Adapun kinerja impor selama bulan Juli 2019 tercatat sebesar USD 15,5 miliar, atau turun 15,2 persen dibanding Juli 2018 (YoY), namun meningkat 35,0 persen dibanding Juni 2019 (MoM).
Secara kumulatif, selama Januari—Juli 2019, total impor Indonesia mencapai USD 97,7 miliar, atau mengalami penurunan 9,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 107,3 miliar.
“Penurunan impor Januari—Juli 2019 dipicu permintaan impor migas yang turun sebesar 24,4 persen dan nonmigas turun 6,2 persen,” tegas Mendag.
Penurunan impor periode Januari—Juli 2019 tersebut disebabkan oleh menurunnya permintaan impor seluruh golongan barang. Impor barang konsumsi turun sebesar 10,2 persen, impor bahan baku/penolong turun 9,5 persen, dan impor barang modal turun 5,7 persen. Barang konsumsi yang impornya mengalami penurunan signifikan, antara lain bahan bakar dan pelumas olahan (31,7 persen), makanan dan minuman olahan (24,8 persen), serta alat angkutan bukan untuk industri (21,1 persen).
Sementara itu, neraca perdagangan bulan Juli 2019 tercatat masih mengalami defisit sebesar USD 63,5 juta yang disebabkan defisit neraca perdagangan migas. Perdagangan nonmigas tercatat sebesar USD 78,9 juta, sedangkan neraca perdagangan migas tercatat sebesar USD 142,4 juta.
Lebih lanjut, Mendag menjelaskan, negara-negara mitra dagang seperti China, Thailand, Jepang, Italia, dan Australia menyebabkan defisit nonmigas terbesar pada bulan Juli 2019 dengan jumlah mencapai USD 2,72 miliar. Sementara Amerika Serikat, India, Filipina, Belanda, dan Malaysia menjadi negara mitra yang menyumbang surplus nonmigas terbesar pada Juli 2019 dengan jumlah mencapai USD 2,38 miliar.
“Secara kumulatif, defisit selama Januari—Juli 2019 masih cukup besar yakni mencapai USD 1,9 miliar. Defisit tersebut disebabkan besarnya defisit pada neraca perdagangan migas yang mencapai USD 4,9 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan nonmigas menyumbang surplus sebesar USD 3,0 miliar,” kata Mendag. (wt)





