Kemenag Jatim Bahas Transformasi Pesantren di IBS PKMKK

Kemenag Jatim Bahas Transformasi Pesantren di IBS PKMKK

Surabaya, Wartatransparansi.com – Kunjungan Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar, ke Yayasan Kyai Mudrikah Kembang Kuning yang mengelola PP. Kyai Mudrikah Kembang Kuning beserta unit pendidikan formalnya, yang kini dikenal sebagai IBS PKMKK, menjadi momentum reflektif tentang arah baru pengembangan lembaga pendidikan Islam di era krisis ekologis dan transformasi ekonomi global.

Kunjungan tersebut bernuansa non formal, tetapi berkembang menjadi ruang dialog intelektual yang membahas masa depan pesantren sebagai pusat pembaruan sosial, spiritual, sekaligus ekonomi masyarakat.

Dalam diskusi komprehensif yang berlangsung, muncul kesadaran bersama bahwa pesantren tidak lagi cukup dipahami sebagai lembaga transmisi ilmu agama semata. Pesantren kini dihadapkan pada tantangan zaman yang menuntut keterlibatan aktif dalam persoalan lingkungan, ekonomi, dan keberlanjutan sosial. Kesadaran ini melahirkan gagasan integratif tentang eco-teologi dan ekonomi sirkular berbasis pesantren dengan pendekatan PAR-ABCD (Participatory Action Research – Asset Based Community Development).

Pembaruan ini menandai pergeseran paradigma peran pesantren dari institusi pendidikan tradisional menuju agen transformasi sosial. Pesantren sejak awal sebenarnya memiliki karakter komunitarian yang kuat, hidup kolektif, kesederhanaan, kemandirian, serta solidaritas sosial. Nilai-nilai ini secara inheren selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan ekonomi berbasis komunitas. Dengan demikian, gagasan eco-teologi dan ekonomi sirkular bukanlah sesuatu yang asing bagi pesantren, melainkan artikulasi baru dari nilai lama dalam bahasa zaman modern.

Eco-teologi dalam konteks pesantren berangkat dari kesadaran spiritual bahwa manusia adalah khalifah di bumi. Alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan amanah ilahi yang harus dijaga.

Kesadaran ini menggeser orientasi pembangunan dari eksploitasi menuju pemeliharaan. Pesantren, dengan tradisi kesederhanaannya, memiliki potensi besar menjadi model kehidupan ekologis, pengelolaan sampah, konservasi air, energi terbarukan, hingga pertanian berkelanjutan.

Ketika nilai-nilai spiritual diterjemahkan ke dalam praktik ekologis, agama tidak lagi berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi etika kehidupan.

Eco-teologi menciptakan transformasi kesadaran kolektif. Santri tidak hanya dididik menjadi individu yang saleh secara ritual, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis. Kesadaran ini membentuk identitas baru, santri sebagai penjaga bumi. Identitas ini penting karena perubahan perilaku ekologis tidak cukup dengan pengetahuan, tetapi membutuhkan pembentukan kesadaran dan makna.

Sementara itu, ekonomi sirkular berbasis pesantren menghadirkan paradigma baru dalam kemandirian lembaga. Ekonomi sirkular menekankan pada siklus penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, produksi, konsumsi, daur ulang, dan regenerasi.

Pesantren memiliki potensi besar dalam hal ini karena memiliki komunitas internal yang stabil dan sistem kehidupan yang relatif mandiri. Produksi pangan, pengelolaan limbah, kewirausahaan santri, hingga pengembangan UMKM berbasis pesantren dapat menjadi ekosistem ekonomi yang berputar dalam satu lingkaran keberlanjutan.

Pendekatan PAR-ABCD memberikan kerangka metodologis yang sangat relevan. PAR menekankan partisipasi aktif komunitas dalam penelitian dan tindakan, sementara ABCD berfokus pada pengembangan berbasis aset yang sudah dimiliki masyarakat.

Dalam konteks pesantren, pendekatan ini berarti pengembangan tidak dimulai dari kekurangan, tetapi dari potensi santri, alumni, jaringan ulama, lahan, tradisi gotong royong, dan kepercayaan masyarakat.

Pendekatan ini memiliki dimensi psikologis yang mendalam. Ketika komunitas diberdayakan berdasarkan asetnya, muncul rasa percaya diri kolektif. Pesantren tidak lagi merasa sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek perubahan. Rasa kepemilikan terhadap program pembangunan menjadi lebih kuat, sehingga keberlanjutan program lebih terjamin.

Dialog tentang eco-teologi dan ekonomi sirkular juga memperlihatkan bahwa pesantren dapat menjadi laboratorium sosial bagi model pembangunan berkelanjutan.

Di tengah krisis iklim dan ketidakstabilan ekonomi global, pesantren dapat menawarkan alternatif berbasis nilai kesederhanaan, keberlanjutan, solidaritas, dan spiritualitas. Model ini bukan hanya relevan bagi komunitas pesantren, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Pertemuan ini menegaskan bahwa pembaruan tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Justru, pembaruan yang autentik lahir dari kemampuan membaca kembali tradisi dalam konteks zaman.

Pesantren memiliki kekayaan nilai yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa pembangunan modern. Eco-teologi dan ekonomi sirkular hanyalah dua contoh bagaimana nilai lama menemukan bentuk baru.

Kunjungan Kepala KanKemenag Jatim Dr. KH. Akhmad Sruji Bahtiar ke IBS PKMKK ini, dapat dipahami sebagai titik temu antara tradisi dan inovasi. Negara, pesantren, dan masyarakat bertemu dalam satu visi, yakni membangun masa depan pendidikan Islam yang berkelanjutan, mandiri, dan relevan dengan tantangan zaman

Dalam pertemuan tersebut, tampak bahwa pesantren tidak hanya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga menyiapkan masa depan, sebuah masa depan di mana spiritualitas, ekologi, dan ekonomi berjalan dalam satu harmoni kehidupan. (*)

Penulis: Djoko Tetuko