokasikan untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional.

    Terkait social safety net, pemerintah menyiapkan PKH 10 juta KPM yang dibayarkan bulanan mulai April. Ada juga kartu sembako, yang penerimanya dinaikkan menjadi 20 juta dengan manfaat naik Rp 200 ribu selama 9 bulan.

    Selain itu, dana Kartu Prakerja dinaikkan menjadi Rp 20 triliun untuk bisa meng-cover sekitar 5,6 juta pekerja informal, pelaku usaha mikro dan kecil. Penerima manfaat mendapat insentif pasca pelatihan Rp 600 ribu, dengan biaya pelatihan Rp 1 juta.

    Selanjutnya, pembebasan biaya listrik 3 bulan untuk 24 juta pelanggan listrik 450VA, dan diskon 50 persen untuk 7 juta pelanggan 900VA bersubsidi. Terdapat juga tambahan insentif perumahan bagi pembangunan perumahan MBR hingga 175 ribu dan dukungan logistik sembako dan kebutuhan pokok Rp 25 triliun.

    1. Konsep Tekun

    Tekun merupakan wujud semangat untuk tetap menjalankan sesuatu dengan sungguh-sungguh,

    dan terus menerus (istiqomah) dalam bahasa jawa prigel, ulet, temenan, anak jaman now sering berdalil dengan manjadda wajada (siapa giat pasti dapat).

    Tekun dalam memafkan corona tidak hanya butuh taat pada peraturan tapi tekun menjalankan peraturan. Sebagaimana yang disampaikan oleh jubir kesehatan pemerintah dalam compas.com(18/05/2020)

    (1) Jaga kebersihan tangan. Bersihkan tangan dengan cairan pencuci tangan atau hand sanitizer, apabila permukaan tangan tidak terlihat kotor. Namun, apabila tangan kotor maka bersihkan menggunakan sabun dan air mengalir.

    Baca juga :  Kurban, Pembersihan, dan Kebersamaan

    (2) Jangan menyentuh wajah.

    Dalam kondisi tangan yang belum bersih, sebisa mungkin hindari menyentuh area wajah, khususnya mata, hidung, dan mulut. Mengapa? Tangan kita bisa jadi terdapat virus yang didapatkan dari aktivitas yang kita lakukan, jika tangan kotor ini digunakan untuk menyentuh wajah, khususnya di bagian yang sudah disebutkan sebelumnya, maka virus dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh.

    (3) Terapkan etika batuk dan bersin.

    Ketika kita batuk atau bersin, tubuh akan mengeluarkan virus dari dalam tubuh. Jika virus itu mengenai dan terpapar ke orang lain, maka orang lain bisa terinfeksi virus yang berasal dari tubuh kita.

    (4) Pakai Masker

    Bagi Anda yang memiliki gejala gangguan pernapasan, kenakanlah masker medis ke mana pun saat Anda keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain.

    (5) Jaga jarak

    Untuk menghindari terjadinya paparan virus dari orang ke orang lain, kita harus senantiasa menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter.

    (6) Isolasi mandiri

    Bagi Anda yang merasa tidak sehat, seperti mengalami demam, batuk/pilek/nyeri tenggorokan/sesak napas, diminta untuk secara sadar dan sukarela melakukan isolasi mandiri di dalam rumah.

    (7) Jaga kesehatan

    Selama berada di dalam rumah atau berkegiatan di luar rumah, pastikan kesehatan fisik tetap terjaga dengan berjemur sinar matahari pagi selama beberapa menit, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan melakukan olahraga ringan. Istirahat yang cukup juga sangat dibutuhkan dalam upaya menjaga kesehatan selama masa pandemi ini.

    1. Konsep Jujur

    Jujur adalah ungkapan perasaan sesungguhnya dari dalam trikotomi manusia, yakni hati, akal dan shudur (dada, bila salah satunya tidak terpenuhi maka namaya munafik atau membohongi diri sendiri).

    Memaafkan corona diperlukan kejujaran karna jujur bukan untuk diri sendiri saja tapi jujur lebih banyak melibatkan penilaian dari orang lain. Jujur menyebabkan akibat sosial. Kejujuran untuk menjalankan peraturan pencegahan pandemi sangat diperlukan. Agar kesahatan diri dan dan kesehatan masyarakat terjaga. Sehat secara harfiah dan sehat secara imharfiah.

    Sehat secara harfiah seperti badan kita sehat, jiwa kita sehat dan finansial kita sehat. Secara imharfiah; hubungan sosial kita sehat, arah politik kita sehat, sehingga tidak ada korupsi dari sebab covid-19, tidak ada pemberian bantuan sepihak dari partai politik dan tidak ada pengambilan keuntungan dari sebab pandemi corona-19 secara tidak bertanggugungjawab (seperti belanja alat cuci tangan yg tidak dapat dipertanggungjawabkan keberadaannya).

    1. Konsep Sabar

    Sabar merupakan kata umum yang sudah diimengerti oleh masyarakat dan merupakan rangkaian dari laku taat, tekun dan jujur.

    Terhadap corona kita seharusnya sabar memaafkan dengan berprilaku sabar (menunggu waktunya) untuk dia pergi dan hilang. Sabar melibatkan banyak hal ; kekuatan psikologi untuk menunggu waktu corona pergi atau kita “pergikan” dengan cara menjalankan 3 konsep di atas.

    Sabar merupakan titik balik keberhasilan atau kegagalan kita dalam menjalankan visi dan misi memaafkan corona. Sabarlah semua ada waktunya ….

    1. Konsep Ikhlas

    Konsep ini adalah puncaknya memaafkan corona. Ikhlas adalah kosong, tidak punya arti. Rasa dalam trikotomi manusia yang sudah tidak punya ingin dan keinginan. Pokoe ngelakoni tanpa sebab tanpa tujuan selain menjalankan perintah sang maha penyembuh, sanga maha tabib, sang maha dokter. (*)

     

    Penulis : Khoiruddin Anas

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan