KEDIRI (WartaTransparansi.com) – Suasana hening menyelimuti Gate (Gerbang .red) 13 Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang. Para pemain Persik Kediri menundukkan kepala, menyembunyikan kesedihan mereka, mengenang ratusan nyawa yang hilang dalam tragedi sepak bola terkelam di Indonesia. Di sana, doa dipanjatkan, bunga ditaburkan, dan karangan bunga diletakkan, sebuah simbol empati yang sunyi namun mendalam.
Skuad Macan Putih julukan Persik Kediri mengadakan ritual doa bersama setelah sesi latihan resmi sebelum pertandingan berat mereka melawan Arema FC di Pekan ke-17 Liga Super Indonesia. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada teriakan. Hanya keheningan dan kesadaran bahwa sepak bola telah meninggalkan luka yang dalam di stadion ini. Pelatih Persik Kediri, Marcos Reina, menggambarkan tragedi Kanjuruhan sebagai peristiwa yang menyebabkan kesedihan mendalam, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi seluruh penggemar sepak bola.
“Tragedi yang terjadi di sini, merupakan sebuah kisah sedih,” tuturnya, Sabtu, 10 Desember 2026.
Pelatih asal Spanyol itu menekankan bahwa kehadiran timnya di pintu gerbang nomor 13 bukan hanya simbolis. Doa dan bunga itu adalah bentuk penghormatan, dan pengingat bahwa sepak bola seharusnya tidak merenggut nyawa siapa pun.





