Jurnalisme Profetik dan Misi Suci Firdaus

Jurnalisme Profetik dan Misi Suci Firdaus

Sekadar menyegarkan ingatan, istilah jurnalisme profetik atau wartawan profetik di Indonesia terasa lebih menggema ketika wartawan senior Parni Hadi yang juga mantan Sekretaris Jenderal PWI Pusat itu meluncurkan buku berjudul Jurnalisme Profetik pada Maret 2014. Buku tersebut merupakan hasil pergulatan pemikiran dan perenungan Parni Hadi sejak ia menapaki karier jurnalistik awal 1973 hingga kini (Republika.co.id, Senin, Maret 2014).

Parni Hadi yang pernah memimpin Republika, Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara dan Radio Republik Indonesia (RRI) serta terlibat dalam beberapa organisasi pers di dalam dan luar negeri itu, merasa didera pertanyaan “untuk apa semua karier jurnalistiknya” itu.

Dia juga berusaha mencari makna atas profesi yang digelutinya secara intens sejak 1973. Dengan berbagai pengalaman naik dan turun, akhirnya Pak Parni Hadi menemukan jawaban ini: “Menjadi wartawan sebagai ibadah”.

Kata profetik berasal dari bahasa Inggris prophetic. Artinya adalah kenabian. Karena itu, jurnalisme profetik adalah jurnalisme kenabian. Maksudnya,  jurnalisme yang meneladani akhlak dan perilaku mulia para nabi dan rasul dari semua agama.

Tugas para nabi dan rasul, menurut Alquran, adalah untuk: “menyampaikan kabar dan memberi peringatan”, mengajak orang berbuat kebaikan dan memerangi kebatilan atau amar makruf nahi munkar.

Tugas itu sama dengan apa yang diemban para wartawan, menurut fungsi pers dan kode etik jurnalistik yang bersifat universal. Dengan demikian, menurut Parni Hadi, pada dasarnya para wartawan adalah pewaris dan penerus tugas kenabian.

Kurang lebih seperti itu pulalah yang akan diwujudkan oleh Firdaus melalui Journalism Boarding School (JBS) yang beliau dirikan dengan fasilitas gedung, tempat tinggal peserta, dan peralatan yang relevan. Para peserta didik –saat ini rata-rata berusia muda—digembleng untuk menjadi wartawan profetik yang bukan saja harus mahir menulis, tetapi yang juga lebih penting adalah memiliki karakter yang baik, jujur, disiplin, dan taat beribadah.

Dengan “ponpes wartawan” ini, Firdaus ingin melahirkan para wartawan sekaligus juru dakwah yang unggul seperti halnya beberapa pendiri bangsa Indonesia yang memiliki latar belakang sebagai wartawan, penulis, dan negarawan yang berbobot dan sangat idealis.

Semoga Allah Swt, Tuhan Yang Mahakuasa, meridloi nya serta menganugerahi kemudahan, kelancaran, dan keberkahan. Amiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

(Penulis adalah anggota tim asesor UKW PWI Pusat dan mantan Pemimpin Redaksi II Harian Pikiran Rakyat)