Eri juga menjelaskan tentang perbedaan bangunan rusunami dengan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa). Bangunan rusunami dibangun oleh swasta dan bisa dibeli, sedangkan rusunawa yang membangun adalah pemkot namun dengan sistem sewa.
“Setelah membeli dan yang merawat kan mereka (pemilik unit), kemudian bagaimana nanti mereka bersama menjaga dan merawat liftnya, di apartemen kan juga sama. Nah, kalau rusunawa kan yang membangun pemkot, yang menempati warga, yang memperbaiki pemkot,” jelasnya.
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu mengungkapkan alasannya menyasar Gen Z, karena populasi generasi tersebut sudah sangat tinggi di Kota Surabaya. Bahkan, ia memprediksi populasi Gen Z di tahun 2029 bisa mencapai 80 persen.
Tidak hanya itu, alasan lain ia menyasar Gen Z adalah untuk mengubah taraf hidup warga miskin Kota Surabaya.
“Ketika yang hari ini ada (Gen Z) yang orang tuanya tinggal di rusunawa dan tidak bisa memiliki rumah, maka kami siapkan anak-anaknya yang kami kuliahkan sehingga bisa bekerja, mengubah nasib orang tuanya dan harapan kami bisa membeli rusunami ini. Sehingga mereka bisa mengubah kehidupannya,” harapnya.
Menurut Eri, ada beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi untuk bisa membeli rusunami itu nantinya. Yakni, warga Kota Surabaya dan Gen Z yang berasal dari keluarga miskin.
“Karena nanti kita cek, dia termasuk warga kurang mampu atau tidak. Kemudian apakah dia termasuk Gen Z yang baru menikah dan memiliki rumah atau tidak? Jadi sejauh itu nanti yang akan kita lakukan,” ulasnya. (*)





