Sidoarjo – Haul mBadung (Kiai Abdurrahman) pengasuh Pengajian Musholla Welit (bambu) Alsun Pucang, Sidoarjo, selain dihadiri alumni juga sejumlah tokoh agama maupun tokoh masyarakat, Ahad 9 Desember 2018, berlangsung hormat.
Sekitar 200 santri, alumni dan tokoh agama juga tokoh masyarakat, khusu’ melantunkan surat Yasin dan membaca Tahlil, untuk mengirimkan doa kepada mDung dan seluruh ahli kubur keluarga besar mDung maupun ahli kubur keluarga para santri.
“Pengajian Musholla Welit (bambu) Alsun mulai sekitar tahun 60-an dengan santri dari sekitar Kelurahan Pucang, kemudian menyebar sampai hampir ke seluruh kabupaten Sidoarjo, dari Candi, Tanggulangin, Buduran, Gedangan, dan alhamdulillah dalam perkembangannya, salah satu santrinya sudah berhasil meraih gelar profesor,” kata KH Mohammad Naser Abdurrahman, Direktur Madrasah Alsun, Ahad (9/12).
mDung, kata Naser, memulai mengasuh pengajian dengan mengajar Ngaji Al Qur’an, nahwu dan Shorof dengan tasripan, sampai tahun 80 an. Pada waktu pertama kali mendirikan Musholla masih banyak pohon bambu dan agak suram ( banyak penghuni makhluk ghoib ), Musholla nya sendiri terbuat dari bambu, kemudian sekitar tahun 70 an direhab menjadi Musholla Alsun sampai seperti sekarang ini, sudah berdinding batu merah.
Menurut Naser, pada tahun 1989 pengajian di Musholla Alsun, dipindah ke depan ( rumah bagian depan ) dengan nama Madrasah Alsun, “Perkembangan dari sejak Musholla Alsun sampai Madrasah Alsun, melahirkan santri-santri, yang insyaAllah ilmunya bermanfaat, bahkan selain melahirkan profesir juga banyak melahirkan calon doktor serta doktor, juga ustad dan kiai,” tandasnya.
Alhamdulillah, lanjut Naser, beberapa alumni yang profesor seperti Muzakki (Profesor Dr Ahmad Muzakki, Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Sunan Ampel Surabaya/FEBI UINSA) dan Dr. H. Mohammad Thohir yang juga dosen UINSA , sepakat mendirikan Yayasan Pendidikan Madrisatul Alsun.





