Menghadirkan  Keteladanan Muhammad  Dalam Kehidupan Berbangsa

Oleh: Nur Khalis - Pengurus Partai Golkar Provinsi Jawa Timur

Menghadirkan  Keteladanan Muhammad  Dalam Kehidupan Berbangsa
Nur Khalis

Hal ini dibuktikan  ketika melakukan Fathu Mekah ( penaklukan  Mekah). Ditengah pasukannya yang  begitu  geram dan dendam  atas masa lalu yang  menyakitkan, nabi berdiri tegak mengingatkan pengikut dan pasukannya dengan suara lantang Hazha Yaumul marhamah la yaumul malhamah ( ini hari menebar kasih sayang bukan hari untuk melakukan peperangan dan pertumpahan darah. Inilah sebuah revolusi terbesar yang dibangun diatas kearifan, kebijaksanaan yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diakui dunia.

Maulid Nabi adalah momentum untuk menghadirkan memori kolektif kita akan perjuangan Nabi Muhammad menginstusionalisasikan akhlak mulia dengan menjalankan perintah iqro’dan ajaran Islam rahmatan lilalamin.  Akhlak Nabi  Muhammad dalam  membangun masyarakat madani relevan  untuk diaktualisasikan dalam konteks  ke-Indonesiaan. Kepemimpinan Nabi Muhammad di Madinah selalu mengedepankan keadilan, toleransi, persaudaraan, musyawarah, tanggung jawab, kejujuran dan kemaslahatan umat. Orientasi yang didahulukan tersebut selalu berlandaskan  budi pekerti/akhlak dalam membangun kemajuan madinah.  Idealitas kehidupan berbangsa dan bernegara yang beradab akan lahir bila ada proses keadaban  dalam kehidupan.

Nilai keteladanan Nabi Muhammad harus mampu  dihadirkan dalam  kehidupan berkebangsaan  yang berakhlak, toleran,  jauh dari  arogansi, kebohongan  publik, fanatisme, primordialisme dan tidak manipulative serta memanusiakan manusia.

Empat nilai prinsip keteladanan Nabi Muhammad yang telah membonsai dan menghiasi dirinya baik sebelum dan setelah diangkat menjadi rasul yang perlu kita teladani dan menjadi  rujukan kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah selalu menjaga integritas ( kejujuran ) ketekunan dan keteguhannya menjalankan tanggung jawab (amanah), kecakapannya membawa pesan-pesan universalisme Islam ( fatonah ) dan menghantarkan diri Nabi Muhammad sebagai Insan paripurna (insan kamil)  dengan Islam transformatifnya ( Tabligh ). Disinilah keistimewaan seorang  manusia bernama Muhammad. Ajaran yang dibawanya plus keteladanan etis yang diwariskannya merupakan kontribusi penting bagi keberlangsungan peradaban semesta.

Melalui refleksi maulid  nabi, semoga  menjadi  perantara, dalam mencintai dan menghadirkan keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam idealitas kehidupan berbangsa dan bernegara serta mengingatkan kembali posisi kita sebagai kholifah di Muka Bumi. Shollallahu alaika ya Rosulallah. (*)