Menurutnya, proses ini dianggap lebih cepat dan efektif. Selain itu, cara ini dilakukan untuk meminimalis pengeluaran belanja. “Ini yang membuat kami kenapa cepat dan tepat karena hitungannya itu menjadi terkontrol dan transparan, “ kata dia.
Tidak hanya itu, melalui sistem ini, Pemkot Surabaya juga bisa menekan anggaran supaya lebih hemat. Ia mencontohkan tahun ini rencana pemerintah kota (pemkot) hanya dapat membeli sekitar lima rumah pompa. Namun ternyata, pemkot berhasil membeli sembilan rumah pompa dalam setahun. “Itu bisa dilakukan karena ini sisa tender yang terus saya pantau sendiri, sehingga sangat lumayan sisanya digunakan untuk pengadaan yang lain. Tahun ini kami bisa membeli sembilan rumah pompa,” imbuhnya.
Sementara itu, Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia, Azyumardi Azra, mengungkapkan pengalaman yang disampaikan Wali Kota Risma ini dapat menciptakan perubahan besar dalam sistem pemerintahan, birokrasi maupun bermasyarakat. Makanya, dia menganjurkan kepala daerah lainnya di Indonesia dianjurkan untuk belajar ke Wali Kota Risma.
“Saya kira kepala daerah harus memiliki ketangguhan seperti Bu Risma yang memiliki keberanian. Jadi, kisah sukses seperti ini bisa ditiru oleh kepala daerah yang lain,” tegasnya.
Ia juga menilai, berbagai perubahan terjadi di Kota Surabaya sejak kepemimpinan Wali Kota Risma. Bahkan, ia menyebutkan yang paling dikagumi dari perubahan pesat ini ialah lingkungan hidupnya.“Bu Risma berhasil menurunkan suhu udara, dan kita bisa lihat bersama lingkungan hidupnya. Surabaya jadi hijau dan bersih,” ujarnya.
Azyumardi juga menambahkan, pelayanan terhadap masyarakat juga berubah drastis menjadi lebih baik. Termasuk pula dalam bidang pendidikan, kesejahteraan sosial maupun kesehatan. “Sampai pada jenis ambulance pun punya beberapa jenis sesuai kebutuhannya,” ujarnya (wt)





